Categories
Recharge

Debat Online dan Lenyapnya Ayam

Mestinya malam itu saya menyambut weekend dengan menikmati ayam goreng bumbu rahasia. Tetapi ayam goreng saya lenyap.

Peringatan: membaca tulisan ini mungkin bisa bikin lapar.

Silakan lanjutkan jika Anda siap dengan risiko tersebut. Jangan bilang saya tidak memperingatkan 😀

Ada satu restoran ayam goreng yang sejak kecil saya idam-idamkan makan di situ. Namanya? KFC.

Tulisan ini bukan iklan.

Saat saya masih usia SD (tahun 90-an) orang tua saya berlangganan majalah Bobo yang kami terima tiap Kamis pagi bersama tabloid Nova diantar tukang koran langganan.

Nah, di majalah Bobo terkadang ada iklan ayam goreng KFC dengan gambar Kolonel Sanders yang legendaris. Selain itu juga ada iklan Texas Chicken dan McD. Tapi saya pikir yang paling menempel di benak saya adalah KFC.

Perekonomian keluarga kami saat itu belum memungkinkan kami untuk pergi makan di restoran-restoran semacam itu.

Alhamdulillah meski begitu kami masih bisa membeli majalah, buku, atau tabloid sehingga minat baca terus bertumbuh sejak kecil.

Meski teramat langka makan ayam goreng KFC (pernah makan saat acara piknik sekolah) tetapi ibu saya sering bikin ayam goreng pakai bumbu kentucky.

Biasanya saya akan makan nasi duluan, setelah itu baru makan ayamnya sambil dihayati sampai gigitan terakhir.

Well, sekarang mari melompat ke tahun 2011. Momen ketika saya telah lulus kuliah, memperoleh pekerjaan di daerah Jakarta Selatan, dan sedang asyik-asyiknya menikmati gaji tahun pertama bekerja.

Jumat malam itu saya pergi seorang diri ke sebuah restoran di dalam Mall Metropolitan Bekasi. That’s correct, saya pergi ke KFC, restoran ayam goreng yang saya idam-idamkan sejak kecil.

Saya sudah terpikir untuk pergi kerestoran itu sejak dari hari Seninnya lho.. Semacam rasa ingin menikmati datangnya weekend. Mumpung masih sendiri. Dan yang terpikir dalam benak saya saat itu adalah, hei, kenapa saya nggak makan di restoran ayam goreng yang dulu cuma ada dalam bayangan saja yaitu KFC?

Maka tersusunlah rencana itu. Dan terwujud!

Di hadapan saya kini sudah ada seporsi ayam goreng yang konon dibikin pakai bumbu rahasia.

Menurut websitenya sih katanya dibuatnya begini: Para koki memeriksa satu demi satu potongan ayam yang akan digoreng. Setelah itu, ayam segar kami digulung dengan hati-hati 7 kali dalam campuran rahasia 11 bumbu & rempah-rempah, kemudian diguncang 7 kali, dan kemudian dimasak dengan tekanan pada suhu rendah untuk mempertahankan semua rasa enak yang terkenal di seluruh dunia. Saya tidak tahu itu sungguhan atau tidak, yang jelas membacanya bikin saya lapar 😀

Karena ayam goreng dan nasinya masih panas, maka saya ambil handphone dari dalam saku. Menunggu agak adem sambil membuka akun Facebook dan melihat-lihat status teman-teman.

Semua berjalan sesuai rencana dan terasa nyaman. Sampai..

Sampai mata saya menangkap status Facebook salah seorang teman yang mengomentari sebuah kasus yang lagi viral di hari itu. Tentang skandal seorang tokoh yang menghebohkan dunia maya.

Sang empunya status FB menulis status dengan nada ejekan terhadap sang tokoh yang sedang viral tersebut.

Sebenarnya saya tidak kenal secara pribadi dengan sang tokoh, hanya saja saya mengira sedikit tahu track recordnya serta buku-buku yang ditulisnya.

Saya rasa dia orang baik, hanya saja dia sedang tersandung kasus.

Kasusnya itu sendiri masih samar, sehingga saya merasa perlu mengingatkan teman saya agar tidak mengolok-olok sang tokoh sedangkan kasusnya sendiri masih belum jelas.

Saya pun menulis komentar di status Facebooknya. Sayangnya respon teman FB ini ternyata malah semakin menjadi-jadi, semakin mengolok-olok.

Saya mendapati ternyata bukan hanya saya saja yang terpancing mengomentari status FB-nya, sama seperti saya teman-teman FB sang penulis status juga merasa perlu mengingatkan sang pemilik status.

Yang terjadi selanjutnya adalah debat kusir.

Jari saya mengetik balasan demi balasan, sedangkan pikiran saya bekerja cepat untuk mengarahkan jari saya, terjun dalam perdebatan media sosial tersebut.

Seakan kami sedang bertarung, bertempur.. di status FB.

Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.
Anggap saja ini ilustrasi debat panas di dunia maya.

Tangan saya meraih ayam goreng KFC di piring.

Yang sayangnya……. sudah tidak ada.

Lho, kemana ya?

Kemana ayam goreng impian saya?

Ayam goreng saya lenyap!?

Jadi, ternyata selama saya tenggelam dalam debat panas tersebut, tanpa sadar saya mengetik sambil makan.

Tangan kiri mengetik, tangan kanan mengambil ayam goreng impian.

Meski telah masuk ke dalam perut tetapi saya tidak merasa kenyang, tidak pula merasa nikmat. Tidak terasa sama sekali.

Sebenarnya saya bisa saja memesan lagi ayam goreng tadi, tidak perlu pakai nasi. Malah kalau perlu saya beli dua potong sekaligus, mumpung lagi mampir ke mall, karena toh saya juga jarang-jarang pergi ke mall.

Tetapi saya putuskan untuk pulang ke rumah saja.

Malam itu saya pulang ke rumah dengan membawa pelajaran: debat medsos itu bisa bikin orang jadi lalai, baik lalai terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

Malam itu saya hanya kehilangan sepotong ayam goreng yang mestinya bisa saya nikmati dari hasil jerih payah.

Nah, saya membayangkan bagaimana kalau saya kehilangan hal yang lebih besar, kehilangan hal yang lebih penting dari sekadar ayam goreng?

Misalnya? Misalnya, saya lagi makan malam dengan istri atau main dengan anak saya, tetapi pikiran saya melayang-layang ke perdebatan yang bikin emosi dan mengganggu pikiran.

Jika demikian yang terjadi, bukankah sama saja menyia-nyiakan momen penting bersama keluarga yang already ada di hadapan? Istighfar banyak-banyak yuk..

Maka malam itu saya pun memutuskan mengirim pesan pribadi ke sang teman FB pemilik status bikin ramai itu, pesan permintaan maaf karena sudah berdebat di status FB-nya.

Saya berjanji tidak mengusiknya lagi, dia bebas menulis apa saja sesuka hati.

Momen itu menjadi milestone penting dalam hidup saya, sebab saya jadi mulai berhati-hati muncul di medsos agar tidak terjebak pada jebakan debat seperti malam saya kehilangan ayam goreng tersebut.

Saya mulai merasa bahwa perdebatan di medsos itu bisa menimbulkan keburukan yang lebih besar ketimbang kebaikannya jika saya terlalu tenggelam di dalamnya.

Semestinya jika merasa ada yang perlu dikoreksi cukup disampaikan seperlunya saja.

Jujur, awal mengenal media sosial (Facebook, Multiply, dan lain-lain) dulu kadang saya terlibat perdebatan online. Saya juga pernah berdebat offline. Tapi sekarang-sekarang saya pikir itu hal yang tidak efektif. Setidaknya karena 2 alasan:

Pertama, karakteristik debat yang tidak jarang mengundang suasana panas, tak jarang diwarnai saling mengolok.

Kadang orang lebih pengin membuktikan dirinya benar ketimbang mencari mana yang benar.

Ini berbeda dengan diskusi yang memang diniatkan mencari kebenaran.

Coba perhatikan acara debat yang disiarkan di TV. Masing-masing peserta dikasih batas waktu buat ngomong, sehingga terkesan jadi ajang cepat-cepatan ngomong. Terkadang jadi unjuk kemahiran memotong perkataan orang.

Ini jelas sangat berbeda dengan diskusi atau dialog yang ditujukan untuk mencari kebenaran, di mana masing-masing pihak diberi kesempatan untuk menyampaikan argumennya sampai tuntas.

Tidak perlu diburu-buru oleh batas waktu.

Saya pernah berdebat dengan seorang teman tentang beberapa hal. Teman saya ini menyebalkan, terkesan meremehkan.

Sekarang sekian tahun kemudian, banyak hal dari topik perdebatan itu yang saya SEPAKAT dengan sang teman.

Terlepas dia dulu orang yang menyebalkan (tidak tahu sekarang bagaimana karena kami sudah lama sekali tidak bertemu lagi), banyak hal yang sekarang saya sepakat dengannya.

Sayang sekali dulu kita nggak bisa ngobrol atau diskusi dengan cara yang lebih baik.

Kedua, ada hal-hal yang sebenarnya sudah jelas, tapi karena hawa nafsu dan emosi sedang menguasai akhirnya menutup diri dari menerima apa yang sudah jelas.

Dikisahkan dalam pepatah arab ada dua orang yang berselisih pendapat apakah benda hitam yang terlihat di ujung sana.

Yang satu orang bilang itu burung, yang satu bilang itu kambing.

Mereka pun terus berdebat, sampai suatu ketika benda tadi terbang.

Lalu apa kata yang bilang itu kambing? Dia bilang:

“ITU KAMBING MESKIPUN TERBANG.”

Nah lho..

Masih ada alasan-alasan lainnya kenapa perdebatan itu sebaiknya dihindari. Perdebatan ya, bukan diskusi atau dialog.

Sebagai penutup, mari simak hadits berikut:

“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar.

Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan.

Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud).

Tulisan ini hanyalah pendapat penulis berdasarkan ilmu yang masih terbatas serta pengalaman yang juga masih terbatas.

Anda punya pengalaman debat kusir yang bikin Anda merasa rugi pernah terlibat?

Iqbal – Dekat.Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s