Categories
Recharge

Tadabbur Tafsir Surat Nuh Ayat 10-12: Istighfar, Amalan Esensial Kunci Rezeki dan Pertolongan Allah

Barangkali kerja-kerja yang dilakukan sudah sedemikian keras, doa-doa telah sepanjang hari dilantunkan.. akan tetapi jangan-jangan lupa beristighfar?

Rasanya saya ingin melompat dari lantai gedung ini, kata saya kepada teman saya sesama mahasiswa Indonesia di Hiroshima University saat saya mengalami kesulitan mengerjakan thesis.

Teman saya menyahut, “Wah, saya juga begitu, tadi habis sidang thesis rasanya mau lari ke sini lalu melompat”. Kami berdua pun tertawa. Tentu saja alhamdulillah kami enggak beneran melompat, hanya sekadar ekspresi perasaan menghadapi thesis.

Well, gedung itu memang punya cerita tersendiri tentang orang yang memutuskan untuk memutus hidupnya. Tetapi bukan ruang lingkup blog ini untuk menceritakannya.

Hari-hari itu tentang thesis, hari-hari lain menghadapi masalah yang lain. Karena sepanjang hidupnya, setiap manusia akan menghadapi permasalahan demi permasalahan. Kadang terasa biasa saja, kadang menyesakkan dada.

Adakalanya masalah itu benar-benar bikin putus asa dan tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan membantu. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing atau memang tidak bisa membantu.

Misalnya saja ada orang yang mengalami masalah, kemudian dia minta tolong kerabatnya yang punya jabatan buat membantu menyelesaikan masalah itu. Masalah itu bisa dibantu sampai tuntas. Akan tetapi bertahun kemudian dia mengalami masalah lagi, kali ini dia tidak bisa minta tolong lagi sebab kerabatnya itu sudah pensiun. Bukannya tidak mau menolong, tetapi memang sudah tidak bisa.

Tidak bisa benar-benar berharap pertolongan kepada manusia, sekalipun yang berposisi tinggi atau kaya raya.. Bahkan di masa pandemi ini, terbukti bahwa bisnis-bisnis besar pun mengalami guncangan dan kesulitan menolong diri sendiri.

Sejatinya, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tempat kita setiap saat memohon pertolongan terus menerus sampai hidup kita di dunia ini berakhir.

Saat jalan terasa buntu, mentok, dan saat diri ingin lari dari kenyataan hidup, seseorang perlu melakukan hal yang seharusnya dilakukannya untuk keluar dari itu.

Tulisan di blog ini yang berjudul “Mengingat Allah Kunci Ketenangan Hati Saat Ingin Lari dari Kehidupan” mengungkap bahwa rasa ingin melarikan diri dari kehidupan saat seseorang menemui masalah yang dianggap ruwet, rumit, hendaknya diarahkan menjadi rasa berharap bisa masuk ke surga dan melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merupakan kenikmatan tertinggi yang diperoleh para penghuni surga.

Selain itu, tulisan di blog ini yang berjudul “Istighfar dalam 416 Kata: Jalan Pertolongan Allah, Penyempurna Amalan, Sebab Keamanan” mengungkap bahwa selain dengan mengingat dan berharap perjumpaan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika menghadapi masalah, seorang muslim hendaknya memperbanyak beristighfar karena merupakan pembuka jalan bagi pertolongan Allah, penyempurna amalan, serta sebab keamanan dari Allah.

Istighfar, memohon ampun, dan bertaubat kepada Allah agar Allah meringankan beban yang dihadapi.

Tulisan kali ini akan membahas sedikit lebih lanjut tentang salah satu ayat yang disebut di dalam tulisan ringkas mengenai istighfar tersebut, yaitu Surat Nuh 10-12.

Sebagaimana diungkap dalam tulisan tersebut, diriwayatkan ada beberapa orang yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang berbagai masalah yang mereka hadapi.

Ada yang mengalami musim paceklik, ada yang mengalami kemiskinan, ada yang mengalami kebunnya kekeringan, serta ada pula yang belum juga dikaruniai anak.

Dari semua curahan hati tersebut, Hasan Al-Bashri memberi nasihat yang sama, yaitu MINTALAH AMPUN KEPADA ALLAH.

Ketika ditanya mengapa beliau menyarankan hal yang sama, yaitu meminta ampunan Allah, untuk persoalan yang berbeda-beda tersebut, beliau menjawab bahwa dirinya tidak memberi nasihat berdasarkan pikirannya sendiri, melainkan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat Nuh:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”. (Al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, di ayat-ayat sebelumnya, yaitu surat Nuh ayat 1-10, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengadukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala perihal sikap kaumnya terhadapnya (Nabi Nuh menghadapi kaumnya dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama 950 tahun), yaitu tiap kali Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengajak kaumnya untuk mendekat kepada kebenaran, mereka justru malah berlari dan menjauh darinya.

Jika diseru kepada iman, kaumnya menutup telinga agar tidak mendengar seruan itu. Mereka menyombongkan diri dengan sangat, tidak mau mengikuti kebenaran.

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga sudah mendakwahi kaumnya baik secara terang-terangan maupun diam-diam, berbagai cara dilakukan agar dakwah menjadi lebih berkesan di hati kaumnya.

Pokoknya berbagai cara yang baik telah dilakukan dengan penuh kesabaran, akan tetapi kaumnya tetap saja bersikap membantah.

Kemudian sampailah pada ayat 10-12 tadi, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengakui segala kesalahan mereka dengan segera bertaubat kepada Nya. Sebesar apapun dosa-dosa seseorang, jika memohon ampunan kepada Allah maka Dia akan menerimanya.

Selanjutnya dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah akan mengirimkan hujan yang membawa kebaikan.

Dianjurkan membaca surat ini dalam shalat Istisqa yaitu shalat meminta hujan ketika hujan telah lama tidak turun.

Sahabat Umar bin Khattab Radhiallahu’ Anhu pernah naik mimbar untuk meminta hujan. Ketika itu Umar Radhiallahu’ Anhu hanya beristighfar dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang istighfar, di antaranya adalah ayat tersebut.

Selanjutnya dalam ayat tersebut, disebut pula bahwa Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak orang-orang yang senantiasa memohon ampunan kepada Nya. Allah juga akan mengadakan untuk mereka kebun-kebun serta sungai-sungai yang merupakan limpahan rezeki dari Nya.

Dalam buku Dahsyatnya Istighfar karya Hasan bin Ahmad Hamam (diterbitkan Mumtaza), Imam Hasan Al-Bashri juga pernah ditanya, apa tidak malu seseorang yang banyak berbuat dosa, kemudian beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi, kemudian beristighfar lagi, demikian seterusnya?

Akan tetapi beliau menjawab bahwa setan ingin berhasil menggoda manusia untuk bersikap seperti itu, yaitu malu untuk beristighfar sehingga tidak mau beristighfar. Maka jangan sekali-kali meninggalkan istighfar.

Alasan saya mengangkat topik Surat Nuh ayat 10-12 dan istighfar di dalam blog ini adalah sebagaimana saya sampaikan di halaman “Tentang Dekat Page”, bahwa Dekat.Page adalah blog atau halaman (page) berbagi inspirasi, review, dan informasi dalam rangka menemukan apa yang esensial. Istighfar merupakan hal yang esensial.

Amalan yang terkesan sederhana tetapi justru teramat penting dan dahsyat jika dilakukan dengan benar, dilakukan sepenuh hati.

Seseorang ingin menunaikan ibadah haji, tetapi boleh jadi dia belum punya uang, baru bisa niat dan nabung sedikit demi sedikit.

Seorang ingin bangun di sepertiga malam untuk mengerjakan tahajjud atau qiyamulail, mungkin tidak bisa melakukannya secara rutin karena sering bangun agak kesiangan (pas azan subuh).

Seorang yang ingin pergi shalat berjamaah di masjid, mungkin terkendala sakit atau hujan deras (awal tahun ini malah saya mengalami kebanjiran sehingga saya memakai pakaian basah selama seharian dan shalat dengan menggunakan pakaian itu).

Akan tetapi perhatikanlah, istighfar adalah amalan yang ringan dikerjakan, bahkan sambil mengetik tulisan ini pun saya bisa sambil beristighfar.

Jika belum mampu melakukan ibadah yang memerlukan energi, waktu, serta uang yang lebih banyak, jangan lewatkan amalan yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan amal ini, yaitu istighfar.

Maka istighfar benar-benar menjadi amal yang esensial.

Mengetahui bahwa istighfar merupakan salah satu kunci utama memperoleh pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membuat seseorang memperoleh harapan.

Barangkali kerja-kerja yang dilakukan sudah sedemikian keras, malah bisa jadi sering berangkat pagi pulang malam demi hidup yang lebih baik. Barangkali doa-doa telah sepanjang hari dilantunkan.. akan tetapi rasanya permasalahan tak pernah pergi jauh darinya, rasanya mandek, rasanya nabrak jalan buntu.

Maka, barangkali ada satu hal penting ini yang belum dilakukan, yaitu merutinkan istighfar. Tetapi bukan sekadar ucapan di lisan melainkan meyakininya di dalam hati.

Istighfar yang dilakukan dengan menghancurkan segala kesombongan diri. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, tidak lagi menanggapinya secara melebihi batas sampai-sampai melupakan kesalahan diri sendiri, sebab bisa jadi kesalahan yang dilakukan diri jauh lebih parah menurut pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebagai penutup, hendaknya setiap muslim memperbanyak istighfar, semoga dengan merutinkan istighfar terlerailah segala masalah.

Istighfar adalah amalan esensial, istighfar adalah jalan harapan untuk memperoleh ampunan dan pertolongan Allah.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s