Categories
Recharge

Saat Kenangan Indah Tinggal Kenangan

Keseruan dan kehangatan tak jarang hanya terjadi pada masa lalu. Kita ucapkan terima kasih atas masa lalu yang indah.

Keseruan dan kehangatan tak jarang hanya terjadi pada masa lalu. Kita ucapkan terima kasih atas masa lalu yang indah.

(1) But why?

Baru-baru ini saya dapat kabar yang mengejutkan dan tidak saya harapkan, tentang sebuah keluarga.

Terakhir kali bertemu mereka, mereka masih bersama, keluarga yang menyenangkan.

Akan tetapi baru-baru ini saya mendapat kabar kalau mereka sudah resmi berpisah.

Saya pun mengetik pesan di notes hape, sebuah pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada mereka. Campuran ingin tahu sekaligus sedih.

Saya ingin meminta penjelasan kepada salah seorang dari mereka.

Saya benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya.. ingin lebih memahami tentang hidup ini.

Akan tetapi pada akhirnya.. saya memutuskan menghapus pesan itu. Tidak jadi saya kirim.

Biarlah ini menjadi misteri untuk saya.

(2) Laskar Pelangi Seru pada Masanya

Salah satu novel best seller di masa lalu, Laskar Pelangi, berhasil membuat pembacanya terbawa suasana kehidupan masa kecil yang seru. Konon katanya diangkat dari kisah nyata.

Jika memang benar kisah nyata, di mana tokoh-tokoh itu sekarang?

Well, sosok-sosok mereka yang diklaim tokoh sungguhan di dunia nyata pernah dimunculkan. Tetapi tidak seperti yang saya bayangkan.

Saya membayangkan ada semacam reuni atau pertemuan rutin kelompok masa kecil tersebut, secara cerita masa kecil mereka itu diceritakan seru banget.

Tetapi tidak, yang ada adalah kisah hidup masing-masing dengan beragam kesibukan masing-masing. Bahkan katanya ada yang masuk rumah sakit jiwa.

Apakah kisah itu benar-benar sungguhan atau bukan, saya tidak tahu. Tetapi bukankah kenyataan hidup ini sering kali seperti itu?

Dulu seseorang yang saya kenal pernah bikin kelompok bermain dengan anak-anak tetangga, sesama anak perempuan yang usianya berdekatan. Kelompok itu diberi nama (tapi saya lupa namanya).

Tahun demi tahun berlalu, kedekatan kelompok tersebut mulai pudar. Dan kini bertahun kemudian, semuanya sudah benar-benar punya kehidupan masing-masing.

Tak pernah satu kali pun ada ketemuan, bahkan group Whatsappnya pun tidak ada.

Hidup berlalu, demikian pula dengan kisah mereka.

(3) “Kita Main Salju yuk setelah Kiamat!”

Seperti yang saya ceritakan di tulisan-tulisan yang lain di blog ini, saya pernah kuliah di Jepang.

Dari beberapa orang yang saya kenal di sana, ada beberapa keluarga Indonesia yang saya sering mampir ke apato (apartemen)-nya.

Biasanya saya numpang ngopi bareng, numpang tidur kalau lagi suntuk, dan mengajak main anak-anak mereka di koen (taman).

Saya paling suka ngajak main catchball. Catchball adalah main lempar tangkap bola baseball.

Itu permainan legendaris orang Jepang. Di kampus pun mahasiswanya bermain catchball.

Selain buat berolahraga, permainan ini juga untuk mempererat hubungan orang tua dan anak. Itu sebabnya di lapangan-lapangan tidak jarang ada orang tua dan anaknya yang bermain catchball.

Saya ajak teman-teman Indonesia saya, tapi tidak ada yang berminat main catchball “err.. nggak ah, dingin Bal”. Sementara saya tidak punya banyak teman Jepang karena saya kuliah di fakultas internasional yang lebih banyak mahasiswa asingnya.

Sedangkan anak-anak ini tidak mengenal kata dingin (ataupun panas). Jadi saya main dengan mereka.

Suatu ketika salah seorang anak bilang begini kepada saya sebelum dia pulang duluan kembali ke Indonesia karena mesti persiapan masuk kelas 6 SD agar tidak sulit adaptasinya:

“Aku ingin bermain terus sama om Iqbal.. Nanti kita main terus, kalau perlu setelah kiamat kita main bareng!”

Hei, hei.. kataku dalam hati sambil menjitak virtual. Saya menyebutnya janji salju, “Yuki no Yakusoku“, karena saat itu lagi musim dingin bersalju.

Ketika saya lulus kuliah, saya menyempatkan diri main ke rumahnya di Yogya, memenuhi janji tersebut.

Sejak saat itu saya mampir ke rumahnya tiap kali ada urusan di Yogya. Kadang saya mengantar-jemput dia dan adiknya ke sekolah mereka, dia baru masuk SMP sedangkan adiknya masih SD.

Akhir tahun 2019 lalu saya ada kerjaan di Yogya dan mampir ke rumahnya. Tapi situasi sudah sedikit berbeda, dia sudah mulai SMA dan punya kehidupan yang baru bersama teman-temannya.

Kemudian saat waktu maghrib tiba, saya jalan kaki menuju ke masjid sambil melewati jalan yang sunyi dan gelap, sendirian.

Hey, sepertinya masa yang baru telah tiba, batin saya sambil mengenang masa lalu yang indah.

Terima kasih atas masa-masa menyenangkan selama di Jepang, ucap saya dalam hati sambil tersenyum.

(4) Saya Tahu, Teman.. Semoga Engkau Baik-Baik Saja

Di kesempatan lain, saya dapat kabar mengejutkan, salah seorang teman baik saya mengalami masalah.

Menyisakan pertanyaan bagi saya dan teman-teman yang merasa telah mengenalnya.

Kami merasa telah mengenalnya, tetapi apakah itu hanya bayangan yang kami lihat?

Yang jelas kami punya kenangan baik bersamanya.

Saat bertemu dengannya saya tidak ingin membahas masalah yang ditemuinya sekarang, saya pura-pura belum tahu.

Saya tidak ingin dia pergi menjauh padahal kita pernah punya cerita masa lalu yang indah.

(5) People Change (Orang Berubah) yang Tetap Menyatukan Hanyalah..

Kehidupan ini dinamis, waktu berlalu orang pun bisa berubah.

Jalan cerita berubah, itu hal yang sangat bisa terjadi.

Orang datang dan pergi silih berganti, membawa kenangan baik, buruk, atau biasa saja.

Adapun kenangan baik, tak jarang hanya menjadi kenangan.

Keseruan dan kehangatan tak jarang hanya terjadi pada masa lalu.

Kita ucapkan terima kasih atas masa lalu yang indah.

Meski begitu saya percaya ada satu hal yang dapat menyatukan kita meski kita telah melalui jalan hidup masing-masing. Itu adalah: saling mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ya, saya punya teman-teman yang telah berpencaran tetapi kami tetap merasa dekat secara hati, meski tidak sedekat saat kami masih berdekatan baik itu di sekolah, kampus, maupun afiliasi lainnya.

Mereka adalah teman-teman yang meski berbeda-beda aktivitasnya namun disatukan oleh harapan kepada Allah dan saling mengingatkan kepada Allah agar sama-sama masuk ke surga. Apapun kondisi masing-masing kini.

Cukuplah perpisahan demi perpisahan itu terjadi di dunia.

Ustadz Adi Hidayat pernah suatu waktu bilang dalam ceramahnya, jika kelak di surga para jamaah pengajiannya tidak menemukannya, tolong cari beliau.

Orang datang dan pergi. Orang berubah. Yang tetap bersama hanyalah orang-orang yang dipertemukan kembali di surga.

Iqbal – Dekat.Page

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, jogging, berenang, senang belajar hal esensial. Dekat.Page adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s