Categories
Review

WordPress COM vs ORG — Review, Uptime, Load Impact, Speed 2021

(1) Perbedaan WordPres COM dan ORG (2) Pengalaman menggunakan WordPress COM Business plan 3 juta/tahun (3) Uptime, load impact, dan speed WordPress COM Premium plan.

(1) Perbedaan WordPres COM dan ORG (2) Pengalaman menggunakan WordPress COM Business plan 3 juta/tahun (3) Uptime, load impact, dan speed WordPress COM Premium plan.

Beberapa hari yang lalu ada yang bertanya kepada saya, “pasang plugin di WordPress bayar ya?”

“Eh, nggak kok, gratis, tinggal instal. Yang bayar itu plugin versi premium, tapi versi freenya ada kok.” jawab saya.

Ternyata yang dimaksud penanya barusan adalah pasang plugin di WordPress.com yang memang mesti bayar dulu sekitar 3 juta rupiah per tahun.

Sedangkan yang saya maksud adalah plugin di WordPress.org yang gratis, baru bayar jika ingin menggunakan versi premium.

Tak sedikit orang yang masih belum begitu memahami perbedaan WordPress.com dan WordPress.org.

Sayangnya tidak semua informasi yang dijumpai di dunia maya merupakan informasi yang valid.

Terkadang informasi yang disajikan tidak akurat. Ini akan menyulitkan bagi para pemula untuk memilih platform mana yang cocok untuk mereka.

Berkaca dari perkenalan pertama saya baik dengan WordPress.com maupun WordPress.org, menurut saya ada hal-hal paling esensial yang perlu diketahui seputar WordPress.com maupun WordPress.org.

Nah, dalam kesempatan kali ini saya akan mengungkap hal-hal esensial tersebut, antara lain yang pertama adalah perbedaan WordPress.com dan WordPress.org, kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta mana yang cocok untuk dipilih.

Setelah itu, saya akan mengulas review WordPress.com Business Plan yang harganya 3 juta per tahun, berhubung saya pernah menggunakannya, sekaligus alasan mengejutkan kenapa saya tak lagi menggunakannya (bukan karena buruk atau tidak puas, bahkan sebaliknya sangat bagus dan memuaskan).

Saya menganggap informasi tersebut esensial atau penting karena WordPress.com Business Plan ini memiliki kemiripan dengan WordPress.org sehingga bisa menjadi alternatif bagi orang yang menyukai fitur-fitur di WordPress.org.

Terakhir, saya akan memperlihatkan hasil pengujian kinerja WordPress.com Premium Plan (paket atau plan yang berada 1 tingkat di bawah Business Plan) berupa uptime, load impact, dan kecepatan.

1. Apa itu WordPress?

WordPress adalah salah satu free & open source content management system (CMS).

CMS adalah software yang berfungsi untuk mengelola konten, baik itu menulis, menyimpan, maupun menyajikan konten tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dengan free & open source artinya pada prinsipnya setiap orang bisa mengakses dan menggunakan WordPress tanpa biaya serta bisa mengotak-atik isi di dalamnya selama memenuhi ketentuan lisensi General Public License, yang memberikan 4 kebebasan:

  1. Menggunakannya untuk berbagai tujuan.
  2. Mempelajari bagaimana ia bekerja dan mengubahnya untuk melakukan apa yang Anda inginkan.
  3. Menyebarkannya.
  4. Menyebarkan hasil modifikasi Anda kepada orang lain.

Sejarah WordPress bermula di tahun 2003 ketika Mike Little dan Matt Mullenweg memutuskan melakukan fork (istilah di bidang software engineering untuk kegiatan “mengopi/menyalin source code suatu software untuk menciptakan software yang baru yang berbeda”) pada software B2/Cafelog.

Hal ini mereka lakukan karena pada saat itu pengembangan B2/Cafelog mengalami kebuntuan.

Inisiatif kedua orang tersebut memperoleh respon positif dari para developer sehingga bergabunglah para kontributor dari berbagai negara untuk bersama-sama membangun WordPress.

Sejatinya yang berkontribusi pada pengembangan WordPress ada banyak orang dari berbagai negara. Tetapi arah pengembangan WordPress tidak bisa dipisahkan dari peran Matt Mullenweg.

Contohnya, dalam menentukan penggunaan Gutenberg sebagai text editor utama, meski tidak sedikit orang yang keberatan dengan hal tersebut — malah ada yang akhirnya mengembangkan ClassicPress yang terutama disebabkan ketidaksetujuan dengan penggunaan Gutenberg — tetapi WordPress tetap berlanjut menggunakan Gutenberg sebagai text editor utamanya (pengguna WordPress yang tidak ingin menggunakan Gutenberg bisa tetap menggunakan editor versi lama dengan menggunakan plugin).

Saat tulisan ini dibuat (2020), WordPress menjadi CMS yang paling banyak di gunakan, yaitu sebanyak 38 persen website di seluruh dunia menggunakan WordPress. Kini di 2021 posisi WordPress telah meningkat menjadi 40%.

Singkat kata, WordPress adalah software untuk membuat blog atau website.

Selain WordPress, masih ada software lainnya untuk membuat blog maupun website yaitu Blogger, Silvrback, Ghost, Weebly, Posthaven, Svbtle, dan lain-lain. Dalam artikel ini saya akan berfokus pada WordPress.

2. Apa Itu WordPress.com?

WordPress.com adalah ekosistem WordPress yang disediakan atau dikelola oleh Automattic, perusahan yang didirikan oleh Matt Mullenweg.

Jadi begini, WordPress itu kan sebenarnya free, setiap orang bebas menggunakannya tanpa dipungut biaya apa-apa.

Hanya saja WordPress itu sendiri sebenarnya hanya engine atau mesin yang tidak akan berfungsi seperti yang diharapkan jika tidak ada tempat bernaungnya atau inang, peladen, atau yang disebut dengan server.

Nah, WordPress.com itu adalah ekosistem di mana mesin WordPress di-host atau ditampung oleh server milik Automattic, yang berfungsi untuk memberi akses kepada semua orang yang ingin menggunakan WordPress tetapi memiliki keterbatasan kemampuan teknis.

Harap maklum, sebab di tahun 2000-an memang untuk menginstal WordPress itu tidak semudah seperti sekarang.

Untuk memahami seperti apa ekosistem WordPress.com, mari lihat ilustrasi yang diperankan oleh Gundam berikut:

Ilustrasi WordPress.com - Silakan tempati rumah ini secara free dan silakan menggunakan perabotan yang telah disediakan di dalamnya. Tidak diperkenankan membawa perlengkapan atau perabotan dari luar, kecuali jika membayar biaya tambahan.
Ilustrasi WordPress.com – Silakan tempati rumah ini secara free dan silakan menggunakan perabotan yang telah disediakan di dalamnya. Tidak diperkenankan membawa perlengkapan atau perabotan dari luar, kecuali jika membayar biaya tambahan.

Pada gambar di atas, WordPress.com dianalogikan sebagai sebuah rumah yang boleh digunakan secara gratis untuk meletakkan mesin WordPress.

Di dalamnya sudah disediakan perabotan dasar yang sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar membuat blog atau website.

Pengguna rumah tersebut tidak diperkenankan membawa peralatan tambahan, pokoknya gunakan saja apa yang telah disediakan.

Jika ingin menambah perabotan, maka mesti membayar biaya tambahan alias melakukan upgrade.

Perbandingan harga paket WordPress.com, semakin ke kanan semakin mahal, sekaligus semakin fleksibel.
Perbandingan harga paket WordPress.com, semakin ke kanan semakin mahal, sekaligus semakin fleksibel. (sumber: wordpress.com)

Dalam hal ini, para pengguna WordPress.com bisa langsung mendaftar dan membuat tulisan, berjualan, dan melakukan berbagai hal, secara gratis, tidak dipungut biaya apa-apa. Akan tetapi, dengan beberapa keterbatasan, misalnya tidak bisa menginstal plugin (analogi perabotan tambahan).

Untuk menunjang kebutuhan dasar blogging dan membuat website, Automattic telah menginstal all in one plugin bernama Jetpack ke dalam WordPress.com.

Keterbatasan lainnya yaitu tidak bisa menginstal theme atau template selain dari apa yang telah disediakan di dalam WordPress.com, serta adanya peraturan yang lebih ketat ketimbang di WordPress hosting sendiri (self-hosted)/WordPress.org yang nanti akan diuraikan di bagian setelah ini.

Kelebihan ekosistem WordPress.com:

  • Gratis tis tis..
  • Keamanan yang terjamin, silakan baca di sini.
  • Uptime yang terjamin, yang bisa dilihat di sini.
  • Diletakkan di data center terbaik milik Automattic, yang bisa dilihat di sini.
  • Tidak perlu memikirkan update manual, semua akan diupdate otomatis oleh Automattic.
  • Kegagalan sistem adalah hal yang selalu dapat terjadi, tidak ada produk buatan manusia yang sempurna, hanya saja mitigasi yang dilakukan oleh tim engineer pengelola WordPress.com memperkecil kemungkinan tersebut.
  • Dikelola oleh orang-orang yang berada di balik WordPress, sehingga tentunya mereka sangat memahami harus melakukan apa agar WordPress bisa tampil mumpuni dan tampan.
  • Bagi yang peduli status green sebuah bisnis, maka WordPress.com termasuk layanan yang memperhatikan aspek green atau kelestarian lingkungan.

Kekurangan WordPress.com:

  • Tidak bisa menginstal plugin, semua kebutuhan operasional mengandalkan plugin Jetpack yang terinstal otomatis.
  • Tidak bisa menginstal theme di luar apa yang disediakan.
  • Versi gratisnya membawa nama WordPress.com di belakangnya, misal kucingkucingyanglucu.wordpress.com.
  • Permalinknya mungkin tidak semua orang akan merasa cocok dengannya, yaitu ada tahun, bulan, dan tanggalnya, contohnya: dekat.page/ 2020/08/17/final/ , dan ini tidak bisa dirubah kecuali diupgrade ke Business Plan.
  • Tidak boleh memasang iklan Adsense maupun program iklan lainnya. Akan tetapi disediakan program iklan milik WordPress.com yaitu WordAds. Untuk memasang WordAds, pemilik akun WordPress.com bisa mengajukan aplikasi pendaftaran atau bisa juga dengan cara mengupgrade ke Premium Plan ke atas.
  • Untuk bisa memakai domain sendiri (misal dekat.page) serta memperoleh fleksibilitas dan kapasitas yang lebih besar perlu mengupgrade (artinya mesti bayar). Sedangkan untuk bisa menginstal plugin mesti mengupgrade ke Business Plan seharga 3 juta per tahun.
  • Bagi yang berminat memakai Business Plan, tidak ada pilihan bayar bulanan, hanya ada tahunan dan dua tahunan. Artinya uang 3 juta itu mesti dibayar tunai seutuhnya tidak bisa dicicil per bulan. Update: ini sudah tidak lagi menjadi kekurangan karena sekarang sudah bisa bayar bulanan.
  • Pilihan metode pembayaran yang cukup terbatas, yaitu kartu kredit, PayPal, dan bank lokal untuk negara tertentu.

Bagi yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang apa yang terjadi di dalam eksosistem WordPress.com bisa menyimak video ini:

3. Apa Itu WordPress.org atau Self-Hosted WordPress?

Bagi orang-orang yang ingin memperoleh fleksibilitas yang lebih besar, mereka bisa mencari rumah sendiri untuk mesin WordPress.

Rumah tersebut disebut sebagai layanan web hosting.

Dahulu, orang yang ingin menggunakan WordPress perlu mendownload software tersebut dari website WordPress.org. Kemudian mereka menginstalnya di komputer dan membuatnya online, atau bisa juga memindahkannya ke web hosting.

Sekarang mayoritas web hosting, jika tidak semuanya, telah menyediakan fitur instal WordPress yang lebih mudah, tinggal klik beberapa kali saja setiap orang bisa memiliki blog atau website WordPress.

WordPress tipe ini disebut self-hosted WordPress, atau WordPress yang diinstal di server pilihan sendiri, baik di server milik sendiri (bahkan bisa di rumah!) maupun menyewa layanan web hosting.

Ekosistem WordPress.org atau Self-hosted WordPress seperti rumah yang disewa untuk menempatkan mesin WordPress sebagaimana ilustrasi berikut:

Ilustrasi WordPress.org - bebas membawa mesin WordPress ke rumah mana saja, boleh bawa perabotan tambahan dan memiliki berbagai fleksibilitas lainnya.
Ilustrasi WordPress.org – bebas membawa mesin WordPress ke rumah mana saja, boleh bawa perabotan tambahan dan memiliki berbagai fleksibilitas lainnya.

Penyewa rumah tersebut boleh membawa perlengkapan dari luar, boleh bawa hewan peliharaan, boleh parkir kendaraan, dan sebagainya, selama masih di dalam batas yang ditetapkan oleh pemilik rumah yang asli.

Meski tetap ada batasan, namun secara keseluruhan masih lebih fleksibel ketimbang di ekosistem WordPress.com.

Kelebihan ekosistem WordPress.org/self-hosted WordPress:

  • Bisa menginstal plugin.
  • Lebih bebas menginstal theme 3rd party, pilihan theme jauh lebih banyak.
  • Bisa menggunakan nama domain sendiri (misal dekat.page).
  • Harga sewa web hosting mulai dari 10 ribu per bulan juga ada.

Kekurangan ekosistem WordPress.org/self-hosted WordPress:

  • Berbeda dengan di ekosistem WordPress.com yang mana keamanan diperoleh dengan menjaga ID dan password saja, keamanan di ekosistem WordPress.org dipengaruhi tindakan penyewa web hosting, antara lain mesti rutin mengupdate mesin WordPress, plugin, dan themenya.
  • Uptime sangat bergantung ketangguhan layanan web hosting yang dipilih.
  • Ada kemungkinan kegagalan sistem jika salah menginstal atau mengupdate. Tetapi hal ini bisa ditanggulangi dengan melakukan backup rutin.
  • Memerlukan kemampuan teknis untuk bisa menghasilkan website atau blog yang berjalan dengan tampan, seperti cara mengatur setting plugin untuk cache (seperti Litespeed Cache atau WP Super Cache) atau cara mengaktifkan gzip compression misalnya, tetapi pada umumnya ada tutorialnya yang bisa dicari di mbah Google.

4. Pilih WordPress.com atau WordPress.org?

Ini benar-benar bergantung pada kebutuhan dan personal taste masing-masing orang.

Jadi begini..

Terkadang ada anggapan seperti ini: WordPress.com untuk pemula, WordPress.org untuk tingkat mahir.

Saya pikir anggapan ini ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar, saya lebih memilih membaginya seperti ini:

WordPress.com untuk orang yang mengutamakan kenyamanan ketimbang fleksibilitas. Buat penulis yang hanya perlu menulis, saya pikir WordPress.com sudah cukup mumpuni.

Sedangkan..

WordPress.org untuk orang yang mengutamakan fleksibilitas ketimbang kenyamanan. Buat yang ingin mengeksplorasi berbagai fitur WordPress maka WordPress.org adalah pilihan yang tepat.

Contoh kenyamanan vs fleksibilitas tadi bisa diperoleh misalnya di artikel berikut: troyhunt.com/ its-a-new-blog/, yang mengungkap kisah Troy Hunt (seorang Microsoft Regional Director and MVP dan pakar IT yang menciptakan website https://haveibeenpwned.com/, sebuah website untuk mencari tahu apakah akun email seseorang telah menjadi korban pembobolan data) memilih sebuah layanan blogging platform bernama Ghost.

Sebagai seorang pakar IT yang bisa berbuat apa saja, ternyata dia lebih memilih paket Ghost Pro yaitu layanan managed atau dikelola oleh pihak Ghost developernya, sehingga dia bisa fokus menulis tanpa harus memikirkan hal-hal teknis sekalipun dia sudah jago, sekalipun dia kemungkinan besar malah bisa bikin CMS (content management system) sendiri.

John Mueller (Search Advocate di Google) pun pernah bilang melalui twitnya:

“Apa yang saya rekomendasikan untuk UKM/small business adalah: jangan self-host, jauhi plugin, beli nama domain, gunakan platform yang sederhana dan bisa diandalkan, gunakan 2-factor authentication, miliki 2 orang atau lebih di dalam tim yang bisa memperbarui konten website, dapatkan bantuan dari SEO lokal.” (“What I recommend to small businesses is: never self-host, avoid plugins, buy your domain name, use a simple & reliable platform, use 2-factor authentication, have 2+ people internally who can update your site’s content, get local SEO help.”)

Alasannya agar pelaku small business bisa lebih fokus pada konten websitenya ketimbang masalah teknis.

Tentunya ini bergantung pada goal atau tujuan dari website atau blog yang Anda bangun.

Misalnya, saya membantu mengelola website sekolah berupa landing page ke halaman formulir pendaftaran. Web tersebut menggunakan self-hosted WordPress di layanan web hosting lokal.

Pemilik sekolah tidak berekspektasi websitenya muncul no 1 di halaman pencarian Google karena hanya sekadar brosur online buat warga setempat yang ingin tahu tentang sekolah miliknya.

Maka Update dan maintenance website tersebut menjadi jauh lebih mudah buat saya.

Well, apa yang cocok buat seseorang belum tentu cocok buat orang lain bukan?

5. Review WordPress Business Plan Seharga 3 Juta Rupiah Per Tahun

Seperti saya bilang di pengantar review ini, WordPress Business Plan memiliki kemiripan dengan WordPress.org atau self-hosted, di mana pada paket ini pengguna bisa menginstal theme dan plugin secara hampir bebas.

Hampir bebas? apa maksudnya? Silakan baca sampai selesai, saya akan ungkap bahwa “hampir bebas” itu sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah.

Bulan Desember 2019 lalu saya menghadiri pertemuan WordPress Jakarta Meetup #20. Di sana saya bertemu dengan Niels Lange, seorang Happiness Engineer (sebutan untuk pegawai Automattic) dan ngobrol sebentar.

Saya bertanya kenapa ya saya tidak bisa menginstal default theme WordPress untuk tahun 2020 bernama Twenty Twenty di WordPress.com padahal theme itu sudah dirilis di WordPress.org. Saya pengguna WordPress.com paket Premium.

Niels bilang dia akan mengeceknya dan meminta email saya untuk follow up.

Beberapa hari kemudian, Niels mengirim email ke saya, memberitahukan bahwa semestinya saya bisa menggunakan theme Twenty Twenty, namun karena alasan yang masih belum diketahui, saya belum bisa menggunakannya di akun WordPress premium saya, sehingga Niels secara sama sekali tak terduga, mengupgrade akun saya menjadi Business Plan selama 2 tahun, tanpa tambahan biaya, karena di paket tersebut Twenty Twenty telah tersedia.

Memperoleh respon tersebut hati saya berbunga-bunga, sekaligus terkejut. Betapa tidak, saya bisa menggunakan WordPress versi Business plan senilai 3 juta setahun.

Wow, sekali lagi wow! Seperti kejatuhan durian runtuh, seperti kejatuhan.. well, uang 3 juta rupiah!

Eh, sebenarnya malah saya seakan mendapat 6 juta rupiah, karena saya dikasih upgrade Business Plan-nya selama 2 tahun!

Oke, secara ringkas yang saya ingin katakan tentang WordPress Business Plan adalah paket ini adalah salah satu paket WordPress terbaik yang pernah ada untuk kelas bisnis kecil dan menengah.

Untuk bisnis besar masih ada paket VIP yang harganya bahkan tidak dimuat di websitenya (bisa kebayang dong mahalnya sampai enggak ditulis harganya).

Di WordPress Business Plan, kita memperoleh berbagai kelebihan di WordPress.com ditambah dengan fleksibilitas yaitu diperbolehkan menginstal plugin dan theme dari luar.

Tetapi tetap ada beberapa plugin yang dilarang untuk diinstal karena akan mengganggu kestabilan dan keamanan sistem, hal yang menurut saya lumrah.

Sekilas ini tampak seperti keterbatasan, memang, tapi keterbatasan yang wajar. Sebab, sebagian layanan web hosting yang ada di dunia ini pun juga membatasi penggunaan plugin tertentu untuk menjaga kestabilan server mereka.

Malah ada juga kok yang secara eksplisit menyebut larangan menginstal Jetpack yang merupakan salah satu plugin paling populer.

Informasi semacam ini yang terkadang tidak tersampaikan dengan baik. Menggunakan WordPress self-hosted bukan berarti bisa menginstal sebebas-bebasnya plugin yang ada.

Kita belum bicara plugin yang tak terdaftar di repository resmi WordPress.org, bahkan plugin terdaftar yang populer sekalipun ternyata bisa bikin website atau blog WordPress kita ditangguhkan atau dihentikan sementara (suspended) karena memakan resource yang besar buat menjalankannya.

Lanjut..

Ada beberapa hal yang berbeda di WordPress.com Business Plan jika dibandingkan dengan paket-paket di bawahnya (Free, Personal, dan Premium).

Jika kita menguji website atau blog kita dengan webpagetest.org, maka tiga paket terbawah (Free, Personal, dan Premium) akan mendeteksi bahwa website atau blog kita menggunakan Content Delivery Network (CDN).

Sedangkan untuk Business Plan, tidak menggunakan CDN, kecuali jika mengaktifkan setting tertentu di Jetpack.

Di paket Business ini ada satu hal yang paling saya sukai, yaitu fitur backup otomatis per tindakan.

Fitur tersebut memungkinkan kita bisa rewind atau kembali ke momen sebelum melakukan suatu tindakan kapan saja kita mau selama masih di dalam jarak waktu yang disediakan (seingat saya 30 hari, lupa, terima kasih atas pengertiannya he he..).

Misalnya, 5 menit yang lalu saya baru saja menginstal plugin. Saat ini saya bisa kembali ke posisi sebelum menginstal plugin tersebut.

Harga yang mahal (catatan: mahal menurut saya) di WordPress.com Business Plan ini menurut saya sebanding dengan apa yang diperoleh.

Tetapi, meski saya puas dengan paket tersebut saya memutuskan untuk menghentikannya setelah menggunakannya selama satu tahun.

Saya meminta downgrade dan dikabulkan.

Why? Kenapa?

Bukankah tadi saya bilang paket ini keren?

Jawabannya adalah seperti yang saya ungkap di bagian keempat tulisan ini, ada orang yang mengutamakan kenyamanan, ada orang yang mengutamakan fleksibilitas.

Bisa dibilang WordPress.com Business Plan memberikan kombinasi yang pas pada kenyamanan dan fleksibilitas.

Akan tetapi.. fleksibilitas yang diberikan kepada saya, saya rasa terlalu besar untuk saya.

Jadi begini, bukannya fokus menulis, saya malah asyik mencoba berbagai theme dan plugin serta bereksperimen pada setting yang disediakan. Bagaimana kalau ini diklik, bagaimana kalau itu dinonaktifkan, dan sebagainya.

Setting AMP pun ada beberapa hal yang perlu saya pelajari. Sedangkan di paket yang lebih rendah (Free, Personal, dan Premium), untuk setting AMP hanya tinggal geser 1 slider aja.

Well, sama seperti yang disampaikan Troy Hunt di atas, adakalanya seseorang hanya ingin menulis, tanpa diganggu keinginan mengeksplorasi berbagai pilihan yang ada.

WordPress.com Business Plan terlalu canggih buat saya sehingga bikin saya penasaran untuk mengeksplorasi lebih dalam sampai lupa menulis.

Nah, ada satu poin penting di sini yang perlu diketahui segenap pembaca blog ini, saat saya meminta downgrade dari Business Plan kembali ke Premium Plan, pihak Happiness Engineer memberitahu saya bahwa kondisi blog saya akan kembali seperti sebelum upgrade, maka saya mesti membackup tulisan terlebih dahulu.

Saya pun melakukan backup. Kemudian downgrade dilaksanakan, dan benar, ternyata kondisi blog saya kembali seperti sebelum diupgrade, artinya tulisan yang dibuat setelah upgrade pun hilang.

Maka di situlah peran backup tadi, untuk memunculkan tulisan yang hilang.

Informasi ini penting sekali disampaikan agar jangan sampai ketika sudah downgrade ternyata semua tulisan yang dibuat menjadi lenyap.

6. Kinerja WordPress Premium Plan: Uptime, Load Impact, Kecepatan

Automattic adalah perusahaan yang isinya orang-orang yang mestinya termasuk orang-orang yang paling memahami WordPress.

Maka menjadi logis jika saya berekspektasi atau berharap adonan atau racikan yang mereka rancang adalah termasuk yang best, terbaik di industri.

Tetapi mari kita lihat.

Paket atau plan yang saya gunakan untuk pengujian ini adalah paket Premium Plan, sedangkan blog yang diuji adalah blog ini sendiri, yaitu Dekat.Page.

(1) Uptime

Uptime menunjukkan total waktu website atau blog Anda online atau dapat diakses, biasanya menggunakan satuan persen.

Idealnya sebuah website atau blog memiliki uptime 100 persen, artinya setiap detik selalu online tanpa pernah offline atau tak bisa diakses sedetik pun.

Akan tetapi realitanya uptime 99,9 persen sudah termasuk pencapaian yang baik, itulah sebabnya kebanyakan layanan web hosting hanya berani menjanjikan jaminan uptime 99,9 persen, ada juga yang menyebut 99 persen saja tanpa angka di belakang koma.

Kita bisa melihat uptime blog yang dihost di WordPress.com dengan melihat di halaman “status” Automattic sebagaimana saya sebut di atas saat mengulas kelebihan WordPress.com.

Akan tetapi kita juga bisa menggunakan tool pengukur uptime pihak ketiga. Contoh yang saya gunakan adalah UptimeRobot.

Saya menggunakan UptimeRobot versi free alias gratisan yang mana hanya mengukur uptime tiap 5 menit sekali.

Dengan menggunakan UptimeRobot versi gratisan, blog saya belum pernah dilaporkan mengalami down satu kali pun lebih dari 5 menit, sejak awal mula saya bikin blog ini di tahun 2020.

Ini prestasi yang bagus, meski pada dasarnya kita tidak bisa berharap kesempurnaan uptime 100 persen terjadi sepanjang waktu. Sebab banyak hal dapat terjadi, bahkan saat bagian keenam ini saya buat, baru saja saya memperoleh kabar telah terjadi kebakaran hebat yang menimpa salah satu data center milik OVH, salah satu perusahaan terkemuka di bidang data center dan perhostingan.

Nah, secara umum dalam kondisi normal bisa dibilang WordPress.com ini sangat jarang down. Bisa dibilang default uptimenya 100 persen.

(2) Load Impact

Load impact menguji kinerja sebuah website atau blog dengan menghadirkan sejumlah pengunjung virtual. Tool yang saya gunakan ialah k6.io versi gratis.

Di versi gratis kita bisa menguji dengan maksimal 50 pengunjung virtual selama maksimal 12 menit.

Di pengujian ini saya menggunakan setting: 50 Virtual Visitors + 12 menit + Soak test.

Saya mengujinya pada halaman depan blog saya dan salah satu halaman yang paling berat karena memiliki beberapa gambar besar-besar yang saya hampir tidak optimasi.

Berikut hasilnya:

Halaman depan (dekat.page)

Hasil tes load impact 50 pengunjung virtual selama 12 menit pada halaman depan (dekat.page) memperlihatkan sebanyak 22.286 request berhasil tertangani tanpa ada error (HTTP failures) dengan rerata response time 458 milidetik.

Halaman dengan gambar besar dan hampir tidak dioptimasi (dekat.page/2020/08/15/konmari/)

Hasil tes load impact 50 pengunjung virtual selama 12 menit pada halaman dengan gambar besar (dekat.page/2020/08/15/konmari/) memperlihatkan sebanyak 20.991 request berhasil tertangani tanpa ada error (HTTP failures) dengan rerata response time 549 milidetik.

(3) Speed

Di pengujian ini saya menggunakan tool GTmetrix, Pagespeed Insight, dan WebPageTest pada halaman depan blog saya dan salah satu halaman yang paling berat karena memiliki beberapa gambar besar-besar yang saya hampir tidak optimasi.

Halaman depan (dekat.page)

Hasil pengujian pada halaman depan (dekat.page) memperlihatkan skor A pada GTmetrix, 87 PageSpeed Insight selular/mobile, 95 PageSpeed Insight desktop, dan 3.761 detik waktu yang dibutuhkan untuk membuka halaman tersebut di Jakarta (WebPageTest).

Halaman dengan gambar besar dan hampir tidak dioptimasi (dekat.page/2020/08/15/konmari/)

Hasil pengujian pada pada halaman dengan gambar besar (dekat.page/2020/08/15/konmari/) memperlihatkan skor A pada GTmetrix, 78 PageSpeed Insight selular/mobile, 88 PageSpeed Insight desktop, dan 5,071 detik waktu yang dibutuhkan untuk membuka halaman tersebut di Jakarta (WebPageTest).

Jika disimpulkan, bisa dibilang hasil pengujian pada paket Premium Plan ini menunjukkan hasil yang bisa dibilang lumayan.

Perlu digaris bawahi bahwa apa yang saya jadikan objek pengujian adalah blog sungguhan yang hampir tidak dioptimasi — beberapa orang mungkin akan bilang hey itu sih nggak dioptimasi sama sekali! (look at those big photos), akan tetapi itu pun sebenarnya sudah memperlihatkan hasil yang menurut saya lumayan.

Baiklah, saya sudahi tulisan yang mengulas perbedaan WordPress.com dan WordPress.org, kelebihan serta kekurangan masing-masing, pengalaman menggunakan WordPress.com paket Business, dan hasil pengujian WordPress.com paket Premium.

Semoga bisa bermanfaat bagi saya pribadi maupun yang membacanya.

Anda pilih WordPress.com atau WordPress.org?

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

2 replies on “WordPress COM vs ORG — Review, Uptime, Load Impact, Speed 2021”

Salam kenal Pak Iqbal. πŸ™πŸ»
Wah, senang sekali baca tulisan ini, berasa punya teman yang sama-sama suka ngeblog di platform yang sering banget “diremehin” sama blogger lain. πŸ˜‚
Dan memang, awal saya memutuskan untuk ngeblog di WordPress.com karena mencari kenyamanan. Namun seiring waktu, saya bosan dengan tema yang tersedia di sini. Dulu saya cukup sering gonta-ganti tema blog, karena menurut saya tampilan itu nomor 1~ 😎
Tadinya sempat terpikir untuk pindah ke wordpress.org, setelah hampir 1 dekade ngeblog di sini. Namun, akhirnya saya upgrade ke Bussiness plan beberapa minggu yang lalu, hanya untuk 1 alasan: memasang tema luar di WordPress.com. Tapi itu merupakan keputusan yang sangat tepat bagi saya, karena sekarang saya bisa pakai tema yang saya suka di platform blog yang saya suka. 😁

Liked by 2 people

Kalo saya sejak awal pakai Blogger & self-hosted WordPress. WordPress.com malah ga kepikiran πŸ˜€

Tapi setelah nyoba tahun 2019 lalu kok nyaman ya. Ambil yang premium karena pengen milih premium themesnya.

Sayangnya premium themes yang saya sukai malah pada retired.

Yang Blogger dan self-hosted WordPress masih saya pakai juga karena masing-masing punya fungsi yang sesuai dengan konsep yang saya inginkan.

Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s