Categories
Recharge

Apa Penyuka Gaya Hidup Minimalis Rumahnya Selalu Rapi? (dan 4 Pertanyaan Lainnya)

Meski identik dengan kerapian, gaya hidup minimalis adalah proses, bukan tujuan. Daripada “selalu rapi” kata-kata yang lebih tepat adalah “lebih rapi”, karena “lebih rapi” menandakan proses menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Beberapa orang yang kenal dekat dengan saya mengetahui saya tertarik dengan gaya hidup minimalis. Kalau sudah ngobrol topik ini mata saya berbinar. 😀

Terkadang teman-teman bertanya untuk mengklarifikasi beberapa hal. Menurut saya ada baiknya jika saya share dalam sebuah tulisan, yaitu tulisan ini, membahas tanya-jawab tersebut.


1. Apa yang Membuatmu Tertarik Gaya Hidup Minimalis?

Yang membuat saya tertarik dengan gaya hidup minimalis adalah fakta bahwa perspektif minimalis telah membantu saya menjadi lebih fokus.

Silakan membaca review buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, di situ saya mengungkap beberapa perubahan yang saya alami setelah menerapkan berbenah ala KonMari yang merupakan salah satu referensi gaya hidup minimalis.

Perubahan yang saya ungkap mungkin tidak selalu relevan dengan apa yang dibutuhkan orang lain, tetapi buat saya itu sangat membantu saya menjadi lebih fokus pada apa yang penting buat hidup saya.

Saya menyayangkan jika gaya hidup minimalis diidentikan dengan “berakar dari Jepang” atau “dari pertapa” dan sebagainya. Karena gaya hidup minimalis milik semua orang dan di dalam Islam ada yang disebut zuhud, meski gaya hidup minimalis belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan zuhud.

Lihat saja rumah Fumio Sasaki, salah seorang praktisi gaya hidup minimalis dari Jepang, masih kalah minimalis dengan rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.


2. Tidak Mau atau Tidak Mampu?

“Kamu bilang salah satu perubahan yang kamu alami, di antaranya menjadi lebih berpikir jernih sebelum membeli barang, dan sekarang tidak terlalu berminat lagi terhadap action figure, kamu bilang itu tidak lepas dari peran buku The Life-Changing Magic of Tidying Up dan terbiasa berbenah metode KonMari. Apa benar begitu atau jangan-jangan karena sekarang kamu sudah punya 2 tanggungan, yaitu istri dan anak?”

Well, gaya hidup minimalis memang sangat berguna ketika seseorang punya keterbatasan finansial.

Memang logis kalau setelah saya berkeluarga, saya tidak bisa seleluasa dulu dalam membeli mainan action figure. Sekarang ini daripada saya beli Gundam seharga 1 juta mending saya pakai buat imunisasi anak, bukan? Atau untuk jalan-jalan bersama keluarga (saya selalu berharap bisa main ke Jatim Park lagi).

Tetapi untuk mengetahui apakah gaya hidup minimalis seseorang dipengaruhi keterbatasan finansial atau bukan, bisa diuji dengan tes apa yang saya sebut “tes jika punya uang lebih banyak“:

Jika seseorang punya uang lebih banyak dari yang dimilikinya sekarang apakah ia akan membeli benda itu?

Contohnya, saya suka Apple. Saya berharap saya punya iPhone lagi seperti dulu waktu kuliah di Jepang beberapa tahun silam. Iphone itu sudah rusak terendam banjir. Sekarang membeli iPhone lagi sebagai pengganti yang rusak itu bukan menjadi prioritas saya.

Masih ada keperluan lain yang perlu saya danai, misalnya blog ini, domain, serta beberapa layanan web hosting yang saya sewa.

Tetapi andai saya punya uang 1 miliar, tentu tanpa berpikir panjang saya akan membeli iPhone keluaran terbaru.

Namun ada juga barang-barang yang meski saya punya uang lebih banyak dari yang saya miliki saat ini saya tetap tidak berminat membelinya.

Nah, ketika orang mulai menerapkan gaya hidup minimalis, dia akan menemukan barang-barang yang ternyata tidak benar-benar dia inginkan.

Dalam hal ini, saya belum tentu akan membeli action figure keluaran terbaru sekalipun punya uang berlimpah, karena memang antusiasme saya terhadap action figure sudah tidak sebesar dulu.

Gaya hidup minimalis akan mendorong orang untuk membeli apa yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkannya, serta tidak membeli apa yang tidak diinginkan atau dibutuhkannya, terlepas dia sebenarnya mampu beli atau tidak.


3. Kamu Tertarik Gaya Hidup Minimalis karena Rumah Kamu Sempit ya kan?

Gaya hidup minimalis memang akan sangat membantu orang-orang yang tinggal di tempat tinggal yang sempit. Seperti saat saya kuliah di Jepang di mana saya tinggal di asrama mahasiwa yang tidak luas, mau tidak mau saat itu saya jadi lebih memperhatikan barang apa yang akan saya bawa ke dalamnya.

Tapi gaya hidup minimalis tidak serta merta disimpulkan disebabkan kondisi tempat tinggal di tempat yang sempit.

Ilustrasinya begini, apa di rumah Anda ada kulkas? Jika tidak punya, anggap saja punya, ya.

Apakah kulkas yang Anda punya ukurannya besar?

Anggap saja kulkas Anda berukuran besar.

Sekarang bayangkan, Anda meletakkan pulpen di situ. Apakah terasa oke?

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi saya pribadi tidak menyukai ide itu. Kulkas kecil ataupun besar akan sama saja: akan terasa something wrong kalau saya meletakkan pulpen di dalamnya.

Tidak peduli ukuran kulkas yang saya miliki, saya tak ingin ada pulpen di dalam kulkas saya.

Saya juga tidak ingin ada sisir, pensil, atau kacamata, meskipun benda-benda itu berukuran kecil dan tidak akan mengurangi space yang tersedia untuk menaruh benda-benda yang layak di letakkan di dalam kulkas seperti telur, air mineral, sayuran, atau buah.

Meski tidak mengganggu kapasitas kulkas itu tetapi rasanya ada yang salah kalau saya meletakkan pulpen di dalam kulkas.

Itulah gaya hidup minimalis, tidak peduli luas atau sempit tempat tinggalnya, seseorang yang menerapkan gaya hidup minimalis akan berupaya hanya memasukkan barang-barang yang penting untuknya. Atau meminjam istilah Marie Kondo, barang-barang yang spark joy.


4. Apakah Orang yang Suka Gaya Hidup Minimalis Rumahnya Selalu Rapi?

Pertama, perlu dipahami bahwa meski identik dengan kerapian, gaya hidup minimalis adalah proses, bukan tujuan. Daripada “selalu rapi” kata-kata yang lebih tepat adalah “lebih rapi”, karena “lebih rapi” menandakan proses menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kedua, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerapian rumah seorang penyuka minimalis, yaitu:

(1) Tinggal sama siapa? Apakah bersama anggota keluarga lain ataukah hanya sendiri?

(2) Jika tinggal bersama anggota keluarga lain apakah semuanya memiliki minat yang sama terhadap gaya hidup minimalis?

Jawaban kedua pertanyaan tersebut akan berpengaruh pada tingkat kebebasan yang dimiliki seorang penyuka gaya hidup minimalis.

Seorang yang tinggal sendiri tentulah yang paling memungkinkan untuk bisa rapi.

Akan tetapi meski hidup bersama keluarga yang anggotanya banyak sekalipun seseorang tetap bisa menerapkan gaya hidup minimalis: untuk dirinya sendiri.

Di kantor, seorang penyuka gaya hidup minimalis tidak serta merta bisa menerapkannya begitu saja, hal ini disebabkan barang-barang kantor tidak bisa diotak-atik, tidak bisa main buang, jual, atau diberikan begitu saja kepada orang lain.

Tingkat implementasi gaya hidup minimalis di kantor bergantung pada karakteristik pekerjaan di kantor itu sendiri. Sehingga harap maklum jika seorang penyuka gaya hidup minimalis ternyata meja kantornya tidak minimalis. Ini bukan ngeles, bukan pula mencari pembenaran, melainkan realistis saja.


5. Saya Pernah Dapat Info Marie Kondo pun Kewalahan Menjaga Rumahnya Tetap Rapi setelah Punya Anak. Apa Metode Berbenah KonMari Benar-Benar Bisa Diterapkan?

Saya tidak tahu darimana berita yang mengatakan demikian.

Tetapi, kalaupun berita itu benar, tentu kita harus memahami goal dari metode berbenah KonMari sebenarnya bukan hanya rapi, juga bukan sedikit barang, melainkan hidup yang hanya dikelilingi apa-apa yang spark joy alias membahagiakan.

Dan jangan lupa, anak-anak yang bermain riang pun adalah sesuatu yang spark joy.

Goal dari metode berbenah KonMari sebenarnya bukan hanya rapi, juga bukan sedikit barang, melainkan hidup yang hanya dikelilingi apa-apa yang spark joy alias membahagiakan. Dan jangan lupa, anak-anak yang bermain riang pun adalah sesuatu yang spark joy.

Well, sekian tanya-jawab ringkas seputar gaya hidup minimalis.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s