Categories
Blogging

Tips Membeli Domain di 2021

(1) Benarkah domain bagaikan sertifikat tanah? (2) Benarkah jangan membeli domain di tempat yang sama dengan menyewa hosting? (3) Checklist beli domain yang aman (4) Rekomendasi tempat beli domain.

(1) Benarkah domain bagaikan sertifikat tanah? (2) Benarkah jangan membeli domain di tempat yang sama dengan menyewa hosting? (3) Checklist beli domain yang aman (4) Rekomendasi tempat beli domain.

Sebagaimana tulisan saya di blog ini yang berjudul “Blog: Pengingat dan Pesan untuk Masa Depan” dan “Tagihan Internet 55.000 Yen”, bagi saya blog (termasuk blog ini, Dekat.Page) merupakan alat, tool, sarana yang dapat digunakan untuk mencatat hal-hal yang ingin diingat saat ini maupun di masa depan.

Blog juga dapat menjadi sarana berbagi informasi dan inspirasi kepada pembacanya.

Selain manfaat tersebut, sekarang ini blog juga telah dikenal sebagai salah satu sarana memperoleh penghasilan, baik penghasilan utama maupun sampingan.

Potensi penghasilan tersebut bisa diperoleh dengan:

  1. menjual produk,
  2. memasang iklan baik Adsense dan jaringan periklanan lainnya ataupun iklan lepas,
  3. menulis review berbayar (paid review),
  4. menyediakan tempat untuk konten pihak lain (content placement),
  5. menjual jasa backlink,
  6. menyediakan tempat untuk penulis tamu (guest blogging),
  7. dan lain-lain.

Tentunya sebagaimana bisnis lainnya, tidak ada jaminan keberhasilan 100% bagi seseorang yang ingin mencari uang melalui blog, oleh karena itu ada blogger yang sukses meraih rezeki dari blog yang dikelolanya dan ada juga yang tidak atau belum berhasil.

Meski begitu peluang menikmati “gajian” atau profit dari blog tetap menarik minat banyak orang.

Hal ini terbukti dari animo atau antusiasme yang terlihat dalam diskusi-diskusi di grup-grup atau forum-forum blogger.

Selain menjadi “tempat” berbisnis, blog itu sendiri juga bisa menjadi portofolio dan juga sarana networking.

Misalnya saja, saya pernah dihubungi melalui email oleh sebuah perusahaan jasa penyedia data, informasi, dan analisis industri, menawarkan untuk bergabung setelah mereka menemukan blog tentang ekonomi yang saya buat.

Demikianlah, blog bisa memiliki manfaat yang besar bagi pemiliknya.

Nah, umumnya di berbagai belahan internet kita menjumpai saran agar pemilik blog membeli domain berbayar buat blog mereka, daripada menggunakan domain atau subdomain gratis seperti namablog.blogspot.com atau namablog.wordpress.com.

Sebenarnya membeli domain berbayar untuk blog bukanlah benar-benar suatu keharusan, terlebih jika alasan membeli adalah untuk bisa masuk ke halaman pertama hasil pencarian Google.

Karena terbukti beberapa blog yang muncul di halaman pertama pencarian Google adalah campuran blog yang menggunakan domain berbayar maupun blog yang menggunakan subdomain gratisan seperti blogspot.com dan wordpress.com, jadi baik domain berbayar maupun domain atau subdomain gratisan sama-sama punya kesempatan untuk masuk halaman pertama hasil pencarian Google.

Meski demikian, anjuran menggunakan domain berbayar tetap menjadi anjuran yang sangat layak dipertimbangkan, selain agar tampak lebih profesional, memiliki domain sendiri membuat suatu blog mudah diingat, misalnya kucing.com lebih mudah diingat daripada kucing.blogspot.com atau kucing.wordpress.com.

Well, dalam tulisan ini saya akan menyajikan tips terbaik bagi para pembaca tulisan ini yang ingin membeli domain untuk blog atau website mereka tetapi belum pernah melakukan sebelumnya.

Tulisan ini diperuntukkan bagi pengunjung blog ini yang ingin membeli domain berbayar, bukan yang ingin menggunakan domain atau subdomain gratisan.

(1) Domain bukan Sekadar Brand, melainkan juga bagaikan Sertifikat Tanah

(2) Benarkah Jangan Membeli Domain dan Menyewa Layanan Web Hosting di Tempat yang Sama?

(3) Apa yang Harus Dipastikan dalam Membeli Domain

(4) Rekomendasi Tempat Terbaik untuk Membeli Domain

(5) Kesimpulan: Tanyakan Seberapa Penting Sebuah Domain bagi Anda?

(1) Domain bukan Sekadar Brand, melainkan juga bagaikan Sertifikat Tanah

Domain blog atau website sebenarnya bukan hanya sekadar brand, melainkan juga bagaikan sertifikat tanah.

Saya akan berikan contoh analoginya.

Di tempat saya ngekos jaman kuliah dulu ada warteg terkenal bernama “Warteg X” (bukan nama sebenarnya), tempat saya membeli makan sehari-hari.

Kemudian perhatikan 2 skenario imajiner (tidak benar-benar terjadi) berikut.

Skenario 1:

Warteg X mendadak mengganti namanya menjadi “Warteg Z”.

Apa yang akan terjadi?

Tidak masalah, karena lokasi wartegnya tidak berubah. Dalam waktu singkat pelanggan setianya akan tahu jika Warteg X baru saja rebranding menjadi Warteg Z.

Skenario 2:

Warteg X terpaksa harus pindah mendadak karena ternyata sertifikat tanah tempat warteg tersebut berada bermasalah atau bersengketa. Warteg X harus angkat kali dari tempat itu sekarang juga.

Selain itu ternyata Warteg X juga harus mengganti namanya karena terjadi sengketa brand antar pemiliknya yang terjadi pecah kongsi karena perselisihan.

Apa yang akan terjadi?

Sebagian pelanggan setianya tidak menjumpai lagi keberadaan Warteg X di tempat biasanya, mereka juga tidak tahu Warteg X telah berganti nama.

Kedua skenario di atas memiliki kemiripan dengan domain blog atau website.

Saya punya blog dengan nama domain dekat.blog.

Suatu ketika saya ingin mengganti domain blog saya itu menjadi dekat.page, yaitu dari TLD .BLOG menjadi .PAGE.

Maka saya bisa mengarahkan (redirect) trafik yang biasanya mengarah ke domain dekat.blog agar pergi ke domain yang baru yaitu dekat.page.

Ini dimungkinkan dengan syarat saya masih memiliki domain lama saya (dekat.blog) untuk melakukan redirect.

Di blog tersebut saya tinggal sampaikan pengumuman bahwa saya baru saja mengubah nama domain blog saya dari dekat.blog ke dekat.page.

Sekarang coba Anda ketik dekat.blog di browser Anda, niscaya yang akan muncul adalah dekat.page. Inilah yang dimaksud dengan redirect.

Yang saya lakukan di atas serupa dengan skenario 1 Warteg X.

Nah bagaimana jika saya mendadak tidak punya akses ke domain yang lama (dekat.blog)?

Saya tidak akan bisa melakukan redirect ke domain yang baru (dekat.page). Sehingga semua trafik yang datang ke domain lama (dekat.blog) tidak bisa dialihkan ke domain yang baru!

Akibatnya bisa sangat merugikan, blog saya yang telah dibangun dengan susah payah akan dianggap oleh search engine seperti Google sebagai blog yang baru. Tulisan-tulisan yang awalnya masuk halaman 1 pencarian Google pun bisa jatuh peringkatnya.

Yang terjadi serupa dengan skenario 2 Warteg X.

Maka perlakukanlah domain bukan hanya sebagai branding melainkan juga layaknya sertifikat tanah, blog yang sudah banyak pengunjungnya namun kemudian berganti domain, jika tidak dilakukan redirect maka blog tersebut akan kehilangan trafiknya.

Alasan saya membuat tulisan ini karena saya pernah beberapa kali membaca keluhan di grup blogger dari orang-orang yang tertipu dalam membeli domain.

Mereka membeli domain untuk blog mereka dengan harga yang murah, begitu berjalan beberapa bulan ternyata domain mereka tidak terkoneksi lagi plus mereka juga tidak punya akses ke panel domain yang semestinya menjadi hak mereka.

Kasus-kasus semacam itu tentu merugikan, bukan hanya uang tetapi juga waktu dan energi, terlebih jika blog tersebut telah berhasil meraih trafik yang berlimpah. Jika domain seseorang mendadak tak bisa diakses maka dia akan rugi.

Risiko semacam itu bisa dihindari jika pembeli domain lebih berhati-hati dan melakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli domain.

(2) Benarkah Jangan Membeli Domain dan Menyewa Layanan Web Hosting di Tempat yang Sama?

Salah satu saran yang sering disampaikan di berbagai tulisan tips membeli domain adalah jangan membeli domain di tempat yang sama dengan menyewa web hosting.

Misal, jangan beli domain sekaligus menyewa layanan web hosting di provider A. Silakan beli domain di provider A, tapi web hostingnya sewa di tempat lain.

Alasannya, jika terjadi sesuatu yang buruk pada layanan web hosting A, misal mendadak bubar, maka seseorang akan kehilangan domain dan blog/website sekaligus.

Alasan lainnya, ketika seseorang kecewa dengan pelayanan web hosting A, bisa jadi dia akan dipersulit ketika akan memindahkan atau mentransfer domain anda ke provider lain.

Terkait saran tersebut saya berbeda pendapat, menurut saya saran tersebut malah bisa misleading alias bisa bikin keliru karena tidak menyentuh akar permasalahan sebenarnya.

Kasus di atas bisa saja terjadi tetapi akar masalahnya bukan karena membeli domain dan web hosting di tempat yang sama, melainkan karena sejak awal sudah salah memilih providernya.

Sebagaimana disampaikan oleh Matt Russell dari Namecheap:

“Saya tidak akan merekomendasikan Anda mempercayakan nama domain Anda pada perusahaan yang tidak Anda percaya. Percaya, bagaimanapun juga, adalah kata yang berperan penting di sini. Mengapa Anda bekerjasama dengan provider yang tidak Anda percaya pada kesempatan pertama? Anda ragu dengan mereka? Tidak yakin mereka akan bertahan lama? Ya sudah jangan pakai mereka sejak awal.” (“I wouldn’t recommend keeping your domain name with a company you don’t trust. Trust, however, is the operative word. Why are you working with a service provider you don’t trust in the first place? Have doubts? Not sure of their longevity? Don’t use them in the first place.“)

(Matt Russell dari Namecheap)

Fokusnya ada pada memilih provider yang kita percaya sejak awal.

Kalau belum apa-apa sudah punya perasaan tidak enak, “ini provider kok kayanya meragukan, bagaimana kalau domain saya nanti ditahan, bagaimana kalau dia bangkrut dan menghilang”, ya sudah sejak awal jangan memilih provider tersebut.

Permasalahannya adalah terkadang orang tergiur harga yang murah sehingga mengabaikan masalah trust itu. Ini bisa terjadi pada orang yang belum pernah membeli domain sebelumnya.

Saya sendiri di awal mula memutuskan memiliki domain berbayar di kisaran tahun 2010 silam, melakukannya tanpa riset terlebih dahulu.

Sekarang provider yang dulu pernah saya beli domainnya sudah hampir tidak tampak di permukaan dunia maya plus webnya tampak berantakan, tetapi saya sejak lama sudah memindahkan domain-domain saya dari provider tersebut.

Apa gunanya membagi dua, domain di provider A, web hosting di provider B, jika kedua provider tersebut tidak berhasil membuat kita merasa aman sejak awal, jika sejak awal kita merasa kedua provider tersebut sama-sama kurang meyakinkan?

Menggabungkan domain dan web hosting di tempat yang sama insya Allah akan aman-aman saja selama kita memilih provider yang terpercaya.

Sebaliknya, sekadar memilih provider domain dan web hosting yang berbeda tidak akan mengurangi risiko ketika kedua provider tersebut sejak awal tampak meragukan.

Di mana pun membeli domain dan menyewa web hostingnya, kuncinya satu: pilih di tempat yang terpercaya.

(3) Apa yang Harus Dipastikan dalam Membeli Domain

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipastikan atau terpenuhi saat membeli domain, semakin bisa memenuhi poin-poin ini insya Allah semakin aman:

  1. Pilihlah tempat yang legalitasnya jelas dan telah lama beroperasi. Jika ingin membeli ke perorangan, gunakan jasa rekening bersama (rekber) terpercaya.
  2. Wajib riset, baca berbagai review di internet.
  3. Wajib punya akses ke kode EPP (Extensible Provisioning Protocol). Ini adalah kode rahasia yang dibutuhkan oleh pemilik domain yang ingin mentransfer atau memindahkan domainnya ke provider lain. Tanyakan pada provider Anda bagaimana cara memperoleh kode ini. Seseorang tidak bisa disebut sebagai pemilik suatu domain jika dia tidak bisa mengakses kode ini.
  4. Wajib punya akses ke Whois domain serta memastikan mengisi dengan data yang benar (domain untuk pribadi isi dengan nama pribadi, domain untuk perusahaan atau sekolah diisi sesuai ketentuan). Intinya pembeli harus bisa mengisi data Whois domainnya. Berdasarkan ketentuan yang diterima secara global, pemilik domain adalah yang namanya tertulis di Whois domain tersebut. Jika seseorang punya domain dan menggunakannya buat blognya, tak peduli berapa lama dia merasa telah memilikinya jika yang tertulis di Whois adalah nama orang lain maka sejatinya domain itu bukan miliknya, melainkan milik orang yang namanya tertulis di Whois. Jika terjadi sengketa, kemungkinan dia tidak bisa memperoleh domain tersebut.
  5. Pastikan harganya wajar atau jika terlalu murah pastikan ada promo yang menyertai. Okelah harga sebuah domain .com dijual seharga 1 dolar saja (itu terlalu murah) karena promo di awal pembelian, perhatikan apakah setelah promonya habis harganya kembali normal. Beberapa provider menyediakan promo domain gratis bagi penyewa layanan web hosting mereka di paket tertentu. Pastikan semuanya wajar.
  6. Aktifkan notifikasi atau email pemberitahuan domain yang menjelang kadaluarsa. Pernah ada kasus ketika domain lupa diperpanjang maka domain tersebut mesti ditebus dengan harga berkali lipat. Adanya notifikasi diharapkan bisa mencegah hal tersebut terjadi.

(4) Rekomendasi Tempat Terbaik untuk Membeli Domain

Yang saya tulis di sini bukan berarti yang terbaik dari semua pilihan yang ada, melainkan hanya contoh yang saya tulis karena saya sendiri pernah mencobanya.

Anda bisa memilih provider lainnya selama memenuhi persyaratan yang disebutkan di bagian 3.

Baiklah, ini rekomendasi saya untuk tempat membeli domain terbaik:

  1. Namecheap
  2. Google Domain
  3. WordPress.com
  4. Rumahweb
  5. Idwebhost
  6. Domainesia

Sekali lagi saya sampaikan daftar di atas adalah berdasarkan pengalaman saya membeli domain, bukan berarti tidak ada lagi yang lebih baik dari keenamnya.

Dari 6 rekomendasi tersebut saat ini saya hanya menggunakan Namecheap dan WordPress.com saja sebagai provider domain saya. Saya sudah tidak menggunakan yang lainnya dengan alasan simplifikasi.

Contoh tempat lainnya yang bisa menjadi pilihan dalam membeli domain (tapi saya belum pernah beli domain disitu) misalnya Qwords dan Niagahoster.

Salah satu tempat mencari provider domain yang juga bisa diandalkan adalah di forum Diskusi Web Hosting (DWH) tepatnya di halaman Verified Provider. Tentunya tidak ada salahnya bagaimanapun juga untuk senantiasa bertanya-tanya terlebih dahulu kepada provider yang tercantum di sana jika Anda merasa ragu.

(5) Kesimpulan: Tanyakan Seberapa Penting Sebuah Domain bagi Anda?

Apakah seseorang perlu mencari tahu atau riset sebelum membeli domain dan memastikan poin-poin sebagaimana di tulisan ini atau tidak tentu sangat bergantung bagaimana orang tersebut menilai domainnya.

Jika baginya domain tersebut penting maka tentu akan mencari tempat yang terbaik untuk membelinya.

Sebagaimana orang tua yang sayang anak-anaknya tentu akan berhati-hati dalam memilihkan makanan atau sekolah.

Atau orang yang punya emas batangan lalu menyimpannya di lemari besi atau tempat yang aman, bukan ditebar di halaman rumah.

Sebaliknya, jika domain itu tidak dianggap penting, misalnya hanya sekadar iseng-iseng dan kalaupun hilang tidak mengapa, maka bebas membeli di mana saja.

Sekian tulisan ini, semoga bermanfaat.

Anda punya tips lainnya dalam membeli domain?

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s