Categories
Recharge

10 Aktivitas Berkesan saat Saya Kuliah di Jepang

“Teman, kamu enggak minum, enggak punya girlfriend, enggak merokok, lalu apa hiburan kamu?” — Sebuah arsip kenangan yang terasa relevan di masa pandemi di mana ruang gerak kita lebih terbatas dari biasanya.

“Teman, kamu enggak minum, enggak punya girlfriend, enggak merokok, lalu apa hiburan kamu?” — Sebuah arsip kenangan yang terasa relevan di masa pandemi di mana ruang gerak kita lebih terbatas dari biasanya.

Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat saya kuliah di Hiroshima University (Hirodai), sebuah kampus yang berlokasi di Saijo, kota kecil di Prefektur Hiroshima Jepang. Saya mengangkat topik ini karena terasa relevan dengan masa pandemi saat ini di mana ruang gerak kita lebih terbatas dari biasanya.

Suatu malam saat pulang dari kampus menuju apato (apartemen) mahasiswa milik kampus dengan bersepeda, saya berpapasan dengan seorang mahasiswa Hirodai dari negara lain yang juga tinggal di apato yang sama tapi beda gedung.

Sambil bersepeda kami berkenalan. Dekatnya jarak kampus ke apato (kurang dari 10 menit dengan bersepeda) serta sangat dinginnya udara musim dingin menyebabkan kami berdua melaju agak ngebut biar cepat sampai apato, sehingga tidak banyak yang bisa kami obrolkan. Akan tetapi dalam momen yang singkat itu kenalan baru saya masih sempat menanyakan sebuah pertanyaan tak terduga nan menarik. Awalnya dia nanya:

Hai teman, kamu tidak minum ya?

Sepertinya dia bertanya begitu karena saya berasal dari Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Minum yang dimaksud adalah minum minuman beralkohol yang merupakan hal lumrah dilakukan di Jepang.

Saijo sendiri terkenal di seluruh Jepang sebagai satu dari tiga daerah penghasil sake (minuman beralkohol khas Jepang yang berasal dari hasil fermentasi beras) paling top di Jepang. Dari informasi yang pernah saya dengar, hal ini disebabkan Saijo memiliki air tanah berkualitas tinggi.

Bagi saya air minum di Saijo memang sangat enak, sejuk, dan dingin. Saya sangat menikmati air minum gratis di kantin kampus yang sayangnya gelas di kantin lebih kecil dari gelas di Indonesia jadi kalau mau nambah mesti bolak-balik ke dispensernya.

Setiap Oktober ada festival sake Saijo (Saijo Sake Matsuri) di mana para produsen sake hadir menyajikan produknya yang dapat dicicipi para pengunjung.

Maka pertanyaan “Teman, kamu tidak minum ya?” tadi sepertinya ingin memastikan, mengingat saya saat itu tinggal di kota yang punya nama besar penghasil sake paling top di Jepang, apa benar saya tidak pernah sesekali mencicipinya.

Iya teman, saya tidak minum.

Karena enggak boleh ya?

Iya betul teman. Islam tidak membolehkan saya mengonsumsi minuman yang memabukkan.

Pertanyaannya masih berlanjut:

Kamu punya girlfriend?

“Enggak teman.” Jawab saya.

Kamu merokok enggak?

Saya enggak merokok.

Setelah menanyakan ketiga pertanyaan tadi, dia pun menanyakan sebuah pertanyaan pamungkas:

“Teman, kamu tidak minum, tidak punya girlfriend, tidak merokok, terus bagaimana cara kamu berhibur?”

Tepat setelah pertanyaan itu diluncurkan kami tiba di persimpangan jalan di area apato dan harus berpisah.

“Hmm.. banyak sih caranya teman.” jawab saya.

Kemudian kami berpisah. Obrolan singkat tersebut pun usai. Sayangnya saya jarang bertemu dengannya karena kami berbeda jurusan.

Di apato, saya menempati sebuah kamar yang terdiri dari area tempat tidur, area belajar, dapur, dan kamar mandi.

Ikenoue Student Dormitory © Iqbal (dekat.page)

Saya hanya tinggal sendirian sehingga terasa sepi. Teman sebelah kamar yang juga orang Indonesia tidak terdengar suaranya entah sudah tidur, sedang belajar, atau masih di kampus.

Saya menempati kamar yang sangat nyaman buat saya, terlebih di musim dingin seperti saat itu.

Sebagai orang yang hidup di iklim tropis, menemui musim gugur dan musim dingin tentunya memberi kesan tersendiri. Di satu sisi saya antusias melihat daun berguguran dan suasana syahdu, di sisi lain saya merasa sangat kedinginan merasuk tulang, sampai-sampai hidung mimisan dan terasa berat untuk mandi atau berwudhu.

Saking dinginnya, kalau mau wudhu saya terkadang merasa perlu menghimpun niat terlebih dahulu dan menghitung beberapa kali untuk memantapkan hati:

“Oke, baik, saya akan wudhu, baik, saya akan hitung, 1.. 2.. 3.. oke saya akan wudhu saya ulang hitungannya yah.. 1.. 2..”

Setelah itu saya menyalakan keran.

“Baiklah kali ini saya benar-benar akan berwudhu.. saya hitung sampai…”

Herannya dalam suhu yang sangat-dingin-menembus-sarung-tangan-setebal-apapun-sarung-tangannya itu, saya melihat orang-orang Jepang jogging malam-malam.

Berkebalikan dengan saya yang begitu pulang langsung meringkuk di balik selimut, masyarakat Jepang tampaknya kebal udara dingin dan tetap berolahraga seperti biasa.

Malah pernah suatu ketika di malam hari saya ngebut naik sepeda menuju apato karena dingin yang tak tertahankan, eh di jalan saya malah melihat seorang nenek jalan kaki dengan santainya.

Wait, yang barusan itu nenek-nenek sungguhan kan?

Sambil berselimut dan menyalakan mesin penghangat ruangan saya pun teringat kembali pertanyaan kenalan baru saya dari negara lain tadi.

“Teman, kamu tidak mabuk, tidak punya girlfriend, tidak merokok, lalu bagaimana cara kamu berhibur?”

Pemaknaan hiburan menjadi penting ketika kita menyadari bahwa setiap manusia perlu hiburan. Semakin seseorang mampu menemukan hal-hal yang bisa menghiburnya dari apa yang already ada di sekelilingnya maka akan menjadi lebih baik.

Contoh sederhana, saat menunggu kereta yang telat datang akibat gangguan persinyalan, orang yang senang membaca dan membawa buku bacaan akan lebih bisa menikmati perjalanan ketimbang orang yang tidak tahu harus melakukan apa.

Orang-orang Jepang yang malam itu jogging menembus malam, meski buat saya udaranya sangat dingin sehingga saya enggan keluar apato, mereka sebenarnya sedang melakukan salah satu aktivitas yang menjadi hiburan bagi mereka.

Dalam tulisan ini saya akan menceritakan aktivitas apa saja yang menjadi hiburan selama saya menjadi mahasiswa di Jepang.

10 Aktivitas Menyenangkan Saya Lakukan saat Kuliah di Jepang

Apa yang saya uraikan di bawah ini merupakan contoh saja sebab masih banyak lagi hal-hal yang dapat dimaknai sebagai hiburan (entertainment).

1. Melakukan Berbagai Hal dengan Laptop, Smartphone, dan Internet Super Cepat

Dengan adanya laptop, smartphone, dan koneksi internet super cepat, saya kebanjiran ide apa yang akan saya lakukan dengan laptop dan smartphone saya.

Dengan mudahnya saya bisa baca-baca artikel yang menarik, nonton streaming film — favorit saya Keroro Gunsou, Gundam 00, Shingeki no Kyujin –, atau menemukan komik horror yang asyik dibaca sendirian di apato.

Dengan mudahnya saya bisa baca-baca artikel yang menarik, nonton streaming film -- favorit saya Keroro Gunsou, Gundam 00, Shingeki no Kyujin --, atau menemukan komik horror yang asyik dibaca sendirian di apato.

Dari sekadar nonton streaming film dan baca-baca artikel atau komik saja tak akan pernah cukup waktu yang tersedia untuk melahap itu semua.

Hanya dengan laptop atau smartphone saja saya sudah bisa memperoleh hiburan yang benar-benar bisa bikin lupa waktu. Bahkan tanpa harus keluar apato dan turun dari kasur.

Koneksi internet super cepat tadi juga saya manfaatkan buat belajar dan mengembangkan diri. Contohnya, saya bisa belajar bikin jasa membuat website undangan pernikahan serta mengelola blog komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Hiroshima.

2. Mengunjungi Toko Mainan, Baru Maupun Second

Di waktu senggang sesekali saya mampir ke toko mainan baik toko mainan baru maupun second, misalnya ke Tsutaya buat melihat-lihat mainan second-hand (bekas) yang masih bagus. Di Jepang barang-barang bekas kondisinya masih bagus dan terawat.

Metal Build Gundam

Penggemar mainan robot-robotan Jepang pasti bakal antusias kalau melihat koleksi mainan yang dipajang di sana. Di Indonesia komunitas penggemar mainan mudah ditemukan di group-group Facebook.

Jika ingin melihat-lihat mainan yang baru, saya bisa pergi ke Fuji Grand. Di dalam supermarket tersebut ada area penjualan mainan terkini. Jika ada yang saya sukai maka saya bawa pulang.

3. Belajar Memasak

Meski memasak bukan hobi saya, hidup sendirian di apato membuat saya mau tidak mau harus belajar memasak.

telur mata sapi sederhana

Demi bisa bikin masakan telur mata sapi sederhana seperti di foto di atas, saya sampai belajar ke senpai (senior) mahasiswa asal Indonesia yang kelezatan masakannya terkenal di kalangan mahasiswa asal Indonesia.

Terima kasih senpai, tetapi saya hanya mampu menyerap ilmu bikin telur ini saja 😀

Yang membuat kegiatan memasak ini menjadi hiburan bagi saya adalah karena saya suka memberi nama hasil masakan saya sesuka hati, misalnya “telur 22/7” dan nama-nama lainnya yang random.

Di tambah lagi saya punya teman sesama orang Indonesia yang memang suka eksperimen memasak. Saya dan teman-teman lainnya menyebutnya “Chef asal Ciroyom”.

Suatu malam saat kami berada di lab kampus, Chef asal Ciroyom ini memasak telur ayam dengan metode yang dipelajarinya di Youtube. Telurnya dituangkan ke gelas, kemudian di masukkan ke microwave.

Saat telurnya sudah matang dan diperlihatkan ke saya, tahu-tahu telurnya meledak.

Malam itu saya pun terpaksa membersihkan komputer saya yang terkena tebaran serpihan kuning telur.

4. Mengajar Anak-Anak Children Class

Tiap Sabtu sore ada pengajian anak-anak Children Class di Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC). Di kegiatan tersebut saya membantu mengajar ngaji anak-anak. Kebanyakan adalah anak-anak orang Indonesia, selain itu ada juga anak Malaysia dan Mesir.

Rasanya benar-benar excited! Jadi begini, saya tidak bisa bahasa Arab, anak-anak Mesir tadi tidak bisa bahasa Inggris. Di tambah lagi, ada anak murid baru keturunan Indonesia-Jepang yang hanya bisa bahasa Jepang, tidak bisa bahasa Indonesia. Tetapi surprisingly acara pengajian Children Class bisa berjalan dengan baik dan komunikasi menggunakan bahasa isyarat ternyata bisa diandalkan.

pengajian anak-anak Children Class di Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)
pengajian anak-anak Children Class di Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)
pengajian anak-anak Children Class di Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)

Beberapa kali Children Class berpartisipasi dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh HICC dan komunitas muslim Indonesia di sana yaitu Keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima (KMIH).

5. Beragam Aktivitas di Masjid As-Salam Hiroshima

Masjid As-Salam Hiroshima sering mengadakan acara-acara, mulai dari kajian Islam,

Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)

kerja bakti membersihkan masjid,

Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)

hingga kegiatan mengisi Ramadhan. Di Bulan Ramadhan, Masjid As-Salam Hiroshima mengadakan acara buka puasa bersama setiap hari. Setiap komunitas muslim di tiap negara kebagian hari untuk menyediakan makanan berbuka. Misalnya hari ini komunitas muslim Indonesia, besok dari Malaysia, besoknya lagi dari Mesir atau Bangladesh.

Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)
Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)
Masjid As-Salam Hiroshima/Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC)

6. Jalan-Jalan ke Koen (Taman)

Di Jepang ada banyak taman yang di dalamnya banyak bunga untuk dilihat. Banyak bunga yang indah dan enak dilihat sampai-sampai orang yang tadinya tidak tertarik sama bunga pun jadi tertarik (seperti saya).

Saya bukanlah penggemar bunga, akan tetapi bunga-bunga di taman Jepang sungguh indah sampai-sampai sukses bikin saya mendadak jadi penggemar bunga.

Bunga memang menjadi hal penting di Jepang. Saat musim semi dan bunga sakura mulai bermekaran ada kegiatan tahunan masyarakat Jepang yaitu hanami atau melihat bunga.

Mereka piknik menggelar tikar di taman-taman yang ada pohon sakuranya. Bukan hanya di siang hari, kegiatan itu juga berlangsung hingga malam hari.

Saat musim semi dan bunga sakura mulai bermekaran ada kegiatan tahunan masyarakat Jepang yaitu hanami atau melihat bunga.
Saat musim semi dan bunga sakura mulai bermekaran ada kegiatan tahunan masyarakat Jepang yaitu hanami atau melihat bunga.
Saat musim semi dan bunga sakura mulai bermekaran ada kegiatan tahunan masyarakat Jepang yaitu hanami atau melihat bunga.

7. Bersepeda

Bersepeda keliling kesana kemari juga menjadi hiburan tersendiri. Melihat hamparan sawah dan langit yang indah.

8. Makan di Shokudou (Kantin)

Datang ke shokudou (kantin) saat lapar menjadi hiburan tersendiri. Ada hararu chiken alias ayam halal yang rasanya sangat enak dan karenanya saya sering kehabisan, thank you so much my campus!

hararu chiken shokudou Hiroshima University

9. Arubaito (Kerja Part-Time)

Di Jepang ada arubaito atau kerja part-time, kerja sambilan. Kerja sambilan saya mengajar bahasa Inggris di SD Takamigaoka.

Uhm.. sebenarnya bukan benar-benar mengajar English sih, karena di konsepnya memang mengajari anak-anak, tetapi kenyataanya mereka belum terlalu tertarik belajar bahasa Inggris sehingga konsepnya dikembangkan menjadi mengajak anak-anak tersebut mengenal kebudayaan dan keunikan bangsa lain.

Saya dan rekan-rekan dari berbagai negara, diajak berkeliling sekolah oleh koordinator kami buat bercerita tentang keunikan masing-masing negara. Saya bercerita tentang komodo yang panjang badannya bisa mencapai 2 meter dan sukses bikin murid-murid terpana bilang sugeeee! ‘woah, kerennn!’.

arubaito di SD Takamigaoka
arubaito di SD Takamigaoka

Kerja part-time semacam ini lebih menjadi hiburan buat saya daripada sarana mengumpulkan uang, meski penghasilannya juga lumayan (bagi saya). Senang hati melihat keceriaan murid-murid.

Di sekolah saya banyak menemukan hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Salah satunya pembagian makan tiap siang, murid-murid dibagikan makanan gratis.

Seorang kepala sekolah di salah satu sekolah yang pernah saya kunjungi pernah ngasih tebak-tebakan,

Tahu tidak kenapa kepala sekolah memperoleh paket makan siangnya duluan daripada anak-anak muridnya?

Menurut saya jawaban yang paling logis adalah: karena beliau kepala sekolah, jadi memperoleh kehormatan untuk menikmati makan siang duluan.

Beliau harus memperoleh makan siangnya duluan agar murid-murid belajar menghormati yang lebih tua dan mendahulukan urusannya.

Atau, bisa juga karena kepala sekolah orang yang sibuk sehingga mereka perlu menyelesaikan makan siangnya lebih dulu.

Tetapi jawaban sang kepala sekolah di luar dugaan saya:

Kepala sekolah harus menikmati makan siangnya duluan untuk memastikan makan siang di hari itu baik-baik saja. Jika makanan tersebut ternyata sudah rusak atau beracun maka kepala sekolahlah yang lebih dahulu tahu dan merasakan dampaknya.

10. Olahraga dan Bermain

Saya senang bermain catch-ball dan senang melihat orang lain bermain catch-ball, yaitu lempar tangkap bola baseball. Permainan kasual favorit orang Jepang ini selain dimainkan oleh pelajar sekolah dan mahasiswa juga sering dimanfaatkan oleh keluarga untuk mempererat hubungan orang tua dan anak.

Di Jepang kita bisa menjumpai di taman ada ayah atau ibu yang bermain catch-ball dengan anaknya. Saya sendiri biasa main catch-ball bersama anak-anak Children Class.

Menemukan Hiburan pada Hal-Hal Kecil dan Sederhana Adalah Anugerah — Terutama di Masa Pandemi

Well, itulah di antara beberapa hal yang menjadi hiburan saya saat saya kuliah di Jepang.

Saya bersyukur menemui berbagai hal yang dapat menghibur saya: orang-orang yang baik, aktivitas yang menyenangkan, dan tempat yang indah.

Taman yang menyejukkan mata, salju yang syahdu, suara tonggeret kala siang, bunga-bunga warna warni, apa yang already ada di sekitar saya saat itu haruslah menjadi hal yang bisa saya nikmati.

Alangkah lebih mudahnya hidup ini jika kita bisa menggali dan menemukan hal-hal yang menghibur pada apa yang already ada di sekitar kita.

Tulisan ini berfungsi sebagai arsip kenangan berkesan yang pernah saya alami saat saya kuliah di Jepang tahun 2012-2014 silam. Waktu yang telah berlalu, namun tulisan ini terasa relevan di masa sekarang ini yaitu di masa pandemi di mana kita berharap dapat senantiasa menikmati dan mensyukuri apa yang ada di tengah segala keterbatasan dan pembatasan saat ini.

Well, apa Anda punya hiburan favorit dari hal-hal kecil dan sederhana?

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s