Categories
Review

The Life-Changing Magic of Tidying Up: Berbenah Cara KonMari

Bagaimana cara berbenah yang super efektif? Bagaimana dengan berbenah hidup seseorang bisa berubah? Buku ini menjawab 2 pertanyaan tersebut secara tuntas.

Bagaimana cara berbenah yang super efektif? Bagaimana dengan berbenah hidup seseorang bisa berubah? Buku ini menjawab 2 pertanyaan tersebut secara tuntas.

Saat melihat versi terjemahan bahasa Indonesia buku ini terpajang di rak toko buku yang sedang saya kunjungi, saya membayangkan diri saya berlari ke meja informasi, merebut meminjam mikrofon, dan berseru:

Wahai, para pengunjung toko buku, mohon perhatian….. Mohon perhatian!

Para pengunjung lantas menghentikan aktivitasnya, terdiam, memasang telinga, penasaran pengumuman apa yang akan disampaikan.

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing karya Marie Kondo.. kini telah hadir dalam bahasa Indonesia dengan judul The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang!

Kali ini mereka benar-benar menyimak dan menanti kalimat selanjutnya. Suasana menjadi sunyi, angin bertiup perlahan, gulungan jerami menggelinding.

Dan buku itu.. kini tersedia di rak sebelah sana!

Seketika mereka pun berebut ke rak toko buku yang sebenarnya dari tadi juga sudah ada di sana, menuju rak yang kini bersinar-sinar kehijauan.

Adegan yang absurd layaknya film kartun. Well, seperti saya bilang tadi ini hanyalah imajinasi belaka. Kenyataannya…… saya hanya sekadar tersenyum dengan mata berbinar, bilang wow dalam hati, mengambil salah satu buku yang dipajang. Kemudian mengambil satu lagi.. dan mengambil satu lagi. Saya membeli tiga buah buku itu meski sebenarnya sudah punya versi bahasa Inggrisnya di Google Play Books.

Wait, kalau memang sudah punya bukunya di Google Play Books kenapa saya segitu senangnya ketemu terjemahan buku ini sampai membeli 3 copy?

Jawabannya, saya senang karena 3 hal:

  1. Dengan tersedianya buku ini di toko buku Indonesia maka orang Indonesia akan lebih mudah membelinya daripada ketika buku ini hanya tersedia di Google Play Books.
  2. Dengan diterjemahkannya buku ini ke bahasa Indonesia maka lebih banyak orang Indonesia yang bisa membacanya.
  3. Seperti buku-buku terjemahan pada umumnya, edisi terjemahannya akan lebih murah daripada edisi aslinya. Edisi bahasa Inggris yang saya beli di Google Play Books harganya hampir 3 kali lipat daripada edisi terjemahan yang saya beli di toko buku.

Benang merah dari ketiga alasan tersebut? Saya senang orang lain bisa memperoleh dan membaca buku ini. Faktanya, dari 3 buku yang saya beli tadi, 1 buku saya simpan untuk saya pribadi, sedangkan 2 lainnya saya hadiahkan ke orang-orang terdekat. Saya senang bisa berbagi buku itu dan itulah alasan mengapa saya menulis review buku ini, karena saya ingin:

  1. Orang yang belum tahu buku ini menjadi tahu.
  2. Orang yang ragu untuk membelinya menjadi yakin.
  3. Orang yang belum berminat membacanya menjadi penasaran membacanya.

Selain itu melalui review ini saya ingin mendudukkan buku ini pada tempatnya secara proporsional, karena berdasarkan pengamatan saya tidak semua hal yang disampaikan buku ini akan cocok diterapkan oleh semua orang. Karena itu di review ini saya menyiapkan bagian khusus membahas catatan saya terhadap buku ini agar pembaca bisa memperoleh manfaat yang optimal dari buku tersebut.

Nah, sebenarnya ada apa dengan buku ini sehingga saya menganggapnya sebagai salah satu penghuni lemari buku saya yang paling berharga dan sebagai buku yang layak dibaca banyak orang? Saya akan mengungkapnya di review, resensi, dan ringkasan buku ini.

1. Fakta Unik Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Review ini tidak akan lengkap tanpamu jika saya tidak menyebut 3 fakta unik — benar-benar unik, Anda harus melihat dan merasakannya sendiri — yang saya temukan di buku ini.

(1) Judulnya bisa bikin salah paham, mengira buku ini hanyalah tentang cara berbenah saja

Tidak sedikit yang mengira buku ini hanyalah buku tentang cara berbenah rumah saja. Sesuai judulnya yang ada kata “of Tidying Up” yang artinya merapikan atau berbenah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berbenah adalah berkemas-kemas; memberes-bereskan; merapikan (perabotan dan sebagainya).

Untuk apa berbenah perlu ada bukunya? Memangnya ada cara memegang sapu atau memeras kain pel yang lebih baik daripada yang selama ini kita lakukan? Nah, setelah membaca buku ini para pembaca akan menemukan ternyata buku ini bukan hanya sekadar mengajari cara berbenah saja, melainkan juga alasan mengapa harus berbenah dan dampak apa yang bisa dialami seseorang yang berbenah. Bahkan, metode berbenah yang diajarkan dalam buku ini bisa jadi merupakan cara berbenah yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh para pembacanya.

Setidaknya saya sendiri sebagai orang yang gemar berbenah, ketika membaca buku ini saya pun tetap bilang wow, ternyata mestinya seperti itu! Tersadar mengapa berbenah yang selama ini saya lakukan tidak efektif, terbukti dari kondisi berantakan yang senantiasa balik lagi balik lagi dengan mudahnya.

(2) Testimoni yang aneh, tidak ada yang bilang setelah berbenah rumah menjadi rapi

Di bab “Pendahuluan” ada testimoni dari para pembacanya, tetapi ternyata tidak satu pun dari testimoni itu yang bilang rumah menjadi rapi. Mari amati testimoni ini dan perhatikan yang saya garis bawahi:

Selepas mengikuti kursus Anda, saya berhenti bekerja dan memulai bisnis sendiri di bidang yang sudah saya cita-citakan sejak kecil.

Kursus Anda mengajarkan kepada saya untuk melihat apa saja yang sungguh saya butuhkan dan apa saja yang tidak saya perlukan. Jadi, saya lantas minta cerai. Sekarang saya merasa jauh lebih bahagia.

Seseorang yang ingin saya hubungi baru-baru ini mengontak saya.

Dengan gembira saya sampaikan bahwa sesudah membereskan apartemen, angka penjualan saya kian meningkat.

Saya dan suami kian rukun saja.

Mencengangkan bahwa membuang ini itu ternyata menimbulkan perubahan besar dalam diri saya.

Berat badan saya akhirnya turun lima kilogram.

Aneh bukan? Dampak berbenah yang dialami bisa beragam, tak ada yang sekadar bilang rumah menjadi rapi melainkan dampak lainnya yang bahkan ada yang sampai divorce atau bercerai. Buku apa ini sebenarnya? Mari lanjut membaca review ini.

(3) Bikin pengin orang lain juga tahu tentang buku ini, membacanya, dan terinspirasi

Seperti saya bilang tadi, saya turut senang — sebagaimana penulis, penerbit, dan penjual buku ini senang — jika lebih banyak lagi orang yang mengakses buku ini. Makanya saya pernah membeli buku ini beberapa copy untuk saya bagikan ke orang-orang terdekat.

Anda mungkin pernah menonton film yang menurut Anda keren, kemudian terlintas pikiran, hey kenapa tidak semua orang menonton film bagus ini sih? Atau mungkin juga pernah menemukan tempat makan yang menyajikan masakan yang sangat enak atau tempat wisata yang sangat mengesankan, lalu Anda ingin mengajak keluarga atau teman Anda mampir ke tempat makan atau tempat wisata tersebut. Itulah rasa ingin berbagi yang alami, yang ada di dalam diri seseorang, ketika menemukan sesuatu yang menarik maka dia ingin memberitahu orang lain tentang hal itu. “Inspirasi” adalah di antara hal yang orang senang untuk membaginya.

Rasa ingin berbagi inspirasi buku inilah yang mendorong Dee Lestari, seorang penulis, dalam blognya dia cerita setelah membaca buku ini dia bergegas pergi ke penerbit buat meminta mereka menerbitkan terjemahannya (sumber: deelestari.com/review-the-life-changing-magic-of-tidying-up). Jika Anda membaca tulisan di blog Dee Lestari tersebut Anda akan menemukan kesan antusiasme yang besar untuk memastikan lebih banyak lagi orang Indonesia membaca buku ini. Upaya tersebut membuahkan hasil, terjemahan buku tersebut kini hadir di sekitar kita.

2. Perubahan yang Saya Alami setelah Berbenah ala Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Nah, sekarang pertanyaan penting: perubahan apa yang sih yang saya alami sehingga meyakinkan diri saya bahwa buku ini layak dibaca banyak orang?

What is exactly the catch?

Seperti terlihat pada testimoni yang saya kutip tadi, perubahan yang terjadi bisa berbeda-beda pada setiap orang karena kebutuhan perubahan setiap orang yang berbeda-beda. Ada yang ingin turun berat badan, ada yang ingin semakin erat hubungan dengan pasangan hidup, ada juga yang ingin berganti karir. Demikian pula dengan kebutuhan perubahan saya, inilah beberapa hal yang saya anggap perubahan dalam diri saya yang mungkin tidak relevan untuk orang lain, tetapi buat saya ini adalah perubahan yang saya butuhkan:

(1) Tidak perlu berbenah sesering dulu

Sejak menerapkan metode berbenah yang diajarkan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, sekarang saya tak lagi berbenah sesering dulu. Karena banyak barang yang biasanya saya rapikan kini sudah tidak ada.

(2) Berpikir jernih sebelum membeli barang

Pernah tidak Anda pergi ke minimarket buat membeli sabun, lalu pulang ke rumah membawa sedotan kertas? Contoh ini mungkin tidak terlalu pas karena sedotan itu mungkin Anda butuhkan juga, tetapi seperti itulah yang biasa terjadi, bukan? Seseorang berniat membeli sesuatu dan berakhir dengan membeli sesuatu plus sesuatu yang lain.

Contohnya, dulu beberapa kali saya tergoda membeli action figure hanya karena saya bisa membelinya atau sekadar untuk mengisi lemari pajangan, meski sebenarnya saya tidak benar-benar menginginkannya. Setelah berbenah dengan metode buku ini, saya menyadari dari semua action figure yang saya miliki ternyata tak semuanya “spark joy” (sebutan Marie Kondo buat barang-barang yang menimbulkan rasa bahagia saat melihatnya). Kemudian saya pun mulai mengeluarkan beberapa action figure dengan cara dijual maupun diberikan cuma-cuma kepada saudara atau teman.

Kini yang tersisa hanya yang benar-benar spark joy dan saya pun tak lagi berminat menambah koleksi saya lagi kecuali jika menemukan yang benar-benar spark joy. Ini bukan hanya berlaku untuk action figure, melainkan juga barang-barang lainnya.

Kini yang tersisa hanya yang benar-benar spark joy dan saya pun tak lagi berminat menambah koleksi saya lagi kecuali jika menemukan yang benar-benar spark joy.
Kini yang tersisa hanya yang benar-benar spark joy.

(3) Berhenti mengumpulkan buku yang tidak saya baca

Sebelumnya saya senang mengumpulkan buku. Hal yang bagus jika saya memang berniat membangun perpustakaan pribadi, keluarga, atau umum, atau jika saya benar-benar membacanya. Terkadang saya membeli buku karena berminat pada beberapa lembar di dalamnya yang memuat kalimat atau informasi yang menarik minat saya. Pernah juga membeli buku yang meraih predikat best seller, tetapi setelah membacanya saya kesulitan memahami isinya atau merasa buku itu bukan buat saya.

Akan tetapi kondisi saya hingga saat saya menulis tulisan ini, tinggal di tempat yang cukup sempit, sehingga tidak memungkinkan meletakkan semua buku yang saya miliki dengan wajar. Ada buku yang saya simpan di lemari baju, ada yang di atas lemari, ada yang disimpan di meja kantor. Ditambah lagi saya tidak punya waktu dan energi yang cukup buat membaca semua buku itu.

Dengan menerapkan metode berbenah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, saya mulai menyeleksi buku mana saja yang sebenarnya saya inginkan dan butuhkan. Sejak saat itu saya hanya membeli buku yang benar-benar akan saya baca, bermanfaat, maupun nikmat membacanya.

(4) Lebih ringan merelakan saat kehilangan

Seperti saya ungkap di perubahan nomor 3, saya senang mengumpulkan buku. Sayangnya di akhir Februari 2020 lalu, saya mengalami kebanjiran parah. Air masuk ke dalam rumah dan merendam barang-barang termasuk buku. Terhitung ratusan buku yang saya miliki terendam dan rusak. Karena sudah terbiasa membuang barang, maka ketika saya harus membuang buku-buku tak terselamatkan itu rasanya menjadi lebih ringan. Saya membuang buku-buku itu sambil tersenyum:

Hei, terima kasih sudah membersamai saya hingga hari ini. Tetapi kita tidak ditakdirkan bersama lebih lama, sekarang kalian harus pergi. 🙂

Lalu saya memasukkan mereka ke dalam karung sampah. Tentu saja saya bukan beneran mengajak ngomong buku, hanya sekadar afirmasi bahwa saya merelakan buku-buku itu.

(5) Lebih menikmati lantunan Al-Qur’an

Jujur, semula saya lebih banyak mendengarkan musik daripada murottal atau pembacaan Al-Qur’an. Padahal sebagai seorang muslim saya harus banyak-banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an karena bahkan sekadar mendengarkan saja sudah mendapat pahala dan menjadi obat hati. Akan tetapi, saat itu saya lebih sering mendengarkan musik karena terasa “lebih ramai”.

Saat mulai berbenah, saya mulai menyortir musik yang akan saya pertahankan, karena saya tidak mungkin mendengar semua lagu yang saya miliki. Saya juga menyingkirkan lagu-lagu yang liriknya tidak baik, misalnya lirik yang mengarah ke syirk atau yang membesar-besarkan patah hati. Hasil sortiran saya ternyata hanya 10 lagu saja yang spark joy. Setelah itu seiring pencarian mana yang benar-benar spark joy saya mulai merasakan ternyata joy yang saya rasakan ketika mendengarkan murottal Al-Qur’an, melebihi joy yang saya rasakan ketika mendengarkan lagu-lagu yang tersisa. Sehingga secara alami saya mulai mengurangi mendengar musik dan lebih sering mendengar pembacaan Al-Qur’an.

Uniknya, jika dulu untuk mendengarkan musik saya hanya ingin menggunakan perangkat yang bagus (earphone Sennheiser, Zero Audio Carbo Tenor, atau earphone bawaan iPhone) dan file musik yang berkualitas bagus (MP3 dengan bit rate 320 kbps atau Apple Itunes AAC), kini saya bisa menikmati lantunan Al-Qur’an dari MP3 player murah dengan kualitas file MP3 yang seadanya. Rasanya tetap nikmat dan syahdu didengar.

(6) Berkurang kesedihan dan kegalauan

Dengan meninggalkan kebiasaan mendengarkan lagu-lagu sedih dan galau maka dengan sendirinya hati saya menjadi berkurang sedih dan galaunya.

Seorang teman yang mengalami masalah berat pernah mengatakan hal yang sama, saat dia galau dia mendengarkan lagu-lagu galau. Dan itu malah membuatnya semakin galau. Ketika dia meninggalkan kebiasaan mendengarkan lagu-lagu itu galaunya jadi jauh berkurang. Saya sepakat dengan itu. Mari coba sejenak tinggalkan lagu-lagu galau, patah hati, kesedihan, dan mulailah mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Ini hal yang harus dicoba sendiri untuk membuktikannya. Coba paksakan diri mendengar Al-Qur’an meski merasa ngantuk dan bosan saat mendengarnya. Maka rasakan sendiri berkurangnya galau di hati. Saya telah membuktikannya sendiri. Setelah itu yang ada malah merasa rugi jika harus berbalik ke belakang, yaitu kembali kepada kebiasaan mendengar lagu galau.

(7) Dan lain-lain

Sebenarnya saya ingin mengungkap seluruh perubahan yang saya alami. Tetapi demi membuat review ini tidak terlalu panjang, saya cukupkan dengan ajakan mari lakukan berbenah metode buku ini dan mulai temukan perubahan dalam diri masing-masing. Kita bisa berdiskusi tentang ini di kolom komentar.

Dengan meninggalkan kebiasaan mendengarkan lagu-lagu sedih dan galau maka dengan sendirinya hati saya menjadi berkurang sedih dan galaunya.
Selamat tinggal galau, selamat datang semangat baru.

3. Orang yang Paling Pas Membaca Buku Ini

Setelah menyelami buku ini, saya membayangkan sosok-sosok yang akan terbantu dengan adanya buku ini:

  1. Orang yang menyadari tempat tinggalnya mudah berantakan.
  2. Orang yang akan pindah tempat tinggal.
  3. Orang yang baru menikah dan memulai hidup baru.
  4. Orang yang tinggal di tempat yang sempit.
  5. Orang yang menyadari dirinya boros, sering membeli dan menumpuk barang, tetapi sukar menghentikannya.
  6. Orang yang punya kebiasaan atau sifat yang ingin ditinggalkan: sering galau, ingin berhenti merokok, badan lemah kurang olah raga, kebanyakan makan, dan lain sebagainya.
  7. Orang yang sedang membaca review ini.

Setelah mengulas keunikan buku ini, perubahan yang saya alami, serta siapa saja yang paling pas membaca buku ini, selanjutnya saya akan membahas apa dan siapa penulis buku ini serta metode berbenah yang ditawarkannya.

4. Tentang Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ditulis oleh Marie Kondo, seorang perempuan warga negara Jepang.

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ditulis oleh Marie Kondo, seorang perempuan warga negara Jepang. Sejak usia 5 tahun Marie Kondo mulai membaca majalah interior dan gaya hidup. Kegemaran itulah yang membuatnya terinspirasi, di usia 15 tahun dia mulai melakukan penelitian serius tentang beres-beres dan pada akhirnya mengembangkan metode KonMari yang berasal dari kombinasi nama depan dan belakangnya.

Sekarang Marie Kondo menjadi seorang konsultan dan menyediakan kursus beres-beres one on one (individual). Dia menghabiskan sebagian besar waktunya mengunjungi rumah-rumah dan kantor-kantor kliennya, memberi saran kepada orang-orang yang merasa kesulitan beres-beres, orang-orang yang mengalami berantakan lagi berantakan lagi, maupun orang-orang tidak tahu harus memulai berbenah dari mana. Saat saya membaca buku tersebut di tahun 2016 silam disebutkan antrian waiting list jasa konsultasinya sudah mencapai 3 bulan, mungkin sekarang lebih dari itu. Menurut websitenya, Marie Kondo pernah diwawancarai dan diulas dalam The New York Times, The Wall Street Journal, The London Times, Vogue, The Late Show with Stephen Colbert, The Ellen Show, serta lebih dari lima puluh program televisi dan radio utama di Jepang. Di tahun 2015 dia menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time.

Membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up seakan mendengar sendiri Marie Kondo bercerita. Kadang saya dibuat tersenyum-senyum saat dia berkisah menemukan gunungan barang-barang tidak terpakai di rumah kliennya. Saya mendapat kesan Marie Kondo seorang rendah hati, bersahaja, dan punya misi membebaskan kliennya dari clutter ‘berantakan’. Marie Kondo mengajak pembacanya berbenah dengan membuang apa yang tidak perlu dan hanya mempertahankan apa yang benar-benar penting. Dengan menjaga hanya apa yang benar-benar istimewa itulah seseorang akan menemukan dampak ikutan, yaitu perubahan kehidupan menjadi lebih baik.

5. Rahasia Berbenah Metode KonMari yang Super Efektif

Marie Kondo menamakan metode berbenahnya dengan sebutan KonMari, berasal dari kombinasi nama depan dan belakang dirinya. Dalam mengulas cara beres-beres tersebut Marie Kondo memulai dengan mengajak pembacanya memahami prinsip KonMari. Jika membaca buku ini pastikan memahami prinsip tersebut. Karena jika langsung beranjak ke cara melipat baju misalnya dengan menonton tutorialnya di Youtube, bisa jadi dalam waktu singkat akan mudah melupakan KonMari.

Setelah membahas prinsip KonMari, Marie Kondo mengajarkan teknik beres-beres barang-barang spesifik, mulai dari pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, barang bernilai sentimental, hingga foto.

Secara garis besar metode KonMari adalah sebagai berikut:

Pilih hanya apa yang akan Anda simpan, buang sisanya.

Terdengar simpel dan sepertinya saya sudah terbiasa mendengarnya, tetapi sebenarnya ini tidak sederhana, bahkan ini menggugah kesadaran. Perubahan hidup pembaca buku Marie Kondo bermula dari kalimat ini.

Selama ini saat berbenah yang saya lakukan hanya membuang sampah, menata ulang, memindah-mindahkan barang, menyapu, mengepel, dan mengelap. Saya belum pernah menimbang-nimbang barang yang saya kira masih perlu saya simpan. Saya hanya memindah-mindahkan mereka dan menata ulangnya saja. Ternyata sebenarnya banyak sekali barang tersimpan yang sebenarnya tidak akan menimbulkan masalah maupun kesedihan jika saya singkirkan, malah sebaliknya menambah kenyamanan tinggal dengan menyingkirkannya dari tempat tinggal saya.

Urutan beres-beresnya tidak boleh terbalik: mulailah dengan membuang, kemudian rapikan ruangan Anda secara menyeluruh, sekaligus, dalam satu waktu. Jadi bukan merapikan lalu membuang, melainkan membuang lalu merapikan.

Ringkasnya begini:

(1) Beres-beres mesti dilakukan sekaligus, siapkan waktu khusus untuk beres-beres secara marathon, jangan mencicil waktu untuk beres-beres. Karena ini akan berpengaruh pada mental, efek perubahannya akan terasa jika dilakukan dalam satu hari.

(2) Beres-beres dilakukan berdasarkan kategori bukan lokasi. Jadi jangan membereskan kamar 1, lalu kamar 2, melainkan bereskan semua pakaian di rumah, kemudian bereskan semua buku, kemudian bereskan kertas, dan seterusnya.

(3) Letakkan barang-barang di lantai sesuai kategori, misalnya baju satukan dengan baju saja jangan diletakkan bersama buku.

Ambil barang yang sudah diletakkan di lantai tersebut satu persatu dengan tangan, tanyakan dengan jujur “does it spark joy?” (“apa benda ini membangkitkan kegembiraan pada diri saya?”). Lalu tanyakan apa barang itu diperlukan saat ini maupun yang akan datang. Pastikan apa benar-benar akan diperlukan, misalnya jika tidak ada rencana menjual handphone yang saat ini dimiliki maka buang saja kardusnya.

Spark joy kita sendiri yang merasakan. Marie Kondo mencontohkan selembar kaos berkarakter lucu yang dia beli di tahun 2005 dan disimpan hingga sekarang. Sebenarnya dia tidak ingin ada orang lain melihatnya memakai kaos tersebut, tetapi dia tetap menyimpannya karena baginya kaos itu spark joy. Kaos itu memberi kegembiraan kepadanya. Yang harus dilakukan hanyalah mempertahankan apa yang spark joy dan membuang yang tidak.

(4) Pastikan tidak ada orang lain melihat saat sedang beres-beres.

(5) Jika tidak butuh suatu barang jangan berikan begitu saja ke orang lain hanya demi buru-buru menyingkirkan barang tersebut, kecuali jika dia benar-benar membutuhkannya. Marie Kondo menjelaskan alasannya di dalam buku.

6. Kenapa dengan Berbenah Hidup Seseorang Bisa Berubah?

Setelah membaca testimoni di bagian “Pendahuluan” buku The Life-Changing Magic of Tidying Up mungkin kita jadi penasaran bagaimana berbenah bisa mempengaruhi para pembacanya berubah dan mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup, seperti resign dari pekerjaan atau meminta cerai. Kenapa dari sekadar beres-beres rumah bisa bikin orang jadi berani mengambil keputusan besar? Jawabannya sebagaimana diungkap Marie Kondo:

Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, gaya hidup dan perspektif kita akan ikut berubah drastis. Kehidupan kita niscaya mengalami transformasi besar-besaran.

Dengan membereskan rumah, kita sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita.

Setelah saya amati dan perhatikan, ternyata ada beberapa alasan kenapa beres-beres bisa mengubah hidup seseorang, antara lain melalui alasan sebagai berikut:

(1) Dengan berbenah, seseorang menjadi lebih fokus pada yang lebih penting

Dengan beres-beres seseorang akan menemukan apa yang lebih penting atau yang benar-benar penting. Metode KonMari membiasakan kita mengevaluasi satu persatu apa yang dimiliki untuk ditimbang apakah semua yang saat ini dimiliki tersebut memberi kegembiraan. Kita diajarkan untuk bertanya “why?” pada diri sendiri tentang alasan memiliki atau melakukan sesuatu. Kenapa saya memiliki benda ini? kemudian saya menjawab, “karena begini”. Lalu bertanya lagi, “kenapa perlu begini?” lalu saya jawab, “karena begitu”. Lalu tanya lagi, “kenapa begitu?” dan seterusnya. Sampai pada akhirnya menemukan apakah yang dimiliki serta apakah yang selama ini dilakukan adalah apa yang benar-benar memancarkan kebahagiaan.

Analisis ini benar-benar bermanfaat, bukan hanya ketika sedang memilih barang melainkan juga ketika akan berbuat atau bertindak serta membuat keputusan. Kita bisa melihat, tidak sedikit orang yang mengorbankan akhiratnya untuk kepentingan dunianya. Sungguh merugi, bukan? Akan tetapi ternyata ada lagi yang jauh lebih merugi dari itu: orang yang mengorbankan akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain. Itu tak lain disebabkan kelalaian menganalisis apa yang benar-benar penting bagi dirinya.

Dengan berbenah metode KonMari, seseorang diharapkan bisa menjadi lebih fokus pada apa yang benar-benar penting bagi dirinya.

(2) Dengan berbenah, seseorang bisa memulai hidup baru dengan semangat baru

Dengan beres-beres ala metode KonMari jika punya masa lalu maupun masa kini yang buruk, kita akan membuang masa lalu atau masa kini bersama dibuangnya barang-barang terkait dengan kepahitan tersebut. Dengan demikian hati akan menjadi lebih lega dan bisa memulai hidup baru dengan semangat baru.

(3) Dengan berbenah yang di dalamnya ada aktivitas membuang barang, seseorang akan terbuka pikirannya “bisa kok meninggalkannya”

Dengan membuang apa-apa yang tadinya dikira tidak akan sanggup berpisah darinya, pikiran akan menjadi terbuka bahwa ternyata bisa kok membuangnya. Bisa kok ternyata berpisah dengannya. Ternyata banyak sekali hal yang sebenarnya bisa ditinggalkan tanpa merugikan sama sekali. Sehingga ini akan memberi keyakinan pada diri sanggup berubah dengan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Misalnya, keyakinan bahwa seorang perokok berat yang kepikiran ingin berhenti merokok akan bisa berhenti total merokok meski awalnya merasa ragu apa iya bakal bisa berhenti. Menyingkirkan benda-benda yang tidak menimbulkan ‘joy’ serta dianggap sudah tidak diperlukan lagi dapat menjadi latihan agar bisa menyingkirkan benda-benda serta apa-apa yang jelas-jelas merugikan diri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

7. Catatan Penting Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

The Life-Changing Magic of Tidying Up adalah buku yang saya rekomendasikan untuk dimiliki dan dibaca orang-orang. Itulah sebabnya saya menulis review ini, bukan? Meski demikian saya perlu menyampaikan 2 catatan penting yang perlu menjadi perhatian agar para pembaca bisa memperoleh manfaat optimal buku ini.

Inilah 2 catatan penting tersebut:

(1) Di buku ini Marie Kondo bilang jangan memodifikasi metode berbenah di buku ini demi menyesuaikan karakter diri. Menurut Marie Kondo tidak ada pembedaan seperti metode berbenah untuk orang sibuk, metode berbenah untuk orang malas, dan sebagainya, metode buku ini mestinya bisa diterapkan semua orang, malas ataupun rajin, sibuk maupun luang.

Tetapi menurut saya silakan saja memodifikasinya sesuai kebutuhan, selama tetap memenuhi prinsip KonMari.

Marie Kondo menegaskan hanya ada 2 aktivitas yang dilakukan ketika berbenah: membuang dan memutuskan di mana akan menyimpan barang-barang. Dari kedua aktivitas tersebut, membuang harus dilakukan pertama kali. Dengan tetap memenuhi 2 aktivitas tersebut, menurut saya ada hal-hal yang bisa dimodifikasi misalnya cara menyimpan pakaian atau kaos kaki. Mudah dijumpai videonya di Youtube bagi yang berminat mencobanya. Nyatanya saya tak pernah berminat mempelajarinya.

Saat berbenah, saya memodifikasi metode KonMari, misalnya saya tidak melakukan berbenah marathon dalam 1 hari melainkan selama 30 hari. Meski demikian dalam sebulan itu telah banyak sekali barang-barang milik saya yang telah saya lepaskan kepemilikannya. Menurut saya, seseorang bisa fleksibel dalam berbenah, yang penting konsisten menuntaskan pekerjaan berbenah sampai akhir. Untuk memastikan konsistensi tersebut saya menulis catatan barang apa saja yang telah saya singkirkan setiap harinya.

(2) Tidak semua hal dalam buku ini saya sepakati, misalnya tentang menyapa atau membungkuk kepada rumah. Hal itu mungkin lazim atau biasa di tempat penulis buku tersebut tinggal yaitu Jepang. Namun demikian sebagai seorang muslim saya memilih untuk mengucap basmalah serta berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika akan memasuki rumah. Saya juga tidak mengucapkan terima kasih kepada benda-benda yang telah menunaikan tugasnya, melainkan akan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberi benda-benda tersebut kepada saya.

Buat saya catatan ini penting agar bisa menempatkan buku ini pada tempatnya sehingga bisa bermanfaat optimal bagi yang membacanya.

8. Beli atau Pinjam?

Saya jelas akan merekomendasikan: beli. Di toko buku, harga buku ini versi terjemahan bahasa Indonesianya tidak sampai 100 ribu rupiah. Jika memungkinkan sebaiknya beli saja. Jika merasa belum punya uang untuk membeli buku ini maka siapa tahu justru dengan membaca buku ini pengeluaran bisa menjadi lebih efisien. Itulah yang saya rasakan. Jika ada yang bilang, nanti dulu deh, saya masih ada daftar rencana buku lain yang ingin dibeli, saya akan bilang, coba dulu baca buku ini, siapa tahu setelah membaca buku ini daftar rencana buku yang telah disusun malah jadi direvisi.

9. Di Mana Bisa Download PDF Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up?

Saya berharap lebih banyak lagi orang yang membaca buku ini dan menemukan perubahan dirinya. Namun demikian saya tidak menyediakan link download buku ini. Selain karena saya menghargai jerih payah penulisnya yang telah menulis karya luar biasa, harga bukunya juga relatif terjangkau, termasuk murah malah jika dibanding dengan manfaat yang bisa diperoleh. Dengan mengeluarkan uang buat beli buku The Life-Changing Magic of Tidying Up diharapkan menjadi bukti kesungguhan ingin mendulang manfaat darinya, benar-benar ingin mengubah hidupnya.

10. Di antara (Tanda) Kebaikan Islam Seseorang Adalah Meninggalkan Perkara yang tidak Bermanfaat Baginya

Sebagai penutup, agar senantiasa bersemangat untuk beres-beres dan membuang apa yang tidak bermanfaat mari simak hadits berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Sekian review ini, semoga bermanfaat.

Tidak sedikit orang yang bilang terinspirasi buku ini, termasuk saya. Apa Anda juga pernah membaca buku ini dan punya pengalaman menarik yang ingin diceritakan? Mari tulis komentar Anda.

Iqbal – Dekat.Page

(Updated – January 2021)

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s