Categories
Review

Review Buku Goodbye, Things: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Menjadi Seorang Minimalis

Saya kesulitan menentukan halaman mana yang mau saya lipat, bagian mana yang mau saya highlight, karena hampir setiap halaman buku ini inspiratif dan langsung bisa diaplikasikan di kehidupan nyata pembacanya. Bisa-bisa buku ini penuh lipatan dan goresan stabilo!

Review atau Resensi Buku Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang — Versi Singkat

Mungkin Anda pernah membaca buku kemudian melipat halaman atau menggoreskan stabilo untuk meng-highlight bagian yang menarik.

Well, untuk buku ini saya kesulitan menentukan halaman mana yang mau saya lipat, bagian mana yang mau saya highlight, karena hampir setiap halaman buku ini inspiratif dan langsung bisa diaplikasikan di kehidupan nyata pembacanya. Bisa-bisa buku ini penuh lipatan dan goresan stabilo!

Buku ini tidak mengajari pembacanya bagaimana cara MENJADI kaya atau bahagia. Buku ini mengajari pembacanya MERASA kaya atau bahagia.

Oke, sungguh, buku ini highly recommended. Saya sampai bingung mau nulis apa.

Review atau Resensi Buku Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang — Versi Lebih Panjang

Dalam tulisan lain di blog ini, saya menceritakan pengalaman saya berkenalan dengan gaya hidup minimalis.

Salah satu buku yang menginspirasi saya adalah buku The-Life Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo, seorang pakar berbenah asal Jepang.

Sejatinya bukan hanya saya saja yang terinspirasi, melainkan juga para pembaca lainnya.

Di antara pembaca di Indonesia ada yang pernah bikin Komunitas KonMari Indonesia. Kemudian setelah itu mereka membangun komunitas baru bernama Gemar Rapi (Gerakan Menata Negeri dari Rumah dan Pribadi) yang mengusung metode berbenah asal Indonesia.

The Life-Changing Magic of Tidying Up merupakan sebuah buku luar biasa yang menginspirasi para pembacanya.

Nah, dalam tulisan ini saya akan mengulas, mereview, atau menyajikan resensi sebuah buku yang menurut saya even better dari buku Marie Kondo, buku yang menurut saya bahkan lebih dahsyat.

Buku tersebut adalah Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism yang ditulis oleh Fumio Sasaki, seorang berkebangsaan Jepang.

Awalnya, saya menemukan buku tersebut di Google Play Book, beberapa bulan setelah saya menemukan buku Marie Kondo. Kemudian saya membelinya.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Nah, mengenai buku terjemahan ini saya punya pengalaman unik. Waktu itu saya lagi ada business trip ke Semarang. Saya mampir ke toko buku Gramedia di sana.

Saya terkesima ketika melihat ada terjemahan buku ini di rak buku. Wah, sudah ada terjemahannya!

Saya senang karena 2 hal, pertama, akan ada lebih banyak orang yang mengakses buku ini, kedua, harga buku ini pastinya jauh lebih murah ketimbang buku versi bahasa Inggris yang saya beli di Google Play Book.

Ketika saya lagi memegang-megang buku itu, mempertimbangkan buat beli, tahu-tahu ada seorang anak muda yang mendekati saya.

Matanya terlihat antusias saat bilang: “Bagus tuh mas bukunya!”

I know it, kata saya dalam hati. “Betul mas, bagus buku ini!” jawab saya.

Dua orang yang antusias dan tidak saling mengenal itu pun saling bertukar cerita. Ternyata dia punya minat yang sama dengan saya terhadap gaya hidup minimalis. Bacaan yang disarankan olehnya pun sebagian sudah saya baca. Obrolan kami nyambung.

Saya tahu apa yang dirasakannya, kira-kira begini, bahwa kita sama-sama tahu ini buku yang bagus, buku yang life-changing, buku yang bikin kita berubah, tetapi.. belum semua orang tahu tentang buku ini. Jadi ketika ada orang yang tampak antusias (yaitu saya) melihat buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sang anak muda itu menghampiri saya dengan mata berbinar seperti mendapat kawan bicara dan berbagi cerita.

Setelah cukup lama ngobrol di depan rak buku, kami berpisah dan saya memasukan buku itu ke dalam tas belanja, menuju kasir.

Saya membeli buku yang sudah pernah saya beli versi bahasa Inggrisnya.

Oke, lanjut ke pembahasan mengenai buku tersebut.

Berbeda dengan Marie Kondo yang memang sudah ada bakat berbenah sejak kecil, Fumio Sasaki hanyalah seorang biasa yang semula tak punya pengalaman berbenah secanggih Marie Kondo.

Di bagian “Prakata”, Fumio Sasaki mengisahkan tentang dirinya:

  • Saat menulis buku adalah seorang pria berusia 35 tahun, lajang, belum pernah menikah.
  • Bekerja sebagai editor di sebuah penerbit.
  • Sepuluh tahun sebelum memilih gaya hidup minimalis, dia amat bersemangat untuk bekerja di bidang penerbitan karena ingin memiliki karier di bidang yang memberinya ruang untuk memikirkan gagasan besar dan nilai-nilai budaya, tidak melulu berfokus pada uang dan hal-hal materi lain.
  • Namun semangat itu perlahan luntur karena industri penerbitan melalui masa sulit, agar bisa bertahan mereka harus menerbitkan buku yang disukai pasar.
  • Semangatnya mulai padam dan menerima cara pikir bahwa segalanya adalah tentang uang.
  • Pada saat yang sama dia juga membeli banyak barang karena yakin bahwa segala sesuatu yang dimilikinya akan meningkatkan harga diri dan bikin bahagia.
  • Namun dia akan merasa rendah ketika membandingkan dengan orang lain yang terlihat lebih sukses.
  • Maka dia pun merasa tidak tahu bagaimana cara memperbaiki keadaan, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, menenggak minuman keras, dan tidak bisa merapikan apartemennya.
  • Akhirnya menyudahi hubungan dengan kekasihnya karena merasa tidak punya masa depan dengan keadaan keuangan yang menyedihkan.
  • Sampai pada suatu ketika, dia menyingkirkan sebagian besar barang miliknya dan mulai merasakan kebahagiaan.

Melalui bukunya, Fumio Sasaki ingin menyampaikan bahwa memiliki barang dalam jumlah sedikit mengandung kebahagiaan tersendiri, itulah mengapa sudah saatnya kita berpisah dengan banyak barang yang kita punyai.

Apa yang disampaikan Fumio Sasaki adalah apa yang disebut dengan minimalism. Minimalism menurutnya adalah (1) proses mengurangi barang kepemilikan kita hingga ke jumlah paling minimum, dan (2) hidup hanya dengan barang-barang itu agar kita dapat berfokus pada hal yang sungguh-sungguh penting bagi kita.

Fumio Sasaki bilang semua orang mengawali hidupnya sebagai minimalis, tak seorang pun yang lahir ke dunia dengan membawa suatu benda. Kemudian kita ingin punya lebih banyak barang, sehingga menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk mengelola dan mempertahankan benda yang kita punya. Berusaha mati-matian sampai akhirnya barang yang seharusnya memudahkan justru malah mengendalikan kita.

Saat membuka halaman pertama buku ini, para pembaca akan menemui foto-foto yang menggambarkan proses Fumio Sasaki menjadi seorang minimalis.

Selain itu ada juga 5 contoh penerapan minimalis, contoh pertama tentunya foto-foto apartemen Fumio Sasaki sendiri. Contoh kedua adalah foto-foto apartemen Hiji, salah seorang pelopor gerakan hidup minimalis di Jepang. Contoh ketiga, foto-foto apartemen Ofumi dan Tee. Contoh keempat, foto-foto apartemen Yamasan. Contoh kelima, Kouta Itou, seorang penjelajah dunia yang minimalis.

Saya suka melihat foto-foto tersebut. Di sini saya melihat ada perbedaan antara buku cetak versi terjemahan bahasa Indonesia dengan buku yang dijual Google Play Book versi bahasa Inggris, di mana foto-foto yang ditampilkan di versi bahasa Inggris tersebut tampak lebih jernih dan bikin puas.

Setelah menampilkan foto-foto tersebut, Fumio Sasaki selanjutnya mengulas tuntas dua pertanyaan: “mengapa minimalisme?” dan “mengapa kita mengumpulkan begitu banyak barang?”.

Selanjutnya dia memaparkan 55 kiat berpisah dari barang, 15 kiat tambahan untuk selanjutnya dalam perjalanan menuju minimalisme, dan 12 hal yang berubah sejak dia berpisah dari barang-barang.

Sebagai penutup, dia mengajak pembacanya untuk merasa bahagia, alih-alih menjadi bahagia. Ya, buku ini adalah tentang kesyukuran, mensyukuri apa yang ada, apa yang already ada di hadapan.

Saya ingin sekali bercerita banyak tentang buku ini, tetapi menurut saya akan lebih baik jika pembaca blog ini membacanya sendiri bukunya.

Apakah saya merekomendasikan buku ini untuk dimiliki dan dibaca? Tentu saja!

Apa saya menyediakan link download gratis buku ini? Tidak. Selain karena menghargai jerih payah penulisnya, harga buku terjemahan bahasa Indonesianya masih relatif murah, masih di bawah seratus ribu rupiah.

Jika menurut Anda saat ini sedang tidak punya uang buat beli buku, barangkali setelah membeli buku ini malah Anda bisa berpikir lebih jernih dalam mengelola keuangan.

Sekian review ini. Anda pernah membaca buku ini? Tuliskan kesan Anda di form komentar. Bagi yang belum pernah baca juga boleh berkomentar tentunya.

Jika Anda ingin sekali buku ini tetapi tidak punya uang untuk membelinya pantau terus postingan ini, siapa tahu saya akan mengadakan giveaway buku ini.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s