Categories
Blogging

Manfaat Blog sebagai Catatan Pengingat dan Pesan untuk Seseorang di Masa Depan

Blog bisa dimanfaatkan sebagai catatan pengingat yang efektif serta berkomunikasi dengan seseorang di masa depan.

Let’s face it, sebagai manusia kadang (atau sering?) kita lupa.

Kadang saya melakukan sesuatu yang menurut saya bagus, heran kenapa tidak melakukannya dari kemarin-kemarin, tetapi kemudian tersadar ternyata saya pernah melakukannya beserta alasan mengapa saya tidak melakukannya lagi.

Contohnya, suatu siang terlintas dalam pikiran saya ide menginstal antivirus tambahan di laptop saya, mendampingi antivirus Microsoft Defender yang sebenarnya selama ini sudah cukup memadai.

Ide menambah antivirus ini muncul setelah saya membaca artikel keamanan siber di sebuah blog, terlebih Microsoft Defender memang bisa digandengkan dengan antivirus lainnya.

Saya menginstal antivirus gratis M yang saya pilih setelah membaca berbagai review. Kemudian heran kenapa dulu saya pernah menginstalnya tetapi kemudian menguninstalnya.

Setelah menginstal antivirus M, saya melakukan full scan laptop.

3 jam kemudian masih belum ada tanda-tanda full scan itu akan berakhir. Kemudian saya pun tersadar, hei, inilah alasan itu, inilah alasan mengapa dulu saya menguninstal antivirus M: karena lama full scannya.

Antivirus tersebut sebenarnya mumpuni, tetapi mungkin kurang cocok dipasang di laptop saya yang speknya tidak terlalu canggih, laptop yang penggunaannya hanya cocok untuk mengetik, bukan buat main game atau desain grafis.

Di lain waktu, saya melihat-lihat layanan web hosting yang sepertinya bagus, meski saya baca review di internet diperoleh kesimpulan yang saling bertolak belakang, ada review yang bilang bagus dan ada juga review yang bilang tidak merekomendasikannya.

Saya heran kenapa ya tidak mencoba layanan web hosting yang itu, saya memang sedang mencari web hosting untuk sebuah project. Untuk project lainnya saya menggunakan web hosting lain.

Kemudian saya menggunakan fitur chat yang tersedia di website web hosting tersebut. Menanyakan beberapa pertanyaan dasar yang ingin saya ketahui jawabannya.

Ternyata jawaban yang diberikan kurang memuaskan, terkesan pihak yang menjawab kurang menguasai informasi mengenai produk yang dijualnya.

Padahal pertanyaan yang saya tanyakan hanyalah pertanyaan sederhana. Provider web hosting lainnya (seperti saya bilang tadi saya juga menggunakan beberapa layanan web hosting lainnya) dengan mudah menjawab pertanyaan itu.

Saya pun teringat, o iya, saya kan sebelumnya memang pernah ingin mencoba layanan web hosting tersebut tetapi urung karena kesan pertama yang saya peroleh kurang baik.

Web hosting tersebut sebenarnya cocok buat orang lain, tetapi mungkin bukan buat saya.

Demikianlah contoh sederhana tentang peluang lupa pada manusia.

Terkadang lupa berdampak lebih serius ketimbang dua contoh yang saya berikan barusan.

Misalnya, seperti saya ungkap dalam tulisan lain di blog ini, saya pernah kuliah di Jepang. Jepang adalah negara yang penduduknya mengingat janji. Prinsip mereka jika suatu janji tidak dikonfirmasi maka janji tersebut tetap berlaku.

Contohnya, suatu ketika saya ada janji dengan orang dinas pendidikan Higashihiroshima, mereka janji akan bertemu saya pukul 12 siang di perpustakaan kampus untuk interview lowongan kerja.

Sampai jam 11.55 JST siang saya tidak dapat kabar apa-apa dari mereka apakah benar-benar akan datang. Saya lihat di perpustakaan kampus mereka belum ada. Eh tahu-tahu jam 12 teng mereka muncul entah darimana. Alhamdulillah saya datang sebelum waktunya sehingga tidak terkejut dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba.

Akan tetapi sekali waktu saya pernah mengalami pengalaman buruk melalaikan janji. Saya pergi jalan-jalan ke Hiroshima City yang jaraknya 40 km dari kampus. Di City, saya ditelepon teman satu lab asal Myanmar, dia menanyakan mengapa saya tidak datang ke lab dosen pembimbing kami sesuai jadwal.

Astaghfirullah, saya benar-benar lupa!

Padahal saya pegang iPhone yang merupakan ponsel pintar alias smartphone. Sayangnya saya sebagai penggunanya kurang pintar, mestinya saya menggunakan ponsel itu buat mencatat agenda pertemuan.

Saya perhatikan orang-orang Jepang yang saya temui juga mencatat agenda pertemuan, mereka mencatatnya di buku agenda. Terlihat klasik dan elegan.

Saya pun mulai mencatat janji-janji saya di ponsel. Sejak itu tidak pernah ada lagi janji yang terlupakan.

Mencatat adalah aktivitas penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mencatat bisa membantu seseorang mengingat janji, informasi, pengetahuan, inspirasi, atau peristiwa.

Saya mencatat beberapa peristiwa penting yang pernah saya alami. Penting di sini tidak selalu peristiwa besar atau luar biasa. Bisa saja peristiwa kecil tetapi punya hikmah penting yang saya perlukan dalam menjalani kehidupan.

Contohnya, saya pernah membantu seorang mahasiswa asal negara lain yang meminta tolong ikut ke labnya memperbaiki komputernya.

Dia meminta tolong kepada beberapa orang yang ditemuinya di Masjid As-Salam Hiroshima usai shalat Jumat, tetapi semua menolaknya.

Saya kasihan dan menghampirinya, menyanggupi membantunya.

Setelah saya cek, saya menyimpulkan komputernya perlu diinstal ulang.

Masalahnya proses instal ulang itu ternyata berjalan jauh lebih lama dari yang saya harapkan. Dari jam 4 saya membantunya, pekerjaan memperbaiki komputer itu baru selesai jam 11 malam!

Itu bukanlah hal terburuk di hari itu, sebab hal yang terburuk adalah dia memohon-mohon sambil menahan saya untuk tidak istirahat dulu pulang ke apato. Dia ingin saya menyelesaikannya sampai tuntas di labnya.

Saya tidak tahu berapa ongkos pekerjaan ini di jasa servis komputer di Jepang, mestinya dia menghargai orang yang membantunya dengan gratis. Saya lelah dan lapar.

Hal buruk lainnya? Besok paginya dia mengetuk pintu apato saya ingin menanyakan kenapa emailnya tidak bisa dibuka, dia mengira itu terjadi karena instal ulang yang saya lakukan. Duh!

Betapa niat membantu malah jadi direpotkan, rasanya seperti sedang menjadi objek manipulasi. Bahkan saya menjadi tertuduh yang menyebabkan emailnya tidak bisa dibuka.

Saya pun mencatat peristiwa itu agar tidak terulang kembali, sebab bisa saja akan ada orang-orang semacam itu dikemudian hari.

Saya mencatat: jangan pernah menolong orang yang tidak tahu apa yang dia minta tolongkan. Dalam kasus barusan, orang yang meminta tolong tidak mengerti apa-apa tentang instal ulang dan betapa tidak ada hubungannya antara instal ulang komputer dengan email yang tidak bisa dibuka.

Jika tetap ingin menolongnya, mesti bersedia menerima konsekuensinya. Tetapi ingat, waktu kita di dunia ini terbatas, demikian pula uang dan energi, lebih baik menggunakan sumber daya yang terbatas itu untuk hal yang tepat.

Jika bukan kita sendiri yang menghargai waktu berharga kita, siapa lagi?

Dalam kasus itu sebenarnya saya melihat tanda-tanda di mana mahasiswa lain yang juga mengenalnya tidak mau menolongnya, termasuk rekan senegaranya

Well, tetapi tidak masalah, karena itu menjadi pelajaran berharga yang bisa saya catat.

Mencatat untuk mengingat, sekaligus menjadi pesan untuk diri saya sendiri di masa kini dan masa depan.

Selain di buku catatan, ponsel, email, atau aplikasi online, saya menemukan salah satu sarana efektif untuk mencatat hal yang perlu diingat adalah blog, seperti yang saya lakukan di blog ini.

Malah itulah yang dilakukan dan disarankan Matt Mullenweg, founder developer WordPress, di blognya.

Matt bilang, tulislah blog untuk dua orang: (1) diri sendiri di masa kini dan di masa depan dan (2) seseorang yang dalam bayangan anda sempurna untuk membacanya (meski belum tentu dia akan membacanya) dan seseorang yang pasti akan membacanya karena hubungan yang dimiliki (ibu, istri/suami, anak dan lain-lain).

Untuk yang nomor 1, lengkapnya Matt bilang begini:

“.. write for yourself, both your present self whose thinking will be clarified by distilling an idea through writing and editing, and your future self who will be able to look back on these words and be reminded of the context in which they were written. ( .. tulislah untuk dirimu sendiri, baik dirimu saat ini yang pemikirannya akan diklarifikasi dengan menyaring ide melalui penulisan dan penyuntingan, dan dirimu di masa depan yang akan dapat melihat kembali kata-kata tersebut dan diingatkan akan konteks penulisannya.)

Dengan menulis blog untuk di baca lagi di masa depan (besok juga sudah bisa disebut masa depan, bukan? 🙂 ), maka bisa dibilang menulis blog adalah mengirim pesan ke masa depan.

Menulis blog ternyata bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan seseorang di masa depan, dan orang itu salah satunya adalah diri kita sendiri. Mengingatkan diri saya di masa depan akan apa yang pernah terjadi di masa lalu, apa yang baik, apa yang buruk, maupun apa yang perlu dilakukan.

Jika Anda seperti saya, kadang suka lupa, Anda bisa mencoba mencatatnya di buku catatan, ponsel, atau aplikasi online. Anda juga bisa menulisnya di blog jika Anda pikir catatan tersebut bisa bermanfaat bagi yang membacanya.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s