Categories
Recharge

Cara Membuang Barang Penuh Kenangan: Super Nintendo

Pengalaman membuang barang penuh kenangan yang diraih dengan tidak mudah. Bagaimana caranya dan apa yang saya rasakan setelahnya?

Di tulisan berjudul “Review Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: Mengungkap Rahasia Metode Berbenah yang Mengubah Hidup“, di bagian ke-7 saya bilang:

Saat berbenah, saya memodifikasi metode KonMari, misalnya saya tidak melakukan berbenah marathon dalam 1 hari melainkan selama 30 hari. Meski demikian dalam sebulan itu telah banyak sekali barang-barang milik saya yang telah saya lepaskan kepemilikannya.

(https://dekat.page/2020/08/15/konmari/#catatan)

Bisa dibilang saya tidak pernah dan tidak berminat melakukan berbenah KonMari secara saklek yang tertulis di buku, saya lebih tertarik menangkap ide besarnya yaitu hanya mempertahankan apa yang spark joy.

Tidak sedikit yang membaca buku tersebut kemudian merasa nggak cocok dengan metode KonMari yang diajarkannya, menurut saya itu hal yang wajar.

Soal cara berbenah, silakan lakukan dengan beragam metode yang ada, yang paling efektif buat masing-masing. Yang penting konsisten dan tuntas.

Sekarang pun sudah ada komunitas berbenah ala Indonesia yaitu Gemar Rapi yang merupakan singkatan dari Gerakan Menata Negeri yang dimulai dari Rumah dan Pribadi yang meluncurkan buku di 2019 lalu.

Sebenarnya saya ingin sekali menulis di artikel kali ini, daftar barang apa saja yang telah saya lepas kepemilikannya dalam jangka waktu sebulan itu, tepatnya di akhir tahun 2016 ketika saya selesai membaca buku Marie Kondo. Tetapi.. setelah saya baca kembali daftar tersebut, saya kok jadi nggak pengen tulis di sini he he..

Alasannya, daftar itu ibarat film action yang terlalu brutal sehingga tidak layak tayang.

Dari sekian barang di daftar itu saya ingin bercerita tentang salah satu barang yang punya kenangan luar biasa, yaitu:

Super Nintendo Entertainment System alias SNES, biasa disebut singkat: Super Nintendo.

Super Nintendo Entertainment System (SNES)

Tetapi yang saya maksud dalam tulisan ini ialah mesin yang sudah rusak. Meski rusak, barang tersebut penuh kenangan.

Begini ceritanya:

Jaman saya SD, waktu itu populer mesin game, atau biasa disebut game console/konsol game, ada 3 yang paling terkenal yaitu Nintendo, Sega, dan Super Nintendo.

Di sekolah, beberapa teman cerita tentang permainan Street Fighter yang sedang populer dengan serangan bola api Hodouken, yang lebih populer dengan sebutan “abuget“, maklum saat mengeluarkan jurus tersebut, si Ryu atau Ken sang tokoh jagoan berteriak “hodouken!” yang terdengar di telinga orang Indonesia seperti “abuget!

Saya hanya bisa membayangkan, karena boro-boro punya mesin game, TV saja masih hitam putih merk Johnson yang isinya hanya TVRI. Ketika teman-teman cerita film Hulk, Air Wolf, dan Doraemon, saya hanya membayangkan saja.

Untuk merasakan sensasi TV berwarna, ayah saya membeli plastik warna untuk dipasang di layar TV, suatu produk yang sekarang menjadi absurd karena semua TV sekarang sudah berwarna.

Lucunya kalau nonton pertandingan bola kita jadi tidak tahu mana tim A mana tim B karena warna seragamnya jadi berantakan.

Alhamdulillah, saat saya kelas 4, keluarga kami beli TV baru, TV berwarna dan kali ini ada RCTI-nya.

Nah, kesempatan emas menikmati mesin game mulai saya nikmati setelah saya sunatan, di akhir kelas 6 SD tahun 1997.

Alhamdulillah terkumpul uang amplop 1 juta lebih, dari uang tersebut saya membeli Super Nintendo seharga Rp235.000.

Sebenarnya sedikit terlambat membeli Super Nintendo, karena saat itu mulai memasuki era Sony Playstation (Sony PSX) dan Sega Saturn. Hanya saja harganya tidak masuk di anggaran yaitu … saya lupa harganya yang jelas sudah di atas 1 juta.

Dari kedua konsol game tersebut yang selanjutnya bertahta hingga sekarang adalah Playstation 5 yang akan diluncurkan pada November 2020.

Oke, dengan uang hasil sunatan saya membeli Super Nintendo. Memang terkesan agak tertinggal tapi ternyata game ini telah mengisi hari-hari yang mengesankan.

Mau tahu kenapa mesin game itu berkesan?

Bukan hanya bisa punya mesin game yang sebelumnya saya cuma bisa dengar, saya juga bisa bermain bersama keluarga saya baik keluarga inti maupun sepupu-sepupu. Ditambah lagi dengan anak-anak tetangga.

Seperti saya tulis di artikel “Mengingat Allah Kunci Ketenangan Hati Saat Ingin Lari dari Kehidupan”, saya seorang anak yang introvert. Memiliki konsol game bikin saya senang bertemu sepupu maupun anak-anak tetangga karena kita bisa main game bersama.

Malah pernah pas saya lagi sakit, saya minta tolong ibu saya buat mengundang salah seorang sepupu main ke rumah buat main game bola Internasional Super Star Soccer. Habis itu jadi sembuh deh.

Saat main bersama keluarga inti, saya bermain game Ultimate Mortal Kombat 3 game pertarungan legendaris di masa itu. Ini tokoh favorit kami:

Saya: Sektor, Sub Zero.
Ibu: Sindel.
Ayah: Kano.
Kakak laki-laki ke-2: Cyrax, Striker.
Kakak perempuan: Rain.
Saya lupa tokoh favorit adik dan kakak ke-1.

Saya pikir sekarang ini, kapan lagi bisa main bareng-bareng keluarga seperti itu ya? Kok bisa ya he he..

3 tahun memiliki mesin game tersebut, mesin itu rusak. Saya sedih. Tiap kali dinyalakan kadang mati, kadang nyala tapi warnanya berantakan.

Sempat mencari-cari tukang servis yang bisa memperbaiki, tidak ketemu. Akhirnya ayah dan ibu saya membawa mesin tersebut ke Glodok dan ketemu layanan servis yang bisa memperbaiki.

Ketika SMA saya sudah jarang main Super Nintendo. Demikian pula dengan kakak-adik saya, apalagi ibu dan ayah. Saya sendiri sibuk di organisasi sekolah. Sekolah telah menjadi rumah kedua yang mana hari Ahad pun saya pergi ke sekolah, selalu ada aktivitas.

Mesin game Super Nintendo itu pun ternyata rusak lagi. Rusak untuk kedua kalinya. Saya pun menyimpannya di lemari beserta kaset-kasetnya.

Setelah SMA saya memasuki masa kuliah. Saat itu saya mulai berkenalan dengan komputer di lab kampus. Saat itu saya berkenalan dengan emulator game, yaitu software untuk mensimulasi konsol game di komputer.

Dengan adanya emulator itu saya sudah tidak perlu lagi memainkan game dari mesin konsol, bahkan saya bisa menjajal hampir seluruh judul game Super Nintendo yang pernah ada.

Di 2016, bertahun-tahun telah berlalu, saya telah menjadi orang yang lebih mature, mengalami berbagai problematika kehidupan, dan menyadari hidup saya perlu perubahan.

Saya pun terinspirasi dengan gaya hidup minimalis yang mana buku The Life Changing Magic of Tidying Up menjadi salah satu inspirasi bagi saya, serta mulai berbenah.

Ide yang diangkat buku tersebut adalah: berbenah itu bukan sekadar geser-geser barang, melainkan membuang barang-barang yang tidak spark joy, lalu merapikan sisanya (yang tidak dibuang). Dengan membiasakan berbenah semacam itu bukan hanya rumah menjadi rapi, hidup pun bisa berubah.

Saya menerima ide itu dan menjadikannya tantangan pribadi. Saya harus membenahi barang-barang milik saya dalam waktu 1 bulan. Artinya akan ada barang-barang yang perlu saya lepaskan dari hidup saya.

Dan seperti saya tulis di awal, salah satu barang yang saya putuskan untuk dilepas kepemilikannya adalah Super Nintendo yang saat itu sudah rusak untuk kedua kalinya.

Bagaimana cara saya membuang Super Nintendo yang penuh kenangan?

Well, begini caranya: di hari ke-14 berbenah (dari total 30 hari), saya ambil Super Nintendo rusak penuh kenangan tersebut beserta kaset-kasetnya, saya masukkan ke kantong plastik, lalu buang ke tempat sampah.

Sederhana bukan? No drama.

Kenapa tidak disimpan sebagai barang kenangan? Kenapa tidak dijual saja??

Jawaban pertanyaan itu: setiap orang punya cerita masing-masing, punya masalah masing-masing.

Masalah saya tidak akan saya ungkap di sini, yang jelas saya perlu lompatan, perlu guncangan besar untuk membangunkan diri saya dari tidur panjang, dan itu adalah berbenah.

Ibarat ada rumah kebakaran, saat itu yang paling ingin diselamatkan adalah orang, kemudian barang-barang penting seperti surat-surat berharga. Apa yang berpotensi mengganggu fokus penyelamatan itu hendaknya dihindari.

Saya hanya ingin berubah dengan cepat, keluar dari permasalahan.

Menurut saya wajar jika alasan maupun analogi saya tersebut dianggap kurang jelas bagi sebagian orang yang membaca tulisan ini. Tetapi itu adalah hal yang bisa dipahami orang yang menangkap ide minimalism atau memilih gaya hidup minimalis.

Untuk memahami perasaan antusiasme membuang tersebut seseorang harus berkenalan dengan ide minimalism terlebih dahulu, baru deh dapat feel-nya.

Belakangan setelah bisa mengendalikan antusiasme saya pada berbenah, saya mulai memberikan atau menjual murah barang-barang yang saya miliki.

Nah, apa yang saya rasakan setelah membuang Super Nintendo rusak tadi? Apa saya menyesal dan merasa kehilangan?

Ternyata tidak, biasa saja.

Yang ada malah hati jadi lebih plong, jadi bisa lebih fokus.

Seperti saya bilang, Super Nintendo hanyalah salah satu barang yang saya lepas. Masih ada barang-barang berkesan lainnya yang bahkan tidak rusak, I talk about you CDs, cassettes & action figures.

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah betapa kadang kita mengira kita tidak bisa lepas dari sesuatu. Padahal ternyata bisa-bisa aja.

Dalam contoh ini, saya berpisah dengan barang kenangan Super Nintendo, yang memang sih sudah rusak, tapi kan bisa diperbaiki atau minimal disimpan. Tetapi saya memutuskan melepasnya.

Nah, sebenarnya bukan hanya barang saja yang bisa dilepas, justru di situlah kenapa sebagian orang merasa terkesan dengan gaya hidup minimalis, karena ini bukan hanya sekadar soal melepas barang, tetapi melepas hal-hal lain yang ingin ditinggalkan. Contohnya nih, kegemaran merokok.

Misalnya Anda perokok berat yang ingin berhenti merokok, mungkin akan merasa itu hal yang sulit. Tak semudah membalik telapak tangan.

Tidak bisa membayangkan, bagaimana ya melalui hari-hari tanpa merokok?

Akan tetapi bisa dicoba nih, seseorang yang ingin berhenti merokok, dia bisa mulai berlatih dengan membuang barang-barang yang tidak spark joy, sampai dia menemukan feel nya bahwa tidak sedikit apa yang tadinya dikira tidak bisa dilepas ternyata sebenarnya bisa kok dilepas.

Apakah dengan berbenah tadi seluruh masalah saya selesai?

Tentu saja tidak.

Berbenah hanyalah salah satu tools.

Untuk menyelesaikan berbagai masalah, butuh juga banyak-banyak beristighfar, seperti yang saya tulis dalam artikel berjudul “Istighfar dalam 416 Kata: Jalan Pertolongan Allah, Penyempurna Amalan, Sebab Keamanan”.

Berbenah hanyalah salah satu tools yang telah saya rasakan dampaknya yang powerful.

Maka, yuk mari berbenah.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s