Categories
Recharge

Peran Gaya Hidup Minimalis Saat Kebanjiran

Penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan serta peran gaya hidup minimalis dalam membantu merelakan kehilangan.

Dalam artikel review buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, saya mengungkap salah satu perubahan yang saya alami setelah membiasakan berbenah ala KonMari: jadi lebih ringan merelakan. Contohnya saat banjir Februari 2020 silam.

Saya pernah mengalami banjir sebelumnya, tetapi banjir kali ini berbeda. Hal yang baru buat saya sehingga tidak mengantisipasinya.

Saat itu hujan deras turun sepanjang malam. Sekitar jam 5 pagi air mulai masuk ke dalam rumah melalui sela-sela ubin maupun dari luar rumah, tak terbendung. Bahkan pintu yang disumpel kain pun akhirnya jebol bersama suara “brak!!”.

Air masuk merembes dari sela-sela dan mendobrak pintu dengan paksa. Seakan air bah skala rumahan, meluncur ke segala pelosok, merendam barang-barang, termasuk buku.

Ada ratusan buku milik saya yang rusak.

Penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan serta peran gaya hidup minimalis dalam membantu merelakan kehilangan.
Penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan serta peran gaya hidup minimalis dalam membantu merelakan kehilangan.

Ketika banjir telah surut, saya dan keluarga memasukkan barang-barang rusak beserta sampah ke dalam karung untuk kemudian diangkut mobil pick up pengangkut urukan tanah.

Dari pengalaman banjir ini ada 2 hal menjadi perhatian saya.

1. Penegasan Kembali bahwa Dunia Terlalu Rapuh untuk Dicinta secara Berlebihan

Dunia ini terlalu rapuh. Banyak hal dapat terjadi dalam waktu singkat, tidak butuh waktu lama, jika sudah menjadi takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala rusak maka akan rusak.

Ditakdirkan musnah akan musnah. Ditakdirkan mati akan mati.

Dalam waktu singkat, banjir telah memusnahkan buku-buku saya, menyisakan hanya beberapa.

Merusak mainan-mainan penuh kenangan yang saya beli selama di Jepang maupun barang-barang lainnya.

Membatalkan berbagai rencana yang telah disusun.

Sungguh, memberikan cinta berlebihan pada dunia ini sama saja memberi cinta pada yang rapuh, fana, akan berakhir.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 185)

2. Gaya Hidup Minimalis Membantu Lebih Ringan untuk Merelakan Kehilangan.

Ada sebuah artikel bagus tentang banjir dan gaya hidup minimalis: “Five Things My Husband and I Learned about Minimalism when Our Floor Flooded“. Tentang pengalaman seorang praktisi gaya hidup minimalis yang mendapati rumahnya kebanjiran dan betapa pembiasaan terhadap gaya hidup tersebut membantu dia dan suaminya menghadapi rumah kebanjiran. Saya sangat merekomendasikan untuk membacanya.

Gaya hidup minimalis adalah fokus pada apa yang benar-benar berharga atau penting bagi diri dan meninggalkan apa yang menghalangi diri dari hal berharga tersebut.

Pembiasaan berbenah ala KonMari telah membentuk perspektif gaya hidup minimalis dalam diri saya dengan cara mendorong saya berlatih membuang barang-barang yang tidak spark joy.

Gaya hidup minimalis terasa sangat membantu untuk memprioritaskan pada apa yang lebih penting saat terjadi banjir lalu, yaitu keselamatan diri dan keluarga dan barang yang benar-benar penting.

Saya bilang jadi lebih ringan merelakan, maksudnya adalah membantu menenangkan hati untuk merelakan, jadi bukan berarti jadi ringan merelakan segalanya dalam artinya segala hal mudah direlakan tanpa kesulitan apa-apa.

Apakah setelah ini saya jadi santai kalau banjir? Tidak, bukan begitu. Saya tetap sedih dan tak ingin banjir lagi. Karena saya jadi bingung bagaimana tempat tinggal saya dan keluarga, yang akhirnya kami mengungsi ke rumah saudara.

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah).

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah).

Bahkan saat itu saya memakai 1 pakaian untuk 2 hari, jelas bukan kondisi yang nyaman.

Selain itu tentunya dampak banjir yang menimbulkan berantakan dan potensi penyakit, perlu usaha keras untuk membenahi agar kembali seperti semula.

Rasanya ingin skip ke masa depan di mana semua urusan berbenah itu tuntas.

Tetapi di sisi lain, saya jadi tidak merasa masalah dengan apa yang tidak berhubungan langsung dengan keselamatan dan kesejahteraan saya dan keluarga, seperti koleksi buku, koleksi mainan, foto, kenangan, pakaian berlebih, dan semisal itu.

Di sinilah gaya hidup minimalis berperan.

Saat mendapati buku-buku milik saya rusak, saya merasa tak perlu berlama-lama menjemurnya atau mengupayakan recovery. Langsung buang saja. Masukin karung.

Penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan serta peran gaya hidup minimalis dalam membantu merelakan kehilangan.

Terasa ringan saat membuangnya. Tanpa beban.

Buku-buku itu, yes, pernah mengisi rak buku saya. Tetapi sekarang mereka harus pergi.

It’s the time for them to go. Bahkan rak bukunya juga sudah hancur.

Lebih baik membiarkan mereka pergi dan tidak berlarut memikirkan apa yang sudah rusak dan mengupayakan agar bisa diperbaiki padahal sudah rusak dan tidak akan pernah kembali seperti semula, sementara ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan.

Bahkan dengan tetap menyimpannya hanya akan menjadi barang-barang yang tak lagi spark joy.

Dengan segera menyingkirkan barang-barang rusak tersebut tanpa terpikir untuk memperbaiki atau menyelamatkannya, saya bisa lebih fokus mensyukuri apa yang tersisa dan memperhatikan keselamatan dan keamanan bersama. Tidak boleh lupa memperbanyak istighfar yang sering kali terlalaikan.

Kegiatan menyingkirkan barang-barang tersebut malah pada level tertentu menghadirkan sensasi rasa yang unik, seakan saya sedang melakukan marathon berbenah ala KonMari. Suatu perasaan yang sepertinya bisa dipahami para penggemar KonMari.

Sebagai kesimpulan, dunia ini terlalu rapuh untuk dicinta, mari fokus pada apa yang benar-benar penting dan mengurangi apa yang mengalihkan perhatian dari hal yang penting tersebut.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s