Categories
Recharge

Kuliah di Jepang dan Gaya Hidup Minimalis

Bermula dari sempitnya apato serta urusan membuang sampah saat kuliah di Jepang, tanpa sengaja saya mulai menjalani gaya hidup minimalis. Gaya hidup minimalis pada akhirnya bukan hanya sekadar mengurusi barang, melainkan juga pilihan hidup.

Belakangan ini gaya hidup minimalis semakin populer. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan gaya hidup minimalis?

Pertama kali saya mengenal kata “minimalis” sekitar tahun 2000-an, melihat majalah arsitektur milik kakak saya yang di dalamnya ada foto-foto rumah berdesain minimalis, desain yang sejak pertama kali melihatnya langsung bikin saya jatuh hati. Desain rumah tersebut bernuansa kotak, bukan kotak-kotak seperti papan catur melainkan kotak dalam arti nyaris tidak ada lengkungan.

Melihat gambar-gambar tersebut membuat saya menyimpulkan desain minimalis adalah desain kotak (padahal bukan itu tentunya).

Waktu berlalu, bertahun kemudian tepatnya tahun 2012 saya memperoleh kesempatan kuliah di Jepang. Di sanalah saya mulai berkenalan secara alami dengan minimalis sebagai gaya hidup, bukan lagi sekadar rumah bernuansa kotak.

Selama tinggal di Jepang secara alamiah (dengan sendirinya) saya berinteraksi dengan gaya hidup minimalis.

Ini berawal dari fasilitas tempat tinggal yang saya peroleh selama berkuliah di Hiroshima University, kampus tempat saya menuntut ilmu Development Science selama dua tahun.

Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University, Jepang.
Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University, Jepang.

Saya tinggal di Ikenoue Student Dormitory, sebuah asrama yang hanya terdiri dari 3 area: kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Tidak cukup untuk tinggal bersama keluarga, hanya cukup untuk seorang diri, sesuai dengan peruntukannya.

Ikenoue Student Dormitory.
Ikenoue Student Dormitory.

O iya, di Jepang tempat tinggal sewaan disebut dengan apato, baik itu apartemen, rumah kontrakan, maupun asrama mahasiswa.

Meski tidak luas, apato saya cukup memadai untuk melakukan berbagai aktivitas esensial seperti tidur, memasak, mandi, dan belajar (lho kok belajar ditulis belakangan he he..).

Benar-benar efisien, pas banget, tidak kurang, tidak lebih.

Di Jepang, mahasiswa Indonesia yang sudah selesai kuliah biasa mewariskan barang-barang mereka kepada para junior yang baru mulai tinggal di Jepang. Tetapi karena tempat yang relatif sempit itulah, maka saya tidak bisa membawa banyak barang ke dalam apato. Sehingga saya harus benar-benar memilih barang warisan apa yang akan saya bawa ke apato.

Selain tidak bisa membawa banyak barang ke apato, hal lain yang saya temui adalah kerumitan urusan membuang sampah.

Berbeda dengan di Indonesia yang membuang sampah pada tempatnya sudah bisa dibilang bagus, di Jepang membuang sampah harus pada tempat yang benar, dengan cara yang benar, dan di waktu yang benar.

Pada tempat yang benar, artinya sampah harus dimasukkan ke plastik sampah yang benar. Ada plastik sampah untuk plastik yang bisa didaur ulang, ada yang untuk sampah organik, ada yang untuk plastik yang tidak didaur ulang, dan lain-lain. Lain tempat bisa agak berbeda ketentuannya, tetapi secara garis besar sampah-sampah tersebut mesti dipisah sebelum dibuang.

Dengan cara yang benar, artinya sampah tersebut dibuang dengan cara yang sesuai ketentuan. Majalah bekas dibuang dengan sebelumnya dipreteli steplesnya. Sampah kertas harus ditumpuk kemudian diikat dengan tali kawat.

Di waktu yang benar, artinya sampah yang dibuang sesuai dengan hari yang telah ditentukan, jadi tidak bisa orang main buang sampah rumah tangga begitu saja tanpa melihat jadwal buang sampah.

Dan kerumitan-kerumitan lainnya yang tentu saja hanya rumit buat saya sebagai pendatang baru tetapi tidak bagi orang yang sudah lama tinggal di Jepang. Misalnya? Kalau mau buang barang elektronik seperti TV maka saya mesti membayar biaya buang sampah elektronik. Kalau mau bebas biaya dan malah dapat uang, saya bisa membawa TV tersebut ke tempat jual-beli barang bekas.

Dengan urusan sampah yang seperti itu, maka secara alami saya membatasi jumlah sampah yang saya “hasilkan”. Saya tidak akan membawa pulang barang ke apato yang nantinya akan mempersulit saya saat perlu membuangnya.

Ajaibnya, dengan begitu saya malah jadi tahu sampah apa saja yang saya miliki. Suatu hal yang tidak pernah terulang lagi saat saya kembali ke Indonesia!

Sekarang kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, apa yang dimaksud dengan gaya hidup minimalis?

Ada beberapa definisi, tetapi semuanya punya makna yang sama:

Minimalism is a tool to rid yourself of life’s excess in favor of focusing on what’s important—so you can find happiness, fulfillment, and freedom. (Minimalism adalah sarana untuk melepaskan diri dari hal-hal yang tidak diperlukan dalam rangka memfokuskan diri pada apa yang penting–sehingga anda bisa menemukan kebahagiaan, pencapaian, dan kebebasan.)” (The Minimalist)

It means living with things you really need. It means removing anything that distracts us from living with intentionality and freedom. (Itu berarti hidup dengan benda-benda yang anda benar-benar butuhkan. Itu berarti menyingkirkan segala yang mengalihkan perhatian kita dari hidup yang penuh kesadaran dan kebebasan.)” (Becoming Minimalist)

Secara sederhana, gaya hidup minimalis adalah:

  1. Hidup dengan apa yang benar-benar penting buat diri, baik barang, aktivitas, orang dan sebagainya.
  2. Dengan penuh kesadaran, bukan dipengaruhi orang lain atau tren.
  3. Mengutamakan apa yang benar-benar penting buat diri.

Nah, sebenarnya saat tinggal di Jepang selama dua tahun itu saya belum mengenal istilah minimalis sebagai gaya hidup, meski sebenarnya saya mulai menjalankannya karena kondisi yang ada.

Saya baru mulai mengenal gaya hidup tersebut setelah saya membaca beberapa buku dan tulisan tentang gaya hidup minimalis dua tahun setelah saya kembali ke Indonesia.

Di antara bacaan tersebut, yang paling berpengaruh buat saya adalah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis Marie Kondo, pakar berbenah asal Jepang.

Saya baru mulai mengenal gaya hidup tersebut setelah saya membaca beberapa buku dan tulisan tentang gaya hidup minimalis dua tahun setelah saya kembali ke Indonesia. Di antara bacaan tersebut, yang paling berpengaruh buat saya adalah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis Marie Kondo, pakar berbenah asal Jepang.
Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo.

Buku yang menjadi salah satu referensi populer di kalangan pemerhati gaya hidup minimalis itu telah membuka mata saya tentang manfaat gaya hidup tersebut.

Sebenarnya Marie Kondo sendiri berpendapat metode berbenah yang diajarkannya (metode yang disebut dengan “KonMari“) bukanlah gaya hidup minimalis:

Many people have equated my tidying method with minimalism, but it’s quite different. Minimalism advocates living with less; the KonMari Method™ encourages living among items you truly cherish. (Banyak orang yang menyamakan metode berbenah saya dengan minimalism, tetapi sesungguhnya itu sedikit berbeda. Minimalism mengajak hidup dengan sedikit barang, sedangkan metode KonMari mendorong hidup dengan barang-barang yang benar-benar anda cintai.)” (Marie Kondo)

Well, menurut saya apa yang diajarkan Marie Kondo dan gaya hidup minimalis sebenarnya pada akhirnya sama saja: menyingkirkan apa yang mengalihkan perhatian dari hal-hal yang penting, agar bisa fokus kepada hal-hal yang penting tersebut.

Caranya saja yang berbeda, ada yang menggunakan metode KonMari, ada yang pakai metode 333, dan lain-lain.

Makanya tak heran Marie Kondo dan bukunya menjadi populer di kalangan praktisi gaya hidup minimalis, karena metode KonMari adalah salah satu tool yang powerful untuk menerapkan gaya hidup tersebut.

Tulisan tentang pengalaman saya kuliah di Jepang dan perkenalan (bertahap) dengan gaya hidup minimalis ini saya buat karena salah satu tema yang insya Allah akan sering saya angkat dalam blog Dekat.Page ini adalah gaya hidup minimalis.

Gaya hidup minimalis pada akhirnya bukan hanya sekadar mengurusi barang, melainkan juga pilihan hidup.

Sebagai seorang muslim, saya meyakini kehidupan di dunia ini hanya sementara. Kehidupan yang sejati hanya di akhirat.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 185).

Kehidupan di dunia adalah tempat manusia beramal untuk akhirat. Tujuan akhir hidup seorang muslim adalah masuk surga dan memperoleh kenikmatan tertinggi: melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Meski kehidupan di akhirat adalah yang utama, tetapi tidak sedikit orang yang mengorbankan keselamatan akhiratnya demi kehidupan dunianya.

Tetapi tunggu, bahkan, lebih parah lagi tidak sedikit orang yang mengorbankan keselamatan akhiratnya demi……. kehidupan dunia orang lain. Dia sendiri tidak mendapat apa-apa selain kesia-siaan.

Tidak sedikit juga orang yang merelakan bersusah-susah kemudian, demi kelihatan keren sesaat, istilahnya: “biar tekor asal kesohor“.

Nah, metode KonMari maupun metode-metode gaya hidup minimalis lainnya pada dasarnya adalah alat untuk membiasakan diri menganalisis apa yang benar-benar penting buat diri, hidup dengan penuh kesadaran, hidup dengan pilihan sendiri, bukan karena tren, bukan karena biar dilihat orang.

Baiklah, demikian tulisan singkat tentang gaya hidup minimalis. Saya cukupkan sampai di sini karena insya Allah akan mengangkat tema ini lagi di tulisan-tulisan selanjutnya.

Mari subscribe untuk memperoleh notifikasi setiap ada artikel yang baru. Terima kasih atas waktunya.

Gaya hidup minimalis pada akhirnya bukan hanya sekadar mengurusi barang, melainkan juga pilihan hidup. Sebagai seorang muslim, saya meyakini kehidupan di dunia ini hanya sementara. Kehidupan yang sejati hanya di akhirat.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s