Categories
Blogging

Menginap di Rumah Orang Jepang

Murid-murid yang melihat kami datang spontan menengok ke arah kami dan tersenyum. Saya melihat ada dua anak kembar yang kami temui kemarin di kuil. Mereka juga tersenyum. Lalu mereka bilang “ohaiyou!”, selamat pagi.

Murid-murid yang melihat kami datang spontan menengok ke arah kami dan tersenyum. Saya melihat ada dua anak kembar yang kami temui kemarin di kuil. Mereka juga tersenyum. Lalu mereka bilang “ohaiyou!”, selamat pagi.

Baru-baru ini saya menemukan file laporan kegiatan menginap di rumah orang Jepang (homestay) yang pernah saya ikuti di musim dingin tahun 2012 silam.

Program ini diselenggarakan oleh Hiroshima University yang ditujukan buat mahasiswa asing yang kuliah di kampus tersebut agar bisa berkenalan dengan budaya Jepang.

Waktu itu saya memang sedang memperoleh kesempatan buat kuliah di Jepang, di Hiroshima University.

Sebagaimana saya tulis di artikel berjudul “Manfaat Blog sebagai Pengingat dan Pesan untuk Masa Depan”, saya menjadikan blog ini sebagai sarana mengingat. Berhubung ini adalah kenangan yang ingin saya ingat, maka saya mengcopy-paste laporan tersebut di postingan kali ini dengan sedikit editan.

Semoga tulisan ini juga dapat dinikmati oleh pengunjung blog ini.

Saya akui ada satu kekurangan tulisan ini, yaitu tidak adanya dokumentasi foto. Bahkan foto featured di artikel ini bukan foto kegiatan tersebut, tetapi saya ambil di Jepang untuk memberi gambaran bagaimana rumah orang Jepang.

Seingat saya, saya pernah menyimpan file foto-foto kegiatan homestay ini di laptop saya. Sayangnya laptop itu sudah mati total. Rencananya sih, insya Allah, saya akan memberbaiki laptop itu dalam waktu dekat, minimal menyelamatkan data-data di dalamnya.

Kalau berhasil menemukan foto-foto kegiatan ini maka saya akan mengupdate tulisan ini dengan foto-foto tersebut.

(1) Terpilih sebagai Peserta Homestay Program, Yeah!

Saat saya melihat pengumuman program homestay di majalah dinding gedung Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University, saya segera mengirimkan aplikasi lamaran mengikuti program tersebut, tanpa banyak berfikir.

Ini adalah kegiatan yang saya incar jauh-jauh hari. Saya bahkan sudah memuatnya dalam Statement of Purpose yang saya kirimkan kepada seorang sensei (dosen), Takahashi-sensei, ketika mengajukan lamaran untuk menjadi mahasiswa bimbingannya di Hiroshima University.

Saya sampaikan kepada Takahashi-sensei bahwa selain saya ingin belajar di kampus yang memiliki slogan ‘Joy of Learning‘ di websitenya itu, saya juga berminat untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang memungkinkan saya mengeksplor Jepang lebih dalam, salah satunya adalah dengan mengikuti program homestay.

Maka ketika saya mendapati pengumuman bahwa saya terpilih menjadi salah satu aplikan yang mendapat kesempatan mengikuti homestay jelas saya sangat senang.

Saya bersama seorang teman asal Indonesia yang juga satu angkatan di IDEC, mas Sokhid, akan tinggal di rumah salah seorang warga di Shobara-shi, Hiroshima.

Orang baik hati yang menyediakan rumahnya kami singgahi selama tiga hari dua malam adalah Shintaku-san.

Beliau seorang pegawai negeri di Shobara-shi, Hiroshima.

Beliau tinggal bersama istri, ibu, dan dua ekor kucing. Kedua anaknya saat ini sudah dewasa dan tinggal di Tokyo dan Onomichi.

Dalam surat yang dikirimkannya kepada panitia homestay, tergambar kehangatan melalui kalimat yang ditulisnya:

I like to talk with foreign people. I welcome you!

(2) Berangkat Ke Shobara City, Hiroshima. Bertemu Shintaku-san!

Jumat sore, bis kami berangkat menuju Shobara-shi. Ada sekitar tiga belas aplikan (belum termasuk keluarganya) yang mengikuti homestay ini.

Dari ketiga belas aplikan tersebut, 5 orang berasal dari Indonesia. Sisanya dari Bangladesh, Peru, Laos, Tanzania, Cambodia, dan Vietnam.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan sekitar dua setengah jam. Namun waktu tidak terasa lama karena selama perjalanan saya dan mas Sokhid asyik berbincang-bincang dengan Hirakawa-sensei, koordinator program homestay ini.

Bis berhenti di sebuah kantor. Di situ beberapa keluarga yang rumahnya akan kami singgahi sudah tiba.

Mereka menyambut kami dengan ramah. Ada spanduk tulisan “Welcome to Shobara City”.

Segera kami mengambil kesempatan yang ada untuk berfoto.

Setelah puas mengambil foto, acara pembukaan pun dimulai. Di situ kami dipertemukan dengan host family kami. Semua terlihat ramah. Saya dan mas Sokhid pun bertemu dengan Shintaku-san.

Ia datang dengan mengenakan jas dan dasi. Kami cukup surprise ketika beliau menyambut kami dengan mengatakan, “apa kabar”. Spontan saya bilang, “wow, you can speak bahasa Indonesia!”. Beliau tersenyum.

Sebenarnya beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, namun untuk pertemuan ini beliau sudah mempersiapkan beberapa kata.

Kami segera berangkat menuju Winter Illumination, sebuah tempat wisata di Hiroshima.

Di mobil kami berkenalan lebih dekat lagi dengan Shintaku-san. Beliau menanyakan tentang makanan apa saja yang tidak bisa kami makan. Beliau menanyakan apakah kami bisa makan telur dan minum susu.

Setelah kami bilang kami bisa minum susu beliau segera menelpon ke rumahnya. Saya tidak begitu mengerti bahasa Jepang, tapi sepertinya tentang telur dan susu, karena terdengar tamago (telur) dan daijobu (ok).

(3) Berkunjung ke Winter Illumination. Bernuansa “Night of Galactic Railroad“, Syahdu!

Sampai di Winter Illumination saya merasa kagum, karena tempat itu penuh dengan lampu-lampu dan pencahayaan yang indah.

Tapi itu belum seberapa, karena segera setelah itu kami naik kereta wisata menuju tempat yang bisa dibilang taman utamanya.

Saat menaiki kereta tersebut, Shintaku-san dan salah satu keluarga lain yang pergi bareng dengan kami menjelaskan bahwa kereta itu terinspirasi dari salah satu film animasi Jepang yang populer 30 tahun yang lalu.

Saya bilang saya suka film-film Jepang, namun saya tidak tahu film dimaksud.

Namun tak lama, di kereta tersebut diputar sebuah lagu. Saya segera terkejut dan menanyakan apakah yang dimaksud adalah film “Night of Galactic Railroad” atau “Ginga Tetsudou no Yoru” karya Kenji Miyazawa.

Shintaku-san terlihat surprise ketika mendengar apa yang saya tanyakan. Lebih surprise lagi ketika saya bilang saya punya lagu yang sedang diputar itu di iPhone saya.

Saya pun menyetelnya, lagu itu berjudul “Hoshi Meguri no Uta” dan memperdengarkan lagu itu kepadanya.

Saat itu menjadi saat yang terasa luar biasa, seakan sedang berada di alam mimpi. Kereta yang saya naiki adalah kereta yang terinpirasi dari film yang bisa dibilang salah satu masterpiece di hati para penggemar film animasi Jepang.

Setelah kereta berhenti, kami segera mengambil foto. Kami berjalan menuju tempat utama di mana di situ ada hiasan lampu-lampu di sana-sini. Tempat itu menjadi terang oleh lampu warna warni.

Beberapa cerita lama atau dongeng Jepang ada di situ. Ada cerita tentang balas budi burung bangau ”Otsuru”, putri Kaguya, naga, dan cerita-cerita lainnya.

Shintaku-san terlihat surprise lagi ketika ternyata saya tahu tentang cerita-cerita itu. Belakangan saya diberitahu Shintaku-san bahwa seorang ibu dari keluarga yang ikut jalan bareng dengan kami juga turut merasa heran mengapa saya bisa tahu cerita-cerita itu.

(4) Menginap di Rumah Orang Jepang, seperti di Film!

Setelah berkeliling Illumination, kami pun menuju rumah Shintaku-san.

Rumahnya adalah rumah petani yang biasa saya lihat kalau saya sedang jalan-jalan di sekitaran Saijo, tempat saya tinggal selama kuliah di Jepang.

Selama ini saya penasaran bagaimana sih isi rumah-rumah itu. Maka saya senang ketika kami masuk ke rumahnya dan mendapati isinya persis seperti rumah-rumah orang Jepang yang saya lihat di TV.

Ada tempat sendal khusus tamu, kalau kita berkunjung kita mesti memakai sendal itu. Kemudian saya dan mas Sokhid diminta untuk melepas jaket dan memakai semacam mantel yang saya lupa namanya.

Setelah berkenalan dengan penghuni rumah yang lainnya kami segera makan malam ala Jepang.

Saya terkesan dengan makanan yang kami makan. Pertama, benar-benar seperti masakan Jepang yang ada di film. Kedua, makanan itu tampak alami dan sebagian berasal dari sawah sendiri.

Shintaku-san bilang, “Ambil lagi nasinya, jangan khawatir, saya punya banyak.” Saya segera makan dengan lahap.

Ada hal yang lucu. Shintaku-san memberikan kepada saya dan mas Sokhid salah satu makanan yang terbuat dari kedelai.

Beliau bilang, biasanya peserta homestay dari negara lain kurang bisa menikmati makanan ini. Tapi beliau tidak akan heran kalau saya dan mas Sokhid sebagai orang Indonesia akan menyukai makanan itu, karena makanan itu serupa dengan tempe! Hanya saja lebih lembut dan lengket.

Setelah makan, Shintaku-san memperlihatkan akun Facebook-nya dan memperlihatkan beberapa orang yang sudah pernah singgah di rumahnya. Saya dan mas Sokhid adalah orang kesekian yang berkunjung ke rumahnya dalam program homestay ini.

Beliau sendiri adalah koordinator homestay untuk program Hiroshima University Study Abroad (HUSA), program yang berbeda dengan yang sedang saya jalani. Adapun untuk program kali ini, beliau hanya menjadi penyedia rumah saja.

(5) Mandi di Suhu yang Dingin! Brrrrrrrr!

Setelah ngobrol-ngobrol hingga larut malam, tiba saatnya untuk tidur. Tapi sebelum tidur kami harus mandi dulu.

Oh, tidak!

Sebenarnya kalau boleh memilih, saya lebih suka langsung menuju futon (kasur Jepang) karena udaranya yang bagi saya teramat sangat dingin.

Dingin banget!

Namun demi menghormati tuan rumah, saya segera mengambil handuk yang sudah disediakan dan mandi.

Kamar mandinya mirip seperti yang ada di film-film Jepang. Ada bathtube dan shower. Lantainya terbuat dari ubin seperti di Indonesia. Ini berbeda dengan lantai kamar mandi di apato atau dorm yang saya tinggali yang terbuat dari semacam plastik.

Di kamar mandi dorm saya lantainya tidak terasa dingin, berbeda dengan di rumah Shintaku-san. Rumah Shintaku-san adalah rumah orang Jepang asli, pikir saya.

Setelah mandi, Shintaku-san menunjukkan tempat di mana kami bisa tidur. Sepertinya itu semacam ruang khusus untuk beribadah.

Beliau menanyakan apakah saya dan mas Sokhid tidak masalah jika harus tidur di situ.

Saya bilang, very ok, no problem. Saya menangkap ada semacam kehati-hatian di benak beliau, tampaknya tidak ingin ada satu hal pun yang membuat kami merasa tidak nyaman.

Saya dan mas Sokhid tidur di futon dengan selimut penghangat elektrik. Bantal yang kami pakai berisi butiran, entah beras entah pasir. Benar-benar terasa tidur ala Jepang klasik.

Untuk memberi gambaran betapa dinginnya suhu saat itu, d waktu subuh iPhone saya layarnya basah berembun.

Keesokan paginya, kami memberikan beberapa sovenir asal Indonesia, yaitu gantungan kunci berbentuk wayang, batik Solo (yang ternyata kekecilan), dan CD musik instrumental lagu-lagu Jawa Barat. Semuanya dibungkus dalam selembar furoshiki.

Tak lupa saya minta maaf karena kami tidak pandai dalam melipat furoshiki, kami sudah berusaha belajar dari internet namun hasilnya masih berantakan.

Sebagai balasan, beliau memberikan sebuah CD yang ternyata album studio yang sudah dikeluarkan oleh anaknya.

(6) Berkenalan Lebih Dekat dengan Kaoruko-san dan Obachan. Seperti di Film!

Di rumah Shintaku-san, selain dengan beliau, kami juga berinteraksi dengan ibunya, yaitu Takako-san yang kami panggil Obachan (nenek), serta isterinya Kaoruko-san.

Isteri beliau bekerja di rumah panti jompo swasta. Sedangkan Obachan, beliau berusia 76 tahun. Sudah cukup tua namun masih memiliki ingatan yang baik. Beliau bahkan menanyakan apa yang akan menjadi penelitian saya dan mas Sokhid selama di IDEC!

Obachan benar-benar mirip sosok seorang nenek di film-film Jepang, entah itu Doraemon, maupun film-film lainnya. Sosok nenek yang baik hati, dan selalu menyediakan apa yang menurutnya perlu.

Seperti misalnya, ia mengatakan kepada Shintaku-san dan Kaoruko-san bahwa barang kali saya merasa sakit perut sehingga perlu obat. Ia juga memberikan semacam penghangat yang bisa ditempel di baju ketika saya bilang “samui” atau dingin.

(7) Bertemu Anak Kembar yang Lucu!

Setelah makan, kami menuju kuil Buddha dan Shinto. Shintaku-san berdoa di kedua kuil tersebut.

Di kuil Buddha, kami bertemu dengan seorang wanita muda yang menjadi biksu. Kami berbincang-bincang dan berfoto bersama.

Shintaku-san bertanya apakah boleh seseorang berjalan di tengah orang muslim yang sedang beribadah.

Kami menjelaskan sambil memperagakan. Orang boleh lewat, asalkan di luar batas yang sudah ditentukan oleh orang yang sedang sholat, misalnya sajadah, atau sebuah benda apa saja untuk menandakan batas sujudnya.

Beliau berkata bahwa hampir sama dengan Islam, larangan lewat di depan orang yang sedang bersembahyang pun ada di dalam ajaran Buddha, hanya saja mutlak di larang meskipun ada tanda batas di depannya, sementara di Islam boleh lewat asal di luar batas.

Setelah itu, kami berpamitan dan menuju ke kuil Shinto. Sebelumnya saya sempat mencoba membunyikan sebuah bel besar di depan kuil, tentu setelah dipersilahkan oleh sang biksu.

Kami juga sempat berfoto bersama kedua anak kembarnya. Mereka lucu-lucu. Saya baru tahu bahwa biksu di Jepang boleh berkeluarga.

Selain ke kuil Shinto, kami mengisi hari dengan menyaksikan proses pembuatan jalan tol, makan di rumah makan Jepang, mengunjungi rumah keluarga yang lainnya, serta mengunjungi museum.

Tentang museum itu, bisa dibilang campuran dari berbagai tema, ada tema purbakala ada juga awetan hewan-hewan. Saya melihat lukisan sebuah cerita yang terkenal di Jepang, Princess Mononoke.

Saya diberitahu Shintaku-san bahwa hutan yang ada di cerita tersebut memang ada di sekitar Hiroshima dan Shimane. Wow!!

Dalam perjalanan pulang yang ditemani cahaya bulan purnama, saya termenung, asyik memandangi bukit penuh pohon di kiri kanan jalan. Ternyata itu hutan Mononoke Hime!

(8) Kuliah di Jepang? Nggak Lengkap tanpa Mengunjungi SD Jepang!

Keesokan paginya, hari Ahad, kami mengunjungi sebuah sekolah dasar, Kuchikita Elementary School.

Kepala sekolah SD ini adalah teman sekolah Shintaku-san dulu.

Hari Ahad itu sekolah memang sedang tidak libur. Hari liburnya bergantian antara Sabtu atau Ahad, tergantung situasi. Biasanya disesuaikan dengan pekerjaan para orang tua murid yang rata-rata adalah petani.

Tidak banyak murid di sekolah itu. Ini tidaklah mengherankan mengingat dari data yang saya peroleh dari Wikipedia, kepadatan penduduk di kota tersebut hanya 32 rumah tangga per kilometer. Memang jarak antar rumah penduduk relatif berjauhan.

Karena sedikitnya jumlah murid, dua kelas bisa digabungkan menjadi satu kelas, dengan satu orang pengajar.

Ini mengingatkan saya pada film yang sempat saya tonton sebelum saya berangkat ke Jepang, “Indonesia Tanah Surga Katanya”.

Hanya saja bila di film itu suasana sekolahnya tampak memprihatinkan, suasana sekolah di sini jauh dari kesan semacam itu. Bangunannya terlihat bagus, pakaian gurunya terlihat trendi.

Di sinilah saya melihat sebuah pemandangan yang membuat saya tertegun.

(9) Ohaiyou!!

Begitu melihat kami masuk ke dalam kelas, murid-murid pun menengok ke belakang (pintu kelas ada di belakang) dan tersenyum.

Saya melihat ada dua anak kembar yang kami temui kemarin di kuil. Mereka juga tersenyum. Lalu mereka bilang “ohaiyou!”, selamat pagi.

Sambutan yang terasa hangat. Tapi itu belum seberapa, hal yang benar-benar membuat saya tertegun adalah proses belajar di dalam kelas yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Seorang anak mengangkat tangannya dan bilang, “Sensei, wakarimasen..” (pak guru, saya tidak mengerti).

Well, saya teringat masa-masa sekolah saya, seingat saya sangat jarang — bila tidak dibilang belum pernah — saya melihat ada anak sekolah yang mengangkat tangan dan bilang bahwa ia belum mengerti.

Jaman saya sekolah dulu, biasanya kami malu untuk mengakui kalau kami belum paham, dan lebih memilih diam dan menunduk. Tapi tidak di sini. Di kelas ini ketidaktahuan adalah sesuatu yang perlu disampaikan.

Mendengarnya, pak guru memberi semangat dengan mengatakan sesuatu, “lakukan yang terbaik!” begitu kata Shintaku-san membisikkan maknanya. Guru lain yang mengantar kami menghampiri sang murid dan menepuk ramah bahu sang murid.

Tak lama ada seorang yang maju ke depan, menjawab soal, dan menjelaskan jawabannya. Ia menjelaskan dengan elegan.

Benar-benar elegan, dalam arti tidak tampak bahwa ia sebenarnya hanyalah seorang anak SD. Tapi di situ tampak seperti guru, namun terlihat alami, tidak dibuat-buat.

Kemudian banyak pula yang mengangkat tangan. Suasana partisipasi di kelas ini sangat terlihat jelas.

Saya benar-benar terkagum-kagum melihatnya sambil berfikir betapa tingkat percaya diri mereka sangat tinggi, sangat berbeda dengan masa-masa saya seusia mereka.

Kami diperbolehkan mengambil foto, namun harus dipastikan tidak menimbulkan suara. Kami sempat mengambil foto bersama.

Saya sangat takjub dengan kemampuan sang guru yang sepertinya seusia saya, dalam menciptakan keceriaan ketika peroses pengambilan foto.

Sang guru memberikan aba-aba yang membuat para murid kompak tersenyum tulus, tidak ada yang kaku atau dibuat-buat.

Setelah berpamitan dengan ibu kepala sekolah dan segenap staf pengajar, kami pulang kembali untuk berkemas-kemas dan bersiap menuju tempat penutupan.

(10) Penutupan, tetapi bukan yang Terakhir Kita Bertemu!

Karena harus bekerja, Kaoruko-san tidak bisa ikut saya dan mas Sokhid ke tempat penutupan, sehingga hanya Shintaku-san dan Obachan saja yang mengantar.

Di tempat penutupan kami kembali berkumpul. Kali ini saya melihat wajah para host family secara lebih jelas, karena pada acara penerimaan yang lalu kami bertemu dalam gedung yang pencahayaannya kurang.

Di situ terlihat keakraban antara kami para mahasiswa dengan keluarga host. Tidak tampak kecanggungan.

Di momen sambutan perpisahan, beberapa perwakilan mahasiswa menyampaikan bahwa mereka sudah menganggap keluarga host seperti keluarga mereka sendiri.

Hirakawa-sensei memberi tahu saya bahwa biasanya hubungan antara mahasiswa dan keluarga host terus terjalin, itulah sebabnya tidak mengherankan pernah ada salah seorang peserta yang dalam wisuda program doktornya dihadiri oleh keluarga hostnya, padahal acara homestay sudah berlangsung 5 tahun sebelumnya saat ia awal masuk program master.

Sambutan perpisahan dari keluarga host disampaikan oleh Shintaku-san.

Sejujurnya saya terharu ketika Shintaku-san dalam sambutan penutupannya menyampaikan kepada semuanya, bahwa tidak semua yang kita dengar di televisi atau berita itu benar. Kadang hanya sekadar streotype belaka. Setelah berinteraksi dengan dua orang Indonesia ini, saya (Shintaku-san) mengetahui beberapa hal tentang Islam yang ternyata berbeda dengan yang ia dengar sebelumnya.

Saya jadi teringat pertanyaan-pertanyaan beliau tentang apakah saya dan mas Sokhid bisa memelihara anjing, makan telur dan minum susu, menerima sovenir dari mereka, dan lain sebagainya.

Hati saya terenyuh mendengarnya, betapa banyak di antara kita yang dipisahkan oleh dinding tak terlihat, informasi yang tidak sempurna, yang sebenarnya bisa kita leraikan bila kita diberi kesempatan untuk saling berbagi.

(11) Ke Mana Shintaku-san dan Obachan, Mereka tak Terlihat?

Kami sudah berkumpul di dalam bis yang akan membawa kami kembali ke Saijo.

Saya dan mas Sokhid melihat ke arah jendela di seberang, tidak tampak Shintaku-san dan Obachan di tengah para host family yang melambaikan tangan.

Eh, ke mana ya mereka?

Tak lama kemudian ada yang mengetuk jendela bis, ternyata Shintaku-san dan Obachan ada di sisi bis yang lain. Ia melambaikan tangan. Sayonara!

Acara masih belum usai. Kami menuju ke Winter Illumination sekali lagi untuk mengikuti serangkaian acara untuk mengenal kebudayaan Jepang.

Di tempat tersebut, kami diajari cara membuat sapu kecil yang bisa digunakan untuk membersihkan komputer dari debu-debu.

Setelah itu kami juga mengunjungi sebuah rumah Jepang model lama. Kata Hirakawa-sensei, walau rumah itu tampak besar namun itu bukan istana. Itu hanyalah rumah petani kaya di masa lalu.

Di dalamnya kami disuguhi sajian makanan yang terbuat dari kacang merah. Saya tidak tahu namanya, yang jelas rasanya enak sekali.

Tiba saatnya pulang. Bagi saya ini adalah pengalaman yang sangat-sangat berharga. Saya bersyukur saya tidak melewatkan kesempatan ini ketika saya pertama kali melihat pengumuman program homestay.

Saya memang ingin lebih mengenal Jepang. Saya ingin membuka wawasan saya dan merasakan hal yang baru. Terlebih ini adalah hal yang saya impikan sejak kecil.

Ketika saya tanya kepada Hirakawa-sensei apakah saya boleh ikut lagi tahun depan, beliau tersenyum dan bilang tidak bisa.

Iqbal – 2012

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s