Categories
Recharge

Memaknai Kalimat: “It wasn’t for Me” (Itu bukan buat Saya)

Seseorang tidak harus mencoba semua pilihan yang ada di hadapannya hanya karena pilihan-pilihan itu dimunculkan di hadapannya, sebab barangkali beberapa dari pilihan itu bukan untuknya.

Baru-baru ini saya menemukan artikel ringkas yang life-changing, menginspirasi, judulnya: It wasn’t for me atau bahasa Indonesianya: “Itu bukan buat saya”.

Artikel yang ditulis oleh seorang penulis bernama Austin Kleon tersebut dibuka dengan kutipan:

“Jika sebuah buku membosankan bagi Anda, jangan membacanya; buku itu tidak ditulis untuk Anda.” (Jorge Luis Borges, seorang penulis)

Kemudian Kleon melanjutkan dengan bercerita, suatu hari seorang pemuda menghentikan Borges di jalan dan bilang kalau dia kecewa dengan buku terakhir sang penulis. Kemudian Borges dengan entengnya menjawab, “Buku itu tidak ditulis buat kamu”.

Kleon menyukai kalimat tersebut karena bernuansa positif. Kalimat tersebut secara tersirat mengatakan, di luar sana ada banyak buku yang ditulis untuk sang pemuda, tetapi buku yang satu ini tidak termasuk buku tersebut, buku ini bukan untuknya. Dibilang bernuansa positif karena kalimat ini tidak menyebabkan seseorang jadi merasa bersalah kalau tidak menyukai sesuatu, karena sesuatu itu mungkin bukan untuk dirinya.

Kalimat “It wasn’t for me” yang berarti “Itu bukan buat saya” menyiratkan bahwa hari ini buku itu bukan buat saya, tetapi seiring berjalannya waktu, manusia bisa berubah, mungkin saja suatu saat buku itu jadi buat saya.

Artikel yang begitu ringkas tadi buat saya adalah inspirasi yang layak untuk dishare.

Hidup ini penuh dengan pilihan. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, seseorang akan menghadapi pilihan. Mulai dari sekadar memilih apa akan minum teh manis hangat di pagi hari atau air galon saja. Saat mandi pun memilih apa akan pakai sabun batangan atau sabun cair.

Tetapi tidak jarang seseorang menemukan pilihan yang lebih rumit, dalam arti memerlukan waktu lebih untuk berpikir. Seperti pilihan tempat dan jurusan kuliah, akan jualan apa, tinggal di mana, dan banyak lagi.

Perkataan “it wasn’t for me” tadi akan menyadarkan seseorang bahwa di dunia ini ada begitu banyak pilihan. Ada pilihan-pilihan yang cocok untuknya, tetapi ada juga yang tidak cocok untuknya, yang artinya dia tidak perlu mengambilnya.

Seseorang tidak harus mencoba semua pilihan yang ada di hadapannya hanya karena pilihan-pilihan itu dimunculkan di hadapannya. Sebab barangkali beberapa dari pilihan itu bukan untuknya.

Sewaktu SMA saya pernah ikut lomba sepak bola antar kelas. Saya kewalahan bermain sepak bola, sejak kecil saya memang langka bermain sepak bola kecuali di game Super Nintendo. Di lomba sepak bola tersebut kelas saya kalah.

Sewaktu menjadi mahasiswa S1, di jeda acara raker organisasi kampus yang saya ikuti, kami bermain sepak bola dan saya menjadi kiper. Malamnya saya menggigil serasa hampir mati. Kenapa? Ternyata kaki saya terantuk batu dengan luka cukup dalam dan saya baru menyadarinya ketika akan tidur. Mungkin infeksi sehingga saya menggigil.

Saya tidak pernah cocok bermain sepak bola. Selain itu sebenarnya saya juga tidak cocok bermain tenis meja dan bulu tangkis. Tetapi apa itu berarti saya tidak cocok olah raga?

Ternyata tidak juga, belakangan saya baru menyadari kembali bahwa saya sebenarnya orang yang suka olahraga tetapi olahraga semisal jogging, berenang (kalau sudah masuk kolam saya bisa betah hingga 2 jam), atau olah raga fisik semacam ini:

Kalau saya hendak memperdalam kemampuan saya dalam olah raga tentu saya tidak akan ikut kelas pelatihan sepak bola, melainkan bela diri.

Itu hanya contoh sederhana saja.

Contoh lainnya, kadang-kadang seseorang sudah terlanjur memilih sesuatu, tetapi di tengah perjalanan ternyata merasa tidak cocok dengannya. Dengan mengucapkan “it wasn’t for me” maka seseorang diharapkan jadi lebih mudah merelakan untuk berhenti.

Seseorang baru saja diterima kerja di sebuah perusahaan. Ini bukan lamaran pekerjaan pertama, melainkan lamaran dalam rangka meningkatkan karir, pindah kerja dari tempat yang lama untuk memperoleh karir yang lebih bagus di tempat baru.

Sejujurnya, menurut teman-teman akrab yang mengenalnya sejak lama, dia tidak cocok bekerja di situ karena tidak sejalan dengan prinsip yang selama ini dipegangnya apalagi hanya karena alasan karir bukan karena kebutuhan yang benar-benar mendesak, meski ada juga yang bercanda bilang begini: “winner never quit!“.

Setahun kemudian, dia pindah dari pekerjaan tersebut ke tempat yang lebih cocok untuknya.

Perkataan “It wasn’t for me” menyiratkan bahwa di luar sana ada pekerjaan-pekerjaan yang cocok untuknya, yang sesuai dengan prinsip yang selama ini dipegangnya, tetapi tidak yang satu itu, maka tidak ada salahnya dan bukan berarti kalah jika dia segera memutuskan untuk quit.”

Kalimat “it wasn’t for me” tentunya mesti dipahami secara cermat.

Kalimat tersebut diucapkan dalam rangka mengevaluasi apakah pilihan yang akan atau sedang diambil adalah “for me” ataukah mungkin perlu segera banting stir jika ternyata dari hasil evaluasi mendalam pilihan tersebut “wasn’t for me“. Kalimat tersebut tidak diartikan sebagai mudah berubah-ubah.

Sebagai penutup, di luar sana banyak website dan blog yang ditulis untuk Anda, well, saya harap blog Dekat.Page ini untuk Anda, for you. 🙂

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s