Categories
Blogging

Pengalaman Tagihan Bulanan Softbank 55.000 Yen (7 Juta Rupiah)

Kisah tagihan yang mendorong lahirnya blog yang muncul di halaman pertama Google dengan kata kunci “Islam di Hiroshima”. Sebuah ajakan untuk mewarnai dunia maya dengan saling berbagi manfaat.

Beberapa tahun yang lalu saya memperoleh karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kesempatan kuliah di Jepang, tepatnya di Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University.

Di Jepang, sebagaimana mahasiswa asing lainnya saya mendaftarkan diri pada program bundle handphone dan kartu telepon (saya tidak tahu apa sebutan resminya). Seorang pendaftar akan memperoleh handphone yang sudah diisi kartu telepon di dalamnya, kemudian setiap bulan dia akan membayar tagihan cicilan beserta pemakaian pulsa dan kuota internetnya.

Saya mengambil cicilan iPhone 4S di galeri SoftBank. Softbank adalah salah satu perusahaan operator seluler di Jepang. Selain SoftBank masih ada NTT Docomo dan au (ditulis dengan huruf kecil semua). Saya tidak tahu apa masih ada operator seluler selain ketiga perusahaan tersebut.

Logo SoftBank, NTT Docomo, au, hak cipta (copyright) logo pada perusahaan tersebut.
Logo SoftBank, NTT Docomo, au, hak cipta (copyright) logo pada perusahaan tersebut.

Aktivitas kehidupan saya selama di Jepang baik perkuliahan maupun kesehariannya sangat memerlukan keberadaan handphone yang terkoneksi internet. Meski demikian tagihan bulanannya masih berada di angka yang biasa saja.

Hal mengejutkan baru akan terjadi ketika saya pulang ke Indonesia saat musim liburan setelah usai semester pertama.

Saya pulang dengan pesawat dari Bandara Internasional Kansai, transit di Malaysia, tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Saat tiba di Jakarta, saya ingin segera mengabari kedua orang tua saya bahwa saya telah mendarat dengan selamat dan sebentar lagi akan naik taksi bandara ke rumah. Saya menyalakan iPhone saya, ternyata sinyal SoftBank masih sampai ke handphone saya. Maka saya pun menggunakannya untuk mengirim 1 buah foto ke inbox Facebook ibu saya. Kalau tidak salah ukurannya sekitar 3 MB.

Setelah beberapa hari berlibur di rumah, saya tiba-tiba penasaran buat mengecek tagihan seluler saya di website SoftBank. Saya pun terkejut ternyata tagihan telepon saya meroket naik. Kini mencapai 55 ribu yen untuk bulan tersebut!

Setelah beberapa hari berlibur di rumah, saya tiba-tiba penasaran buat mengecek tagihan seluler saya di website SoftBank. Saya pun terkejut ternyata tagihan telepon saya meroket naik. Kini mencapai 55 ribu yen untuk bulan tersebut! Berapa Gundam yang bisa dibeli dengan uang senilai 7 juta rupiah tersebut?
Bayangkan berapa banyak Gundam yang bisa saya beli dengan uang 55 ribu yen (sekitar 7 juta rupiah)..

Suatu angka yang fantastis, terlebih saya hanya menyalakan handphone sekejap saja buat mengirim foto ketibaan saya di Jakarta, setelah itu mematikannya.

Semula saya membayangkannya begini, saat saya di Jepang, saya bisa kirim SMS pakai provider seluler Indonesia dengan tarif sekitar 10 ribu per SMS. Saya pikir sekadar mengirim foto tidak bakal menghasilkan tagihan yang besar dari operator seluler Jepang tersebut saat saya gunakan di Indonesia. Mungkin akan menambah tagihan setara 100 ribu rupiah saja. Ternyata saya keliru, salah menduga, tarif yang ditagih adalah sekian yen per kB, saya lupa tepatnya yang jelas tagihan akhirnya 55 ribu yen.

Apa yang saya lakukan selanjutnya? Saya segera menghubungi beberapa senior saya untuk mencari tahu apa ada yang pernah mengalami masalah yang sama.

Ternyata ada! Ada seorang yang pernah mengalami itu. Maka saya menghubunginya melalui Facebook. Dia menyarankan saya segera menghubungi call center SoftBank dan menyampaikan permasalahan saya.

Saya pun kemudian menghubungi SoftBank dengan menggunakan Skype call. Alhamdulillah customer support-nya bisa bahasa Inggris. Meski kuliah di Jepang, bahasa utama di program S2 yang saya ikuti adalah bahasa Inggris, sehingga saya tidak terdorong belajar bahasa Jepang.

Masya Allah, inilah tanggapan pihak call center saat saya menghubungi mereka dan menceritakan masalah saya.

  1. Sang customer support (CS) bilang lain waktu kalau ada masalah, saya bisa menelepon mereka pakai cellular data iPhone saya, tak perlu pakai Skype call (“jangan kuatir karena nomor call center kami bebas pulsa!”). Well, ini kasus beberapa tahun silam, saya tidak tahu apa sekarang masih bebas pulsa. Tapi poinnya adalah sang customer support memaklumi kepanikan saya dan mencoba menenangkan saya secara tersirat bahwa bukan hanya saat itu saja, lain waktu saya menghubungi mereka lagi akan diterima dengan baik.
  2. Sang CS yang baik hati tadi meminta waktu sebentar untuk mengecek tagihan saya. Tak lama kemudian dia pun bilang bahwa benar tagihan saya sudah mencapai 55 ribu yen. Yang terjadi kemudian sungguh melegakan hati, sang CS melanjutkan kata-katanya: “Disebabkan anda belum mengetahui bahwa penggunaan cellular data untuk internet di iPhone anda saat anda berada di luar Jepang akan menghasilkan tagihan yang tinggi, maka pihak SoftBank berkenan menghapus tagihan tersebut”. Alhamdulillah, tagihan 55 ribu yen itu dihapus! Hanya saja bukan dengan bentuk penghapusan saat itu juga. Saya tetap harus membayar tagihan 55 ribu yen yang akan menjadi semacam saldo kredit, selanjutnya tagihan bulan-bulan yang akan datang akan dikurangi hingga 55 ribu yen saldo kredit tadi habis, dengan kata lain selama beberapa bulan ke depan saya tak perlu membayar tagihan apa-apa.

Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini, bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang dan ingin pulang sementara ke Indonesia dengan membawa handphone berisi kartu provider seluler Jepang, matikan cellular data-nya agar tidak mengalami kejadian yang saya alami. Jika ingin internetan dengan handphone tersebut pakai wifi saja. Lebih amannya lagi matikan saja handphonenya.

Namun ada satu pesan lagi yang lebih esensial, dan inilah sesungguhnya yang menjadi pesan utama tulisan ini: mari menjadi bagian dari solusi.

Saya menyadari masalah yang saya alami bisa terjadi pada siapa saja yang belum mengetahui soal mematikan cellular data saat pulang sementara ke Indonesia.

Faktanya, selain saya, senior saya juga pernah mengalaminya. Sejak saat itu saya selalu mewanti-wanti teman-teman saya yang akan pulang berlibur ke Indonesia agar mematikan cellular data atau bahkan handphone mereka.

Sayangnya, ternyata belum ada yang menceritakan pengalaman semacam ini kepada saya maupun mahasiswa yang relatif masih hijau lainnya yang baru 1 semester tinggal di Jepang.

Bukan hanya soal mematikan cellular data saat pulang, tetapi juga masih minimnya info-info penting lainnya yang dibutuhkan di kehidupan nyata selama tinggal di Jepang. Misalnya, di mana dokter gigi terdekat dan bagaimana membuat janji periksa gigi, di mana letak konsultasi psikologi di kampus, apa saja makanan halal yang tersedia di minimarket, dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, saya menemukan kenyataan bahwa timeline Facebook yang semestinya berfungsi sebagai wadah silaturahim dan bertukar informasi, saat itu sedang diwarnai perdebatan. Tak perlulah saya tulis apa saja topik-topik yang menjadi perdebatan.

Saat itu saya pun tergerak hati untuk menjadi bagian dari solusi. Saya ingin menulis hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, hal yang bermanfaat. Maka saya membangun sebuah blog beralamat di kmih.net, yang merupakan blog Keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima (KMIH).

Selama mengelola blog tersebut saya telah menghasilkan puluhan tulisan yang kebanyakan adalah reportase kegiatan keislaman di Hiroshima.

Beberapa manfaat yang bisa dirasakan dari blog tersebut antara lain:

  1. Menjadi salah satu sumber informasi kegiatan keislaman di Hiroshima. Bahkan dimuat di website Hiroshima University! https://www.hiroshima-u.ac.jp/indonesia/tentang_kehidupan_mahasiswa_indonesia.
  2. Arsip yang bernilai kenangan bagi yang telah lulus kuliah dan kembali ke tanah air.
  3. Sarana komunikasi, beberapa orang Indonesia mengirim pesan via halaman contact di blog tersebut, menanyakan beberapa hal, seperti apakah di masjid Hiroshima ada lowongan imam masjid, apakah ada mahasiswa yang berkenan ditumpangi oleh seseorang yang akan menghadiri conference selama beberapa hari, dan lain-lain.

Saat itu ketika orang mengetik kata kunci “Islam di Jepang” di Google Search maka blog KMIH akan keluar di halaman pertama. Sekarang pun saya cek masih muncul di halaman pertama untuk kata kunci “Islam di Hiroshima”.

Bertahun-tahun kemudian, saat ini, saya pun masih memiliki tekad yang sama. Saya ingin mewarnai dunia maya dengan menjadi bagian dari solusi, karenanya saya membangun blog ini, Dekat.Page. Bahkan jika ada satu saja orang yang terbantu dengan kehadiran blog ini sudah menjadi hal yang akan sangat saya syukuri.

Sebagai tulisan pertama blog ini saya menulis review buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, sebuah buku yang saya berharap menemukannya lebih awal. Sebuah buku yang layak diketahui banyak orang karena manfaat yang dimilikinya.

Internet sudah terlalu jenuh dengan perdebatan. Sudah terlalu riuh dengan berita tidak benar atau hoaks. Saya ingin menjadikan blog ini sebagai tempat mampir atau tempat singgah yang nyaman. Berbagi inspirasi dan informasi yang benar-benar bermanfaat bagi saya sendiri sebagai penulisnya maupun bagi Anda para pembaca yang baik hatinya.

Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini. Saya akan berterima kasih jika pembaca blog ini berkenan meninggalkan komentar atau mengirim masukan yang membangun, koreksi, atau pertanyaan. (Termasuk juga jika mengirim segelas kopi)

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

2 replies on “Pengalaman Tagihan Bulanan Softbank 55.000 Yen (7 Juta Rupiah)”

Secara tidak langsung, otomatis masih terikat dengan softbank setelah kejadian itu. Mungkin pada saat itu, masih belum era “mabuk wifi” atau era wahtsappan. Tidak heran, begitu era wifi/whatsapp/telegram, skype mulai dilupakan.

Sekalian jawab pertanyaan pak Iqbal ya di tulisan saya.

Si tarjiem atau domain utamanya sekarang lagi hos Indonesia saja, satu hos.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya pak. Bapak suka Gundam ternyata. Saya dulu ksatria baja hitam, sama tamiya.

Like

Betul mas Ridha, sekarang Skype sudah jarang digunakan, setidaknya saya dan teman-teman.

I see, saya kira dua server menangani satu website jadi kaya cloud gitu hehe..

Sekarang saya baru rebranding jadi dekat dot page dari semula fana dot blog. Blog yang lama akan saya gunakan untuk hal lain dan dipindah dari WordPress.com ke layanan self-hosted. Makanya saya tertarik baca review web hosting di Tarjiem.com, karena memang lagi senang2nya baca review web hosting dari pengguna sungguhan. Review web hosting di Tarjiem.com selalu keren !

Terima kasih sudah berkunjung balik, betul saya suka gundam, juga suka ksatria baja hitam 🙂

Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s