Categories
Recharge

Yang tidak Diajarkan di IPA dan Biologi

“Tetapi.. yang lapar kan perut saya, dan yang makan mulut saya, bukan mata atau hidung saya.”

“Tetapi.. yang lapar kan perut saya, dan yang makan mulut saya, bukan mata atau hidung saya.”

Beberapa orang berkumpul di restoran sebuah hotel untuk makan malam.

Mereka sedang mengikuti pelatihan selama beberapa hari dan disediakan kamar di hotel tersebut.

Saat mencicipi masakan yang disajikan, salah seorang mulai mengeluhkan rasa telur yang aneh. Kemudian ia juga mengomentari sayur yang juga terasa aneh.

Tak lama kemudian, ada juga yang mengomentari rasa masakan yang terasa biasa-biasa saja.

Akhirnya sebagian dari mereka meninggalkan restoran itu dan pergi mencari makan di luar hotel. Sekalian jalan-jalan.

Tinggallah dua orang yang tersisa.

“Apa kamu merasa ada yang aneh dengan masakan-masakan ini?”

“Hmm.. enggak. Kamu?”

“Saya juga enggak. Semua masakan yang disediakan di sini baik-baik saja menurut saya.”

“Saya sepakat.”

Kemudian mereka berdua pun menikmati makanan malam.

Dalam batin keduanya, mereka mencari-cari apa yang salah dengan masakan-masakan itu.

Sepertinya tidak ada yang aneh dan lagi pula masakan-masakan itu disediakan gratis sebagai fasilitas pelatihan.

***

Yang tidak Diajarkan di IPA dan Biologi“, apa maksud judul tersebut?

Apa judul ini clickbait buat memancing orang membuka artikel ini? Setengah ya, setengah tidak.

Dulu di pelajaran IPA dan Biologi saya diajari tentang peta lidah.

Itu adalah peta yang membagi area lidah dan sensor pengecap rasa di area tersebut. Menurut peta tersebut area depan lidah adalah area untuk mengecap rasa manis, area samping untuk rasa asam dan asin, sedangkan area belakang untuk rasa pahit.

Belakangan ini saya membaca teori lain yang bilang bahwa pembagian area rasa tersebut sebenarnya tidak tepat. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara masing-masing area tersebut.

Well, bukan ruang lingkup blog ini untuk membahas teori-teori tersebut, saya akan menyerahkan urusan tersebut kepada ahlinya IPA dan Biologi.

Saya hanya tertarik dengan hal ini: bahwa di pelajaran IPA dan Biologi, kita telah mempelajari bahwa lidah merupakan indra pengecap, bahwa di dalamnya terdapat syaraf-syaraf, sensor, dan sebagainya.

Tetapi.. kita belum belajar bahwa dengan meningkatkan kemampuan mentolerir rasa dan meningkatkan rasa syukur maka hidup kita akan menjadi sedikit lebih mudah.

Tentu saja hal itu tidak diajarkan di IPA dan Biologi.

Dalam cerita di atas, jelas tidak masalah pergi jalan-jalan mencari makan di tempat lain. Bukan itu yang menjadi perhatian saya.

Yang menjadi perhatian saya ada 3 hal.

Pertama, apa yang dilakukan seorang muslim ketika menghadapi makanan yang dianggap tidak enak?

Jawabannya: boleh meninggalkannya atau tidak memakannya, tetapi jangan mencelanya.

“Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dalam cerita di atas, jika merasa tidak ingin menikmati masakan yang sudah disajikan tersebut, akan lebih baik jika tidak banyak berkomentar, namun langsung saja pergi mencari makan di luar.

Tidak masalah berkomentar jika masakan tersebut terlihat keparahannya, seperti kotor, bau, basi, dan sebagainya. Ini tentu diperlukan untuk perbaikan pelayanan hotel ke depannya agar meningkatkan kualitasnya.

Akan tetapi dalam cerita di atas setidaknya ada 2 orang yang merasa masakan tersebut sebenarnya baik-baik saja.

Memang sih tidak istimewa, tetapi biasa saja, bukan tidak enak. Bisa jadi hanya sekadar ekspektasi saja yang tidak terpenuhi.

Kedua, jika seseorang mampu meningkatkan batas toleransinya terhadap masakan yang ada di hadapannya, maka kehidupannya akan menjadi lebih mudah. Dan tentunya membantunya belajar bersyukur.

Saya teringat cerita Ustadz Susanto — semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya — salah seorang guru saya, beliau bercerita tentang pengalamannya ketemu seorang pemulung sampah di tempat penampungan sampah.

Sang pemulung sedang asyik melahap nasi bungkus, di hadapan gunungan sampah. Sementara udara bau sampah terasa menyengat, di tambah lagi lalat-lalat yang berseliweran.

Tetapi sang pemulung tetap terlihat asyik menikmati makanan di hadapannya.

Ustadz Susanto pun takjub, kemudian beliau bertanya ke sang pemulung.

“Pak, kok Bapak bisa menikmati nasi bungkus di tempat seperti ini?”

Kemudian apa jawaban sang pemulung?

“Yang melihat gunungan sampah ini mata saya, yang menghirup bau sampah hidung saya.

Tetapi.. yang lapar kan perut saya, dan yang makan mulut saya, bukan mata atau hidung saya.”

Masya Allah, jawaban yang tak terduga.

Ketiga, sebagai orang tua, saya tentu berharap anak saya akan mudah makannya. Tidak kebanyakan memilih-milih. Tidak susah makan.

Tapi sebagai orang tua saya tidak bisa berekspektasi kepada anak saya jika saya sendiri tidak memberi contoh.

Jika saya tidak memberi contoh makan sayur, makan nasi, makan apa yang ada, kenapa saya mesti berharap anak saya akan melakukannya?

Baiklah, sekian tulisan kali ini. Semoga bisa dinikmati dan bermanfaat.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

2 replies on “Yang tidak Diajarkan di IPA dan Biologi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s