Categories
Review

Kelak Kita Kenang Hari Ini

Semoga lekas tiba masa pandemi ini menjadi kenangan, yang dengan mengingatnya bikin kita bersyukur dan bersemangat pergi ke masjid.

Masjid Jami Al-Azhar Jakapermai Bekasi biasanya adalah masjid yang ramai. Ramai dengan orang, ramai dengan aktivitas.

Tetapi beberapa bulan terakhir masjid tersebut tampak tidak seramai biasanya. Shalat Jumat tetap ada, akan tetapi jumlah hadirinnya tidak sebanyak sebelumnya.

Bukan hanya masjid ini, melainkan juga masjid-masjid di seluruh dunia, disebabkan upaya pencegahan penyebaran wabah covid-19 yang beberapa bulan terakhir telah menjadi header utama berita di seluruh dunia.

Jumat lalu saya shalat Jumat di sana, ini beberapa view yang saya ambil menjelang shalat Jumat, tampak sunyi dan lengang jika dibandingkan kondisi sebelum pandemi:

Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi
Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi
Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi
Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi
Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi

Di dalam masjid sebenarnya cukup ramai, dengan tetap mentaati protokol covid-19 seperti dibuat jarak antar jamaah, wajib bawa sajadah sendiri (jika tidak bawa maka shalat di lantai 2), wajib memakai masker, dan mencuci tangan dengan hand sanitizer.

Saat menulis tulisan ini, pintu gerbang yang di buka hanya yang berada di sisi dalam/perumahan, sedangkan sisi luar/jalan raya Kalimalang ditutup. Pengurus masjid menyampaikan harapannya suatu saat pintu gerbang tersebut akan dibuka kembali, yaitu jika situasinya telah membaik.

Perjalanan saya menuju masjid tersebut juga kini lebih jauh dari biasanya karena beberapa jalan masuk kini ditutup.

Saat menuju masjid, saya melihat ada masjid Al-Ikhsan yang tidak menyelenggarakan shalat Jumat.

Saat saya menulis tulisan ini, masjid ini adalah salah satu dari 4 masjid yang paling berkesan dalam hidup saya. Tiga masjid lainnya adalah:

(1) Masjid An-Naba SMA 1 Bekasi dengan Remaja Masjid An-Naba nya (IRMAN) yang menjadi alasan kuat mengapa dulu saya memilih sekolah di situ (karena cerita kakak saya tentang IRMAN yang berhasil bikin saya penasaran dan pengin banget bergabung).

(2) Masjid Al-Furqon Kukusan Depok tempat saya dulu shalat sehari-hari serta mengajar Taman Pengajian Al-Qur’an anak-anak, semasa menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia dan ngekos di Kukusan Teknik.

(3) Masjid As-Salam Hiroshima tempat yang begitu menyenangkan dan mengesankan, menjadikan kehidupan saya selama berkuliah di Hiroshima University begitu mengesankan.

Nah, lalu apa yang membuat Masjid Jami Al-Azhar Jakapermai begitu istimewa bagi saya?

Well, masjid ini termasuk masjid yang menyelenggarakan itikaf di bulan Ramadhan setiap tahunnya.

Itikaf di bulan Ramadhan adalah sarana memperoleh energi yang luar biasa untuk menghadirkan semangat dan energi tambahan.

Jujur saja saya pernah merasa hidup saya terlampau berantakan. Payah, amburadul, kehilangan arah. Itikaf di bulan Ramadhan menjadi pengobat dari kejenuhan yang bertumpuk hari demi hari tersebut.

Saya pun mencoba merutinkan itikaf Ramadhan di sana sejak tahun 2010.

Saat beritikaf, saya melihat banyak orang. Ada yang full itikaf di 10 hari terakhir ada juga sesempatnya.

Kasur-kasur terhampar. Jemuran portable terpasang.

Anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang lanjut usia ramai mengaji.

Setiap orang punya cerita hidup mereka masing-masing.

Punya background masing-masing.

Punya aktivitas masing-masing.

Ada yang punya perusahaan, ada yang karyawan, ada pensiunan, ada pelajar, ada pedagang, ada guru, beragam latar belakang, apa pun itu, mereka berkumpul insya Allah dengan niat yang sama, insya Allah dengan niat kembali kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan Allah.

Saya telah merasakan menginap di beberapa kamar hotel. Sesungguhnya tidak ada satu pun yang mengalahkan kenikmatan tidur di masjid saat itikaf di bulan Ramadhan. Tentunya dengan kebutuhan dasar yang terpenuhi, seperti anti nyamuk (jika ada nyamuk) dan karpet.

Orang yang belum pernah itikaf perlu mencobanya sesekali dan merasakan sensasi rasa yang tak terlukiskan kata-kata.

Masjid Jami Al-Azhar Jakapermai Bekasi biasanya adalah masjid yang ramai dengan orang, ramai dengan aktivitas. Tetapi beberapa bulan terakhir masjid tersebut tampak tidak seramai biasanya. Bukan hanya masjid ini, melainkan juga masjid-masjid di seluruh dunia, disebabkan upaya pencegahan penyebaran wabah covid-19 yang beberapa bulan terakhir telah menjadi header utama berita di seluruh dunia.

Akan tetapi, di tahun 2020 ini itikaf bulan Ramadhan yang diselenggarakan setiap tahun di masjid ini ditiadakan. Demikian pula di banyak masjid lainnya.

Tidakkah kita rindu suasana masjid-masjid yang ramai di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, seperti dulu?

Selain itikaf, hal yang membuat saya merasakan kesan mendalam pada Masjid Jami Al Azhar Jakapermai adalah cara saya mencapai masjid tersebut.

Saya biasanya, atau hampir selalu, kalau pergi ke masjid tersebut akan berjalan kaki, sekitar 2 km. Karena saat berjalan itulah saya bisa merenung, berdoa, atau berdzikir.

Suasana jalanan perumahan yang gelap menambah kesyahduan perjalanan tersebut.

Ada suatu pengalaman menarik yang pernah saya alami.

Saya pernah dua kali mengalami kejadian ini di bulan Ramadhan di tahun yang berbeda.

Saya sangat suka dengan azan yang bernada Nahawan. Seperti apa? Nanti kalau sudah menemukan video yang cocok akan saya share di sini.

Nah, kadang-kadang imam Masjid Jami Al-Azhar melantunkan azan dengan nada tersebut, tetapi sayangnya momen itu sangatlah langka alias jarang-jarang.

Ingin rasanya saya meminta sang muazin untuk lebih sering melantunkan azan dengan nada Nahawan tersebut.

Malam itu pikiran saya sedang jenuh, benar-benar jenuh dan lelah, dalam perjalanan menuju shalat tarawih ke Masjid Jami Al-Azhar, saya mengadukan masalah saya kepada Allah. Saya juga minta dihibur.

Yang terjadi kemudian, terlantun suara azan dari Masjid Jami Al-Azhar dari kejauhan dengan nada Nahawan!

Semakin saya berjalan mendekat ke masjid, suara azan tersebut terdengar semakin jelas.

Langkah kaki yang bersinergi dengan suara azan, seperti adegan film yang bergerak perlahan. Ada nuansa rasa tak terlukiskan.

Hati pun berkata, ya Allah terima kasih telah menghibur hamba Mu ini..

Selain itikaf dan perjalanan ke masjid, hal berkesan lainnya adalah menghadiri kajian-kajiannya.

Ada kajian yang selepas subuh dan selesai saat matahari terbit (kajian Ustadz Adi Hidayat), ada kajian yang waktu dhuha, ada yang siang, dan ada juga yang malam hari. Saya paling senang jika kajiannya diadakan malam Ahad.

Saat tulisan ini saya buat, kajian-kajian dilakukan secara online di channel Youtube.

Saya selalu teringat perkataan seseorang, saya lupa siapa ya yang dulu pernah bilang, tetapi saya ingat terus, kira-kira begini:

Semua yang disampaikan dalam pertemuan ini mungkin bisa dicari dan dibaca sendiri di buku, tetapi rasa teduh yang dirasakan di dalam majelis ini tidak tergantikan.

Benar sekali, itulah yang saya rasakan. Ada kenikmatan tersendiri saat berjalan ke kajian di masjid tersebut. Sampai di sana sudah ramai oleh orang-orang yang juga ingin mengikuti kajian.

Kita tidak saling mengenal, dan kita juga tidak berusaha mengenal satu sama lain.

Tetapi kita tahu bahwa kita punya rasa haus dan rindu yang sama dan itu menyatukan hati kita.

Rasa itu terasa lebih kuat saat hadir di kajian fisik ketimbang kajian online.

Meski begitu, alhamdulillah ada kemudahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kajian-kajian online yang perlu disyukuri.

Kelak Kita Kenang Hari Ini: Masjid Jami Al-Azhar Bekasi

Semoga wabah ini segera berakhir dan masjid-masjid bisa kembali hidup dengan kondisi yang bahkan jauh lebih baik lagi.

Semoga akan segera tiba momen ketika kerinduan ini terobati. Yaitu dengan berakhirnya pandemi ini.

Semoga pandemi menjadi masa lalu yang dengan mengingatnya menjadikan kita bersyukur dan bersemangat pergi ke masjid-masjid.

Dan semoga Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang, menganugerahkan kepada kita kenikmatan yang tertinggi: melihat Nya di akhirat kelak.

Apa Anda juga merasakan rindu di masa pandemi ini?

Iqbal – Dekat.Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s