Categories
Recharge

Mengingat Allah Kunci Ketenangan Hati Saat Ingin Lari dari Kehidupan

Mengungkap cara menghadirkan semangat atau energi baru saat seseorang ingin lari dari kehidupan yang melelahkan.

Sebagai anak introvert, waktu kecil saya tidak suka keramaian dan bertemu orang-orang.

Kalau teman SD datang nyamper ke rumah ngajak main, saya minta tolong ibu saya buat bilang kalau saya lagi tidur siang.

Padahal sebenarnya saya sulit tidur siang, lebih suka menghabiskan waktu siang dengan membaca majalah Bobo dan Donal Bebek atau main robot-robotan sendirian.

Ketidaksukaan saya pada keramaian dan bertemu orang-orang tidak jarang menyusahkan diri saya sendiri.

Contohnya, saat mudik lebaran ke rumah kakek nenek di Sukabumi saya merasa tidak betah, pengen cepat-cepat pulang.

Ini karena di momen itu keluarga besar saya semuanya datang ke rumah kakek nenek dan kami semua menginap di sana selama beberapa hari. Sangat padat orang.

Di tambah lagi para tetangga berdatangan silaturahim, datang silih berganti tiada akhir. Saya akan keluar rumah setiap kali ada tamu yang datang, karena enggak muat. Bahkan untuk berdiri pun sulit dapat tempat. Seperti di dalam kereta commuter line arah Bogor di jam pulang kerja.

Saat hiruk pikuk itu biasanya saya menenangkan diri dengan membayangkan, 3 hari lagi saya akan bisa rebahan di kasur lagi sambil baca komik atau main robot-robotan.

Saat hiruk pikuk itu biasanya saya menenangkan diri dengan membayangkan, 3 hari lagi saya akan bisa rebahan di kasur lagi sambil baca komik atau main robot-robotan.
Hanya ilustrasi, bukan foto masa kecil saya pastinya.

Saya membayangkan kenyamanan yang akan kembali pada saya 3 hari yang akan datang, seolah saya bisa mempercepat waktu melesat ke masa depan, atau menekan tombol skip imajiner.

Bayangan tersebut cukup membantu menenangkan diri saya. Sekacau apa pun suasananya, itu hanya akan terjadi di hari-hari itu saja, beberapa hari lagi ini semua akan berakhir.

(Sekarang saat sudah dewasa saya malah kangen suasana mudik masa kecil, mohon maklumi masa kecil saya yang introvert.)

Rasa ingin melarikan diri dari kehidupan, melompat ke beberapa hari ke depan timbul karena ketidaknyamanan maupun ketidaksanggupan menghadapi hari itu.

Rasa ingin melarikan diri dari kehidupan, melompat ke beberapa hari ke depan timbul karena ketidaknyamanan maupun ketidaksanggupan menghadapi hari itu. Pernah mengalami rasa ingin menekan tombol skip ke masa depan? Ingin lari dari kehidupan?
Menenangkan diri di tepi pantai.

Pernah mengalami rasa ingin menekan tombol skip ke masa depan? Ingin lari dari kehidupan?

Saya? Beberapa kali.

Contoh ingin skip lainnya yang pernah saya rasakan misalnya ketika saya mengalami banjir parah yang merusak ratusan buku milik saya seperti saya ungkap sekilas di tulisan review buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. Saat itu kondisi rumah sangat berantakan, perlu waktu untuk membereskan itu semua. Saya membayangkan akan kembali rebahan di kasur atau minum teh manis hangat bersama keluarga lagi.

Pernah juga saat saya 2 kali jadi panitia Indonesia Industrial Summit, acara tingkat nasional yang dihadiri 1000-an orang di 2018 silam serta meroket jadi 4000-an orang di 2019. Saya membayangkan pulang ke rumah dengan hati tenang karena sudah selesai acaranya.

Indonesia Industrial Summit 2019
Indonesia Industrial Summit 2019
Melesat pulang ke rumah.
Melesat pulang ke rumah.

Nah, sebenarnya rasa ingin skip tersebut bisa bermanfaat, selama tidak membuat seseorang menjadi lemah tak bersemangat melanjutkan hari dan membiarkan hari itu menjadi berantakan.

Bahkan sebaliknya, dengan menyadari bahwa segala apa yang di alami di hari itu hanyalah sementara, dan tidak berputus harapan bahwa suatu saat akan ada hari yang indah, seseorang bisa memperoleh energi baru yang membuatnya menjadi lebih tegar melalui hari tersebut.

Richard Carlson dalamnya bukunya yang berjudul Don’t Sweat the Small Stuff . . . and It’s All Small Stuff: Simple Ways to Keep the Little Things from Taking Over Your Life, sebuah buku yang judulnya saja sudah inspiratif, mengatakan dalam bab berjudul “Remember, One Hundred Years from Now, All New People“, 100 tahun dari sekarang kita semua (yang sekarang hidup) akan lenyap dari bumi (mati).

Pemikiran ini bisa memberikan perspektif yang tepat ketika seseorang sedang mengalami krisis atau stres, misalnya ketika ban mobil pecah, terkunci di luar rumah, ada orang bersikap tidak baik, atau harus bekerja keras sepanjang malam: seratus tahun lagi segala kesulitan itu akan menjadi remeh dan terlupakan.

Bagi seorang muslim, bahkan ada perspektif yang jauh lebih powerful, menyadari keberadaan masa depan yang sedang menantinya semestinya akan memberi kekuatan besar untuk melalui hari-hari kehidupan dunia yang hanya sementara dan fana.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Qur’an Surat Yunus ayat 26).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengungkap bahwa yang dimaksud dengan “tambahannya” dalam ayat tersebut adalah anugerah memandang wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan itu merupakan kenikmatan tertinggi yang akan diperoleh seorang penghuni surga.

Mengenai hal tersebut, telah diriwayatkan banyak hadits dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, di antaranya diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alihi Wa Sallam pernah membaca ayat ini, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” Lalu beliau bersabda:

“Apabila penduduk Surga telah memasuki Surga, dan penduduk Neraka pun telah memasuki Neraka, maka ada penyeru yang menyeru: ‘Wahai penduduk Surga, sesungguhnya Allah memiliki janji kepada kalian yang hendak Dia laksanakan.’

Mereka bertanya: ‘Janji apa itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan kami, memutihkan wajah-wajah kami dan memasukkan kami ke dalam Surga serta menyelamatkan kami dari Neraka?’

Beliau bersabda: ‘Lalu dibukakan untuk mereka penghalang/hijab, maka mereka pun memandang-Nya.

Demi Allah, tidak ada sesuatu dari karunia Allah yang lebih mereka cintai daripada dapat memandang Wajah-Nya dan tidak ada yang lebih menyenangkan hati mereka darinya.'” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan para pengumpul hadits lainnya).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin dalam bukunya yang berjudul Syarah Aqidah Wasithiyah: Buku Induk Akidah Islam (Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah Li Syaikh al-Islam Ibni Taimiyah) menulis pengaruh keyakinan bahwa seorang muslim kelak akan melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Melihat Allah, pengaruhnya terhadap perilaku sangatlah besar, karena apabila seseorang mengetahui bahwa puncak pahala yang diraihnya adalah melihat kepada Wajah Allah, maka dunia di matanya menjadi tidak berarti, semuanya baginya adalah murah demi dapat melihat Allah, karena ia adalah puncak apa yang dicari dan akhir tujuan.

Jika anda mengetahui bahwa anda akan melihat Rabb anda dengan mata kepala, niscaya dunia tidak ada apa-apanya. Seluruh dunia bukan apa-apa, karena melihat kepada Wajah Allah adalah buah di mana orang-orang berlomba-lomba merebutnya dan berusaha kepadanya, ia adalah akhir tujuan dari segala perkara.

Apabila anda mengetahui hal itu, apakah anda berusaha untuk menggapainya atau tidak?

Jawabnya: ya, aku pasti berusaha menggapainya tanpa ragu-ragu.”

Jika seseorang mengalami masa-masa yang sulit, hendaknya dia terus berharap bahwa kelak akan ada masa depan yang indah. Ilustrasi keindahan sakura, awan putih, dan langit biru di Jepang.

Jika seseorang mengalami masa-masa yang sulit, hendaknya dia terus berharap bahwa kelak akan ada masa depan yang indah.

Bagi seorang muslim, masa depan yang indah tersebut bukan hanya untuk sekadar diharapkan melainkan juga wajib diupayakan.

Sebaik-baik kebaikan di masa depan adalah dimasukkan ke dalam surga dan memperoleh tambahan kenikmatan berupa kesempatan melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Itulah kenikmatan yang tertinggi, itulah akhir tujuan.

Ketika menemui hari yang berat, mari mengharapkan momen terindah tersebut akan hadir dan hadapi hari yang ada di hadapan dengan energi baru.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s