Categories
Resume

Perkembangan Islam di Jepang Menurut Orang Jepang

Resume kajian online yang disampaikan seorang mualaf Jepang. Bagaimana pandangannya terhadap perkembangan Islam di Jepang?

Saat mengetahui ada kajian online ini saya langsung antusias mengikuti dan bikin catatannya di blog Dekat.Page:

Kajian Online "Selayang Pandang Perkembangan Islam di Negeri Sakura" 20 September 2020.
Kajian Online “Selayang Pandang Perkembangan Islam di Negeri Sakura”

Kajian yang berjudul “Selayang Pandang Perkembangan Islam di Negeri Sakura” tersebut diselenggarakan oleh UFA Office pada hari Ahad, 20 September 2020 melalui Zoom.

Sebagai pembicara adalah Micky Sakata, Lc. (alumus Universitas Islam Madinah), penerjemah Achmad Setianto (profesional engineer & ex penyiar TV), dan moderator Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

UFA Office penyelenggara kajian online ini mungkin singkatan dari Ustadz Firanda Andirja Office (atau typo Official?). Ustadz Firanda Andirja adalah seorang dai yang sudah cukup dikenal di tanah air, video kajiannya banyak bertebaran di Youtube.

Selanjutnya saya akan mengungkap alasan saya antusias mengikuti kajian ini serta menyajikan ringkasan kajian beserta tanya-jawabnya.


1. Alasan Saya Antusias Mengikuti Kajian Online Ini

Ada dua alasan kenapa saya antusias dengan kajian ini.

(1) Topiknya: perkembangan Islam di Jepang

Berhubung saya pernah tinggal di Jepang selama 2 tahun, yaitu saat kuliah di Hiroshima University pada 2012-2014 lalu, saya ingin mengupdate wawasan saya akan perkembangan Islam di sana.

Sambil kuliah, saya juga mengikuti beberapa kegiatan keislaman seperti menjadi pengurus Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) atau Hiroshima Muslim Association, pewakilan Indonesia pada panitia Ramadhan 2014, dan pengurus Keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima (KMIH), di luar kegiatan umum seperti menjadi pengurus Persatuan Pelajar Indonesia – Hiroshima (PPIH) serta bekerja paruh waktu sebagai non-Japanese staff member di program E-Square yang diselenggarakan oleh Higashihiroshima City Board of Education (dinas pendidikan setempat).

Saat berada di Jepang saya merasa beberapa kemudahan maupun kesulitan yang dihadapi sebagai seorang muslim. Dari pengalaman saya, orang-orang Jepang di sekitar saya tinggal adalah orang-orang yang ramah.

Selama bulan Ramadhan 2014, beberapa orang Jepang datang ke masjid As-Salam Hiroshima untuk ikut makan bersama di acara buka puasa. Malah ada yang ikut bantu-bantu menyiapkan makanan, ada juga yang menyumbang makanan dan minuman.

Saya kenal dekat dengan seorang penyedia Home Stay Family yang bekerjasama dengan kampus. Saya pernah menginap di rumahnya sebanyak dua kali. Pernah diajak ikut Japanese speech contest (hal paling nekad yang pernah saya lakukan di Jepang karena saya tidak bisa bahasa Jepang). Sesekali beliau mengajak saya makan malam. Biasanya kami janjian di Masjid Hiroshima, maklum biasanya beliau mengajak makan di Sabtu malam sementara sorenya saya mengajar ngaji anak-anak di masjid. Beliau sudah dua kali main ke Indonesia dan sekali menginap di rumah saya.

Di Jepang, memperoleh informasi kehalalan makanan sebenarnya hal yang cukup mudah. Kita selalu bisa menghubungi call center perusahaan produsen makanan atau minuman untuk menanyakan bahan yang ingin kita konfirmasi, misalnya minyak yang tertulis di kemasan makanan ringan itu minyak nabati ataukah hewani. Mereka pasti akan menjawab apa adanya.

Nah kesulitannya adalah tidak semua muslim yang tinggal di Jepang untuk sementara waktu (kuliah misalnya) bisa lancar berbahasa Jepang, misalnya saya (dulu nggak bisa bahasa Jepang, sekarang lupa he he..). Biasanya saya akan minta tolong teman menerjemahkan ingredients atau menanyakan ke perusahaan.

Kesulitan lainnya, banyak makanan dan minuman yang setelah dicek ingredientsnya atau menghubungi produsennya ternyata mengandung bahan yang tidak halal untuk dikonsumsi.

Nah, sejak kepulangan saya ke Indonesia, saya beberapa kali mendengar kabar baik seperti adanya supermarket di dekat tempat saya tinggal dulu mulai menyediakan corner produk halal.

Saya juga membaca berita sekarang di beberapa tempat umum seperti bandara telah tersedia tempat shalat yang bersih dan wangi, standar Jepang lah.

Tentunya hal semacam ini akan semakin memudahkan mahasiswa maupun orang Islam yang tinggal di Jepang baik untuk sementara waktu maupun sebagai permanen resident.

(2) Pembicaranya: Micky Sakata, Lc.

Pertama, menurut saya menarik jika kita mendengar perkembangan Islam di Jepang dari sudut pandang orang Jepang sendiri karena mereka adalah warga di sana yang telah dan akan tinggal lama di sana. Berbeda dengan saya yang hanya 2 tahun tinggal di sana yang tentu banyak hal yang belum saya ketahui atau rasakan.

Kedua, saya kenal beliau. Seperti saya ceritakan di atas, saya pernah menjadi pengurus HICC dan menjadi perwakilan Indonesia di panitia Ramadhan 2014.

Saat itu Masjid As-Salam Hiroshima menerima kedatangan beliau bersama keluarga sebagai imam masjid selama bulan Ramadhan. Sakata-sensei baru pulang dari Arab Saudi, libur kuliah. Beliau datang ke Hiroshima bersama istrinya (orang Indonesia) dan 4 orang anaknya.

Sebagai gambaran, inilah acara buka puasa di Masjid As-Salam Hiroshima yang diselenggarakan setiap hari selama bulan Ramadhan 2014.

Sebagai gambaran, inilah acara buka puasa di Masjid As-Salam Hiroshima yang diselenggarakan setiap hari selama bulan Ramadhan 2014.
Buka puasa di Masjid As-Salam Hiroshima.
Sebagai gambaran, inilah acara buka puasa di Masjid As-Salam Hiroshima yang diselenggarakan setiap hari selama bulan Ramadhan 2014.
Buka puasa di Masjid As-Salam Hiroshima.

Mr. Micky Sakata atau selanjutnya di tulisan ini saya sebut Sakata-sensei, menjadi imam masjid As-Salam Hiroshima selama 2 bulan, yaitu bulan Ramadhan dan beberapa hari sebelum dan setelahnya. Selama di masjid, mereka tinggal di apato yang disediakan di lantai 3 masjid.

Mr. Micky Sakata menerima piagam penghargaan dari Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) atas kontribusinya selama Ramadhan 2014.
Mr. Micky Sakata menerima piagam penghargaan dari Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) atas kontribusinya selama Ramadhan 2014.

Sebagai panita Ramadhan, saya bertugas menyiapkan acara buka puasa. Setiap hari saya datang ke masjid pukul 5 sore (buka puasa sekitar jam 7 malam) untuk berbenah dan menyiapkan makanan.

Selesai shalat tarawih (sekitar jam 10 malam) saya berbenah lagi. Jam 11 malam kembali ke apato naik sepeda.

Selama berbenah itu terkadang saya dibantu oleh anak-anak Sakata-sensei.

Saya dekat dengan anak-anaknya, terutama anak pertama yang bernama Raihan.

Raihan biasanya azan di masjid, bergantian dengan mas Afit teman saya yang mengupayakan shalat 5 waktu di masjid meski jarak masjid ke apatonya cukup jauh. Biasanya Raihan akan kecewa jika keduluan mas Afit azan.

Suasana Ramadhan saat itu sungguh luar biasa indah dan menyenangkan. Di 10 hari terakhir, orang-orang menginap di masjid untuk itikaf.

Rupanya momen indah itu bukan hanya saya yang merasakan, Raihan pun juga demikian. Suatu malam ketika Ramadhan baru saja berlalu, ada teman saya, kang Indra, yang menelepon saya. Katanya dia melihat Raihan barusan pas waktu maghrib tiba, dia berdiri di gerbang masjid menanti orang-orang hadir seperti hari-hari sebelumnya.

Tetapi sayangnya, seperti di masjid-masjid pada umumnya (kecuali mungkin di Arab Saudi tempat Raihan tinggal beberapa tahun terakhir ini) akan mengalami penurunan jamaah ketika Ramadhan usai. Artinya, orang-orang yang datang ke masjid tidak akan seramai hari-hari kemarin ketika itikaf.

Mendengar kabar tersebut, saya segera menghubungi teman-teman agar bisa datang ke masjid lagi di malam itu. Kita perpanjang itikaf yang baru saja berakhir, satu hari lagi. Sebentar lagi Raihan dan keluarganya akan pergi lagi ke Arab Saudi. Kita harus meninggalkan pengalaman terakhir yang berkesan!

Maka jadilah teman-teman saya datang dan kami membuat pose foto ini:

Tetapi sayangnya, seperti di masjid-masjid pada umumnya (kecuali mungkin di Arab Saudi tempat Raihan tinggal beberapa tahun terakhir ini) akan mengalami penurunan jamaah ketika Ramadhan usai. Artinya, orang-orang yang datang ke masjid tidak akan seramai hari-hari kemarin ketika itikaf. Mendengar kabar tersebut, saya segera menghubungi teman-teman agar bisa datang ke masjid lagi di malam itu. Kita perpanjang itikaf yang baru saja berakhir, satu hari lagi. Sebentar lagi Raihan dan keluarganya akan pergi lagi ke Arab Saudi. Kita harus meninggalkan pengalaman terakhir yang berkesan!
Let’s make itikaf great again!

Alhamdulillah, setelah berpisah beberapa hari saya masih sempat ketemu Sakata-sensei dan keluarganya lagi di Tokyo.

Jadi sebelum pergi ke Saudi, mereka sekeluarga mampir dulu ke Tokyo selama beberapa hari. Dan ternyata takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala saya kok pas banget memperoleh undangan konferensi dari Atase Perindustrian di Tokyo. Jadi saya punya alasan untuk bertemu mereka lagi. Jarak Hiroshima ke Tokyo sejauh 800 km atau 4 jam (kalau saya tidak salah, maklum sudah lama) naik Shinkansen.

Berangkatlah saya ke Tokyo dibayari tiket Shinkansen oleh pihak pengundang (Atase Perindustrian Tokyo).

Selama di Tokyo saya menginap di masjid Asakusa, sama seperti Sakata-sensei sekeluarga. Berhubung kamar untuk imam hanya tersedia satu saja maka Sakata-sensei menginap di kamar imam, sedangkan saya di perpustakaan.

Jadi sebelum pergi ke Saudi, mereka sekeluarga mampir dulu ke Tokyo selama beberapa hari. Dan ternyata takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala saya kok pas banget memperoleh undangan konferensi dari Atase Perindustrian di Tokyo. Jadi saya punya alasan untuk bertemu mereka lagi. Jarak Hiroshima ke Tokyo sejauh 800 km atau 4 jam (kalau saya tidak salah, maklum sudah lama) naik Shinkansen. Selama di Tokyo saya menginap di masjid Asakusa, sama seperti Sakata-sensei sekeluarga. Berhubung kamar untuk imam hanya tersedia satu saja maka Sakata-sensei menginap di kamar imam, sedangkan saya di perpustakaan.
Jalan-jalan di Tokyo bersama Sakata-sensei dan keluarga.
Jadi sebelum pergi ke Saudi, mereka sekeluarga mampir dulu ke Tokyo selama beberapa hari. Dan ternyata takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala saya kok pas banget memperoleh undangan konferensi dari Atase Perindustrian di Tokyo. Jadi saya punya alasan untuk bertemu mereka lagi. Jarak Hiroshima ke Tokyo sejauh 800 km atau 4 jam (kalau saya tidak salah, maklum sudah lama) naik Shinkansen. Selama di Tokyo saya menginap di masjid Asakusa, sama seperti Sakata-sensei sekeluarga. Berhubung kamar untuk imam hanya tersedia satu saja maka Sakata-sensei menginap di kamar imam, sedangkan saya di perpustakaan.
Melihat Skytree.

Saat perpisahaan pun tiba, Sakata-sensei dan keluarganya meninggalkan Jepang dari Haneda Airport.

Saat perpisahaan pun tiba, Sakata-sensei dan keluarganya meninggalkan Jepang dari Haneda International Airport.
Farewell

2. Ringkasan Kajian Online Selayang Pandang Perkembangan Islam di Negeri Sakura

Nah, selanjutnya adalah ringkasan kajian online tersebut. Perlu saya sampaikan bahwa isi kajian ini merupakan pengamatan atau opini pribadi Sakata-sensei, sehingga jika ada yang perlu dikonfirmasi bisa menghubungi beliau atau bisa juga menanyakan di form komentar (nanti saya bantu tanyakan, insya Allah).

Berhubung saya mencatat dengan menggunakan pulpen dan kertas (saya lebih terbiasa dan lebih cepat mencatat dengan laptop) mungkin ada hal yang terlewati. Yah, kira-kira seperti inilah mencatatnya:

"Ayah, aku pinjam pulpennya dong..."
“Ayah, aku pinjam pulpennya dong…”

Well, inilah yang berhasil saya tangkap.

Islam di Jepang punya sejarah yang pendek, baru 130 tahun lalu (1889) ada orang pertama Jepang yang memeluk Islam yaitu Shotaro Noda, seorang Jurnalis. Selain itu ada juga Umar Yamaoka (1909). Masjid pertama dibangun pada tahun 1931 tetapi hancur saat Perang Dunia II sehingga masjid tertua saat ini yang ada di Kobe.

Saat ini di setiap kota besar atau prefektur di Jepang ada masjid. Tahun 1953 Japan Muslim Association (JMA) berdiri, merupakan organisasi keagamaan di Jepang yang besar. Sekarang Sakata-sensei menjadi salah satu direktur di sana.

Kegiatan JMA antara lain penyelenggaraan shalat Jumat, shalat 5 waktu, tarawih di bulan Ramadhan, penerbitan buletin, serta perkuliahan. Baru-baru ini telah berhasil membangun pemakaman muslim di Jepang. (Catatan saya: ini adalah prestasi yang layak diapresiasi, saya sendiri pernah terlibat dalam pembahasan rencana pembangunan pemakaman muslim di Jepang bersama Direktur HICC, namun sepertinya tidak berlanjut karena persyaratan yang ketat — saya belum update lagi sejak pulang ke Indonesia).

Masjid di Jepang bentuknya mirip gedung biasa seperti gedung-gedung lainnya. Umumnya menempati ruangan atau apartemen yang disewa. Masjid yang berbentuk masjid misalnya Masjid Camii di Tokyo, Kobe Mosque, Masjid Gifu, dan Masjid Fukuoka.

Solusi harga tanah di Jepang yang mahal untuk membangun masjid? Berbagai komunitas muslim yang berasal dari berbagai negara baik mereka pelajar, pedagang, dan sebagainya, mengumpulkan donasi untuk membangun masjid. Ada juga yang membangun masjid sendiri. Ada juga bantuan dari negara luar seperti Turki, Arab Saudi, dan Indonesia. Indonesia punya Sekolah Republik Indonesia Tokyo yang ada masjidnya.

Sakata Sensei senang menjelajah masjid-masjid di Jepang. Masjid favoritnya adalah Masjid Tokyo Camii, karena arsitekturnya yang indah, serta Masjid Fukuoka, selain karena Sakata Sensei besar di Fukuoka juga karena masjid ini dibangun dari scratch seperti masjid sungguhan dan ada orang Jepang asli yang terlibat pembangunannya.

Demografi muslim di Jepang, menurut estimasi Sakata Sensei:
40% orang Indonesia
30% Pakistan dan India
30% sisanya berasal dari Afrika dan negara-negara lainnya.

Karena tidak ada sensus penduduk yang secara khusus menghitung jumlah penganut agama maka belum ada data yang tersedia mengenai berapa jumlah muslim di Jepang, paling hanya prediksi 200.000-300.000 orang.

Sekarang ada second generation dan third generation, mereka yang merupakan keturunan imigran atau half Japan-half other. Saat ini masih jarang ditemui ada orang Islam generasi kedua dan ketiga yang pergi ke masjid. Pendidikan Islam di keluarga kurang memadai.

Tentang Sakata-sensei: ayah beliau pernah kuliah di Amerika Serikat. Di sana bertemu dengan seorang wanita berkebangsaan AS, menikah dengannya, dan lahirlah Sakata-sensei di sana.

Saat berusia 1 tahun mereka kembali ke Jepang karena ayahnya mendapat pekerjaan di Jepang. Saat beliau berusia 15 tahun, mereka pergi lagi ke AS, tinggal di sana hingga Sakata-sensei lulus SMA dan kuliah.

Tahun 2001 terjadi peristiwa 11 September, menurut beliau ini adalah peristiwa penting dalam hidupnya yang membuatnya tertarik mempelajari berbagai agama, hingga sampailah kepada Islam dan berminat terhadapnya.

Tahun 2004 Sakata-sensei masuk Islam dan tahun 2007 pergi belajar ke Universitas Islam Madinah.

Pernah tidak percaya pada masa depan, diri sendiri, dan dunia. Ia pun mempelajari berbagai agama dan dia menemukan jawaban di Islam yaitu Tauhid. Beliau mencari bukti adanya Tuhan dan itu ditemukannya di dalam Al Qur’an. Beliau pun kemudian mendengarkan dan membaca Al-Qur’an.

Alasan beliau ingin belajar ke Arab Saudi adalah untuk mempelajari Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Punya sahabat orang Malaysia yang sering hangout bersama, lalu sang sahabat mengajak dengan santainya, ayo pergi ke Mekkah dan Madinah.

Beliau sempat kesulitan memperoleh lembaga pengajaran bahasa Arab di AS, sehingga akhirnya pergi ke Tokyo dan belajar di Arabic Islamic Institute (AII) di Tokyo.

Di AII beliau belajar bahasa Arab serta bertemu pengajar yaitu Ustadz Zaitun Rasmin yang memberi rekomendasi untuk kuliah di Saudi.

Setelah lulus kuliah dan kembali ke Jepang, Sakata-sensei mengajar di AII. Baginya, masuk Islam memberi perubahan hidup yang dramatis, di antaranya bisa bertemu banyak orang serta mengajar bahasa Arab di AII tempatnya dulu belajar. Awalnya merasa kesulitan karena belum pernah mengajar tetapi kemudian menjadikan kesempatan itu sebagai sarana buat belajar.

Menurut pengamatan Sakata-sensei, saat ini ada 3 hal di Jepang yang perlu mendapat perhatian, yaitu murahachibu (pengucilan sosial, bisa berbentuk bullying/ijime yang terjadi di sekolah, komunitas, bahkan kantor), reading the air (membaca suasana, bagaimana seseorang harus peka terhadap suatu kelompok, geraknya ke mana, perasaannya bagaimana), dan eye of men (menaruh perhatian besar pada pandangan orang lain terhadap diri). Menurut beliau, 3 hal tersebut bisa menimbulkan masalah tersendiri dan solusinya adalah kesadaran penuh terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu Tauhid. Dengan Tauhid maka diri akan dibebaskan dari mental maupun sistem yang membelenggu serta perasaan-perasaan diri yang negatif.


3. Tanya Jawab (5 Pertanyaan)

(1) Shinto itu seperti apa?

Dalam pandangan Sakata-sensei, Shinto adalah agama dan tradisi at a same time. Tidak ada ketentuan-ketentuan seperti aqidah atau belief system seperti di Islam. Di Jepang ada banyak tempat peribadatan Shinto berupa temple/shrine yang disebut Jinja.

(2) Bagaimana cara memperoleh makanan halal?

Di Jepang ada beberapa sertifikat halal yang dikeluarkan berbagai pihak. Hal ini terkadang menjadi masalah tersendiri karena tidak semua yang mengeluarkan sertifikat memahami agama Islam, malah sebagian adalah nonmuslim, sehingga bahkan air, beras, dan barang elektronik juga diberi sertifikat halal.

Di satu sisi ini mungkin bagus juga dari sisi bisnis di mana akan membantu para turis muslim memperoleh produk halal.

Akan tetapi tidak perlu sebanyak itu sertifikasinya. Sakata-sensei kemudian membacakan ayat berikut agar menjadi waspada tidak dengan mudahnya mengatakan halal dan haram tanpa ilmu:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ”Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 116)

Beliau kemudian menyebutkan beberapa makanan yang dapat dikonsumsi seorang muslim yang tinggal di Jepang seperti seafood, sushi, sayur, serta ada juga beberapa toko yang menjual makanan halal.

(3) Kenal Ustadz Firanda sejak kapan dan bagaimana kesan Sakata-sensei terhadap beliau?

Beliau bertemu Ustadz Firanda saat kuliah di Universitas Islam Madinah. Ustadz Firanda adalah seorang yang memimpin jamaah di sana, punya study circle untuk mengajar mahasiswa maupun istri mahasiswa (istri Sakata-sensei pun murid beliau).

Ustadz Firanda memiliki channel Youtube berisi kajian-kajian. Itu adalah hal yang perlu ditiru yaitu berdakwah dengan menggunakan Youtube.

(4) Bagaimana cara seorang muslim beradaptasi di Jepang dan bagaimana pandangan masyarakat Jepang terhadap Islam?

Yang terpenting adalah good character yang diperlihatkan dari tindakan dan perkataan, jadi perlihatkanlah keindahan Islam dengan cara menjadi warga negara yang baik, bersahabat, dan memiliki karakter yang baik.

Karakter menjadi perkara penting yang perlu diperhatikan. Terkait karakter ini, Sakata-sensei pernah bertemu orang-orang muslim dari luar Jepang yang bilang di sini (Jepang) tidak ada muslim tetapi ada Islam. Karena mereka takjub dengan karakter baik orang Jepang yang mereka temui.

Mengenai pandangan masyarakat Jepang terhadap Islam, tentu sedikit banyak ada juga miskonsepsi atau salah paham akibat pergolakan dunia yang terjadi sejak 11 September 2001. Maka menjadi harapan Sakata-sensei untuk bisa menyampaikan Islam yang sebenarnya.

(5) Seorang Jepang muslim yang turut hadir dalam kajian online menanyakan, bagaimana cara saya membantu Sakata-sensei, saya memiliki hafalan Al-Qur’an?

Sakata-sensei menjawab beliau akan memikirkan caranya. Tetapi untuk saat ini beliau menyarankan untuk bikin channel Youtube dan berdakwah menggunakan sarana tersebut. Beliau sendiri saat ini punya channel Youtube.

Well, demikian catatan (dan cerita saya) dari kajian online berjudul “Selayang Pandang Perkembangan Islam di Negeri Sakura”, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan para pengunjung blog ini.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s