Categories
Review

Review Buku Saku Meneladani Shalat dan Wudhu Nabi: Tipis, Ringkas, Murah, tetapi Esensial

Buku yang esensial dimiliki orang yang baru belajar shalat maupun ingin memeriksa kembali apakah shalat yang dikerjakannya sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

“Kapan terakhir kali Anda mengerjakan shalat wajib?”

Jika ditanya begitu maka alhamdulillah barusan saya mengerjakan shalat Isya.

Sekarang bagaimana kalau pertanyaannya diubah, “Kapan Anda belajar shalat?” dan “Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi shalat Anda apa sudah benar tata caranya?”

Hmm.. awal mula saya belajar shalat beserta bacaannya sewaktu saya menjadi siswa di TK dan SD Islam Assyafi’iyah Bekasi. Di luar sekolah saya mengaji setiap hari kecuali hari Sabtu di Pengajian Al Maghfiroh dekat rumah sejak SD hingga kelas 2 SMA.

Setelah itu tahun demi tahun berlalu. Sepanjang itu saya mengerjakan shalat dengan pengetahuan dan hasil pengajaran yang pernah saya terima bertahun silam.

Saya masih tetap menuntut ilmu agama Islam, ketika di kuliah S1 ada mata kuliah Pelajaran Agama Islam, mengikuti kegiatan mentoring, mengikuti kajian-kajian di masjid, serta menuntut ilmu di Islamic Online University yang sekarang berganti nama menjadi International Open University jurusan Islamic Studies (tetapi sekarang sedang vakum karena satu dan lain hal). Akan tetapi saya belum pernah lagi belajar tata cara shalat sebagaimana sewaktu masih SD atau di Pengajian Al Maghfirah tersebut yang mana saya praktek mengerjakan shalat sambil dicek oleh pengajar atau ustadz.

Nah, masalahnya, manusia itu mahluk yang bisa lupa, sementara hafalan yang saya simpan dalam pikiran adalah hafalan yang saya simpan saat masih anak-anak hingga remaja.

Di sini masalahnya, ada beberapa pertanyaan yang kemudian timbul.

Pertama, seserius apa saya dulu waktu belajar shalat? Di usia anak-anak hingga remaja itu apakah saya belajar dengan sungguh-sungguh untuk pengamalan sehari-hari ataukah sekadar untuk menghadapi ujian sekolah/pengajian?

Maksudnya, jika sekarang saya mengerjakan shalat maka itu karena pilihan sendiri, tetapi waktu SD dulu saya masih harus disuruh-suruh untuk shalat. Bahkan saya selalu menghindar (dan berhasil) ketika pulang mengaji mestinya saya ikut shalat berjamaah di mushola eh malah kabur langsung pulang ke rumah.

Apa pemahaman dan ingatan saya di masa masih belum termotivasi itu layak dijadikan andalan? Menurut saya sih tidak. Sungguh saya wajib banyak beristighfar karena ketidaksungguhan saya dalam belajar shalat.

Kedua, apakah tepat mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di ancient time, eh, bertahun yang lalu tanpa pernah mengevaluasi atau melakukan pengecekan kembali.

Padahal shalat adalah ibadah yang paling pertama dihisab atau diperhitungkan.

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam An-Nasa’i).

Maka menjadi wajib bagi seorang muslim untuk mengerjakannya dengan ikhlas dan benar caranya. Yang dimaksud dengan benar di sini adalah ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan mereview atau mengulas resensi sebuah buku esensial tentang shalat.

Buku tersebut berjudul:

Meneladani Shalat & Wudhu’ Nabi (ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin)

diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Umar. Adapun judul aslinya adalah Shifatu Shalaatin Nabiyyi minat Takbiiri ilat Tasliim, diterbitkan oleh Darul Wathan.

Apa yang menyebabkan saya menganggap buku ini buku yang esensial?

Jawabannya karena buku ini bisa membantu dua orang, pertama, orang yang baru pertama belajar shalat. Kedua, orang yang ingin mengevaluasi atau mengecek kembali tata cara shalat yang dikerjakannya, sebagaimana menjadi concern saya di awal tulisan ini.

Buku ini tipis. 76 halaman saja. Kecil pula. Muat di saku. Harganya? Murah, saat saya membelinya tidak sampai 10 ribu rupiah saja.

Perbandingan ukuran buku Meneladani Shalat dan Wudhu Nabi yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin dengan buku lainnya: tipis dan muat di saku.
Perbandingan ukuran buku Meneladani Shalat dan Wudhu Nabi yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin dengan buku lainnya: tipis dan muat di saku.

Nah di situlah kelebihan buku ini, yaitu dengan kondisinya yang minimalis tersebut buku ini mampu menyampaikan apa-apa yang esensial di dalam shalat, termasuk cara berwudhu. Disertai gambar-gambar untuk menjelaskan apa-apa yang memerlukan penjelasan gambar.

Buku saku ini memulai pembahasannya dengan bab Sifat Wudhu’ Nabi atau tata cara wudhu ala Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian dilanjutkan dengan Sifat Shalat Nabi dari Takbir sampai Salam. Terakhir ditutup dengan pembahasan bab Amalan-Amalan Nabi setelah Shalat.

Bagi seseorang yang ingin mendalami seluk-beluk tata cara shalat atau pelajar atau mahasiswa ilmu syariah, tentu buku ini tidaklah cukup. Sebab di dalamnya tidak mengungkap secara mendalam dalil-dalil yang dijadikan rujukan serta berbagai pendapat ulama.

Tetapi buku ini telah memadai bagi orang yang baru mulai belajar shalat baik anak-anak, orang yang baru taubat dari meninggalkan shalat, maupun mualaf atau orang yang baru masuk Islam, sebagai bekal awal untuk menunaikan shalat.

Buku ini juga menjadi alat bantu bagi orang yang ingin mengecek kembali shalat yang dikerjakannya apakah ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Di tengah kesibukan bekerja atau berusaha mencari nafkah, sibuk mengasuh dan mendidik anak, sibuk kuliah, dan lain sebagainya, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak bersungguh-sungguh belajar shalat.

Buku ini bukanlah rujukan satu-satunya mengenai shalat, itu sudah jelas. Akan tetapi buku ini dapat menjadi pilihan titik awal atau landasan awal dari shalat yang dikerjakan. Di dalamnya ada referensi dalil yaitu firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala maupun tuntunan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana sabda Beliau:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari)

Saya pernah membeli buku ini beberapa buah untuk diberikan kepada orang-orang terdekat. Harganya yang relatif murah membuat kita bisa membelinya banyak sekaligus. Cocok buat dijadikan hadiah.

Demikian review dari saya, semoga bermanfaat.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami dan ayah, penikmat kopi, jogging, dan berenang. Mari memperbanyak istighfar (Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 6) dan bersungguh-sungguh menuju akhir tujuan: melihat Allah (Al-Qur'an Surat Yunus ayat 26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s